Benarkah Uber Alami kerugian Sampai Rp 10.7 Triliun ?

0
989
uber
Copyright ©Kompas

Benarkah Uber Alami kerugian Sampai Rp 10.7 Triliun ?

Indowarta.com – Tahun 2016 ini sepertinya bukan tahun kesuksesan Uber. Pada akhir kuartal ketika lalu, layanan ride-sharing itu dikatakan mengalami kerugian hingga 800 juta dollar AS atau setara dengan Rp 10, 7 triliun. Hal ini disampaikan oleh seorang sumber dalam yang enggan untuk disebutkan namanya. Jika benar, maka informasinya beririsan dengan informasi yang terendus pada agustus 2016 lalu.

saat itu, tepatnya pada saat Uber memaparkan laporan kuartal kedua kepada para investor, Gautam Gupta, Head of Finance Uber mengumumkan bahwa kerugian yang dialami semakin menggunung. Faktor utamanya yaitu subsidi yang masih terus diberikan Uber untuk mitra pengemudinya. Belum lagi dengan promo-promo yang gencar dilakukan untuk menarik minat masyarakat.

Angka kerugiannya bersifat privat untuk publik, karena Uber belum mebuka saham perdananya atau IPO. Namun beberapa orang dalam telah membocorkan hal tersebut kepada awak media. Mereka mengatakan bahwa Uber tengah mengalami kerugian.

Benarkah Uber Alami kerugian Sampai Rp 10.7 Triliun ?
Copyright ©Kompas

Uber merugi 520 juta dollar AS atau setara dengan Rp 6,9 triliun pada kuartal pertama 2016 dan merugi sebesar 850 juta dollar AS atau setara dengan 11,3 triliun pada kuartal kedua 2016. Apabila ditambah dengan kerugian di kuartal tiga, maka total kerugiannya selama Sembilan bulan di 2016 lebih kurang sekitar 2,2 miliar dillar AS setara dengan Rp 29,4 triliun. Kerugian tersebut belum termasuk bunga, pajak, depresiasi dan juga amortisasi.

Di tengah kerugian yang sedang melanda, pendapatan Uber sebenarnya mengalami kenaikan dan sesuai dengan target. Perusahaan layanan ride-sharing yang berasal dari San Francisco itu mendapatkan 3,76 miliar dollar AS atau setara sengan Rp 50,3 triliun selama beroprasi Sembilan bulan di tahun 2016.

Hingga tutup tahun nanti, penghasilan Uber diprediksi bisa mencapai 5,5 miliar dollar AS atau sekitar Rp 73,7 triliun. Dengan pendapatan yang terus merangkak naik sesuai dengan target, nilai valuasi Uber pun kuat.

Jika ada yang ingin membeli perusahaan layanan ride-sharing ini, setidaknya diperlukan kocek sebesar 69 miliar dollar AS atau setara Rp 924 triliun. Nilai itu bahkan lebih besar dibanding dengan gabungan General Motors Co. dan Twitter Inc.

Jadi sebenarnya kerugian itu timbul karena besar pasak daripada tiang. Pendapatan yang semakin meningkat tidak mampu untuk mengakomodir pengeluaran yang juga semakin membeludak. Karena armada semakin banyak, transaksi yang dibuat setiap hari juga semakin besar, tetapi subsidi yang masih diberlakukan ikut melonjak.

Menurut sumber dalam, total transaksi dari pemesanan kendaraan oleh penumpang selama Sembilan bulan yaitu 14,2 miliar dollar AS atau Rp 190 triliun. Ketika di oangkas untuk membayar mitra pengemudi, pemasukan tersisa 3,7 miliar dollar AS. Pemasukan itu masih belum dikurangi biaya operasional dan kebutuhan perusahaan yang lainnya.

Pihak perusahaan enggan untuk berkomentar terkait dengan kabar kerugian bisnisnya. Bocoran yang berasal dari sumber dalam pun masih belum dapat dipercaya sepenuhnya.

Baca Juga Kaleidoskop : Inilah 7 Suara Tololet Paling Bagus yang Berhasil Dihimpun Oleh BMC Dalam Sebuah Video Youtube !

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here