Berita Terkini: Seperti Inikah Peta Gurita Korupsi Di Reklamasi Teluk Jakarta ?

0
1768
Berita Terkini: Seperti Inikah Peta Gurita Korupsi Di Reklamasi Teluk Jakarta ?
Copyrigt©VIVA

Seperti Inikah Peta Gurita Korupsi Di Reklamasi Teluk Jakarta ?

Indowarta.com – Dalam beberapa tahun terakhir ini, KPK menyerukan adanya indikasi aliran uang haram di wilayah sumber daya alam. Akan tetapi beberapa kali KPK melancarkan OTT di ranah tersebut tampaknya tidak membuat paha pihak terkait merasa jera.

Dimasa kepemimpinan Agus Rahardjo Cs, misi pembersihn tindak pidana korupsi masih dilakukan. Salah satunya terlihat ketika seorang anggota DPRD DKI Jakarta Muhammad Sanusi digiring ke KPK terkait dengan kasus reklamasi Teluk Jakarta.

Sanusi tertangkap tangan telah menerima uang sebesar Rp 2 miliar dari Ariesman Widjaja yang saat itu menjadi bos perusahaan property ternama, PT Agung Podomoro Landuang itu disampaikan oleh  Ariesman melalui anak buahnya, Trinanda Prihantoro.

Berita Terkini: Seperti Inikah Peta Gurita Korupsi Di Reklamasi Teluk Jakarta ?
Copyrigt©Mongabay

Kasus reklamasi Teluk Jakarta ini sangat mencuri perhatian publik. Apalagi saat itu banyak nama-nama tenar yang mencuat ke permukaan  yang disebut-sebut terlibat dalam arus korupsi itu. Diantaranya yaitu Sugianto Kusuma alias Aguan hingga Sunny Tanuwidjaja.

Aguan yang menyandang status sebagai bos dari PT Agung Sedayu Grup itu beberapa kali ‘mampir’ ke KPK. Bahkan anak kandungnya juga turut dicecar berbagai macam pertanyaan oleh penyidik KPK.

Tidak kalah mnegejutkan, Sunny juga dipanggil oleh penyidik KPK untuk menjelaskan kasus Reklamasi Teluk Jakarta itu. Saat itu dia disebut sebagai staf khusus dari Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Sunny pun disebut turut andil membahas tentang dua rancangan Peraturan Daerah yaitu RTRKSPJ dan RZWP3K.

Berbagai spekulasi muncul ketika KPK meminta surat cegah ke Ditjen Imigrasi agar mencegah Aguan, Richard dan Sunny pergi ke luar negeri. Apalagi saat iu KPK kerap memberikan sinyal bahwa ada tersangka dalam kasus Reklamasi Teluk Jakarta itu.

Bahkan, Wakil Ketua KPK Laode M Syarif saat itu sampai mengatakan bahwa kasus itu termasuk dalam kategori grand corruption. Syarif juga mengibaratkan kasus itu sebagai gurita dengan banyak tentakel.

“Jadi jangan lihat dari nilai suapnya yang Rp 1 miliar itu, tapi betul grand corruption karena tentakelnya banyak,” ujar syarif.

Publik menunggu gertakan dari pimpinan KPK itu menjadi nyata, tetapi nyatanya pengusutan kasus ini melempem.

Di pengadilan, penuntut umun KPK hanya mengajukan tuntutan untuk Ariesman selama 4 tahun penjara. Hingga akhirnya Ariesman hanya divonis hukuman 3 tahun penjara. Angka yang dianggap masih jauh dari harapan.

Pengusutan kasus tentang reklamasi Teluk Jakarta yang melempem ini semakin diperparah ketika Ahok kembali mengajukan 2 raperda yang sarat dengan permainan untuk kembali dibahas di DPRD DKI Jakarta. Tetapi KPK memberi syarat bila raperda itu tetap dilanjutkan.

Baca Juga GNPF MUI Malah Minta Jokowi dan Jusuf Kalla Diperiksa Terkait Kasus Makar? 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here