Berita Terkini: Sekolah Gembira Untuk Anak-anak Korban Longsor Ponorogo!

0
564
Copyright©Liputan6

Sekolah Gembira Untuk Anak-anak Korban Longsor Ponorogo!

Indowarta.comLongsor Ponorogo yang terjadi pada Sabtu 1 April 2017 menimpa Desa banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo. Akibat bencana tersebut banyak warga setempat yang mengalami trauma. Di antaranya yakni mereka terdapat anak-anak.

Hal itulah yang kemudian mendorong para relawan untuk membuka sekolah gembira bagi anak-anak korban bencana tanah longsor berusia 4 hingga 12 tahun. Dibangunnya sekolah tersebut untuk memulihkan trauma anak-anak.

Zuli Dwi Prasetyo, selaku relawan Sekolah Gembira mengatakan, “Selama ini setiap terjadi bencana yang paling rawan dengan trauma adalah anak-anak. Kita melihat peluang ini dan membuat posko di rumah milik bapak Kepala Desa.”

Sekolah Gembira
Copyright©Republika

Pemulihan trauma dalam Sekolah Gembira sendiri dilakoni oleh Zuli bersama dengan 20 orang temannya dari Santana alias Santri Tanggap Bencana dari Pondok Pesantren SPMAA Lamongan. Sekolah tersebut dilakukan pada pukul 08.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB yang diselangi waktu istirahat selama tiga jam yakni pukul 11.00-15.00 WIB.

Sekolah tersebut didirikan lantaran anak-anak enggan untuk masuk sekolah seperti biasanya pasca terjadi Longsor Ponorogo itu. Tercatat ada sekitar 15-20 anak-anak yang mengikuti kegiatan pemulihan trauma yang berisi kegiatan belajar dan bermain di sekolah tersebut.

Tema yang diambil oleh Zuli dan rekan-rekannya tersebut berbeda dari setiap harinya. Zuli juga mengatakan bahwa dirinya tidak membatasi relawan pengisi egiatan di Sekolah Gembira tersebut. banyak relawan yang berasal dari mahasiswa, Polri, dan ibu-ibu dari suatu komunitas yang bekerja sama untuk mendampingi anak-anak.

Akan tetapi para relawan tersebut di larang untuk memaksa anak-anaka untuk mengikuti kegiatan sekolah tersebut. hal itu karena banyak warga yang terdampak longsor Ponorogo yang memilih untuk mengungsi ke rumah sanak saudaranya dan tidak tinggal di pengungsian.

Anak-anak juga diberikan asupan makanan tambahan seperti susu dan buah. Hal itu sengaja dilakukan sebagai bentuk pengurangan rasa trauma dengan cara memberikan pengalaman yang seru serta menyenangkan ditambah dengan makanan yang disukai oleh anak-anak.

Kegiatan sekolah tersebut rupanya mendapatkan respon yang positif. Hal itu terbukti dari Pemkab Ponorogo yang meminta relawan untuk terus melanjutkan program tersebut hingga anak-anak tidak mengalami trauma lagi.

Akibat Longsor Ponorogo tersebut, puluhan warga dinyatakan tewas lantaran tertimbun material. Rumah warga pun juga hampir rata karena timbunan material tersebut. Selain itu hewan ternak juga turut mati akibat bencana itu.

Baca Juga Berita Terkini: Butuh Ternak, Pengungsi Korban Longsor Ponorogo Berharap dapat Bantuan Uang Tunai! 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY