Cerita Miris Pratama yang Kena Imbas Peraturan Larangan Perkawinan Sekantor!

0
221
ilustrasi
Copyright©Search

Cerita Miris Pratama yang Kena Imbas Peraturan Larangan Perkawinan Sekantor!

Indowarta.comLarangan perkawinan sekantor rupanya banyak dialami oleh pegawai di Tanah Air. Ada banyak korban dikarenakan larangan perkawinan karyawan satu kantor tersebut. Aturan perkawinan dengan teman sekantor diatur dalam Pasal 153 Ayat 1 huruf f UU Ketenagakerjaan yang berbunyi:

Baca Juga “Apa Itu Mekanisme Antykythera? Simak Penjelasannya Berikut Ini!”

Pengusaha dilarang melakukan pemutusan hubungan kerja dengan alasan pekerja/buruh mempunyai pertalian darah dan/atau ikatan perkawinan dengan pekerja/buruh lainnya di dalam satu perusahaan, kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahan, atau perjanjian kerja bersama.

Dirasa ada yang aneh dengan aturan tersebut, 8 karyawan menuntut keadilan ke  Mahkamah Konstitusi (MK). Rupanya tidak hanya para penggugat saja yang menjadi korban lantaran aturan larangan perkawinan sekantor yang diterapkan sejumlah perusahaan Indonesia tersebut.

ilustrasi 2
Copyright©Search

Seperti yang diceritakan oleh Pratama, ia merupakan salah satu pegawai perusahaan plat merah yang mengisahkan berakhirnya hubungan antara dirinya dengan sang kekasih karena adanya aturan dari perusahaan.

Pratama mengatakan jika kisah cintanya terhambat karena 200 juta, ia mengungkapkan harus membayar penalti sebesar Rp 200 juta ke tempat dimana dirinya bekerja jika melangsungkan pernikahan dengan rekan satu kantornya.

“(Saya) bertemu dengan tambatan hati di masa pelatihan, merupakan satu fase di mana penolakan sekeras apapun adalah mustahil untuk dilakukan,” ucap Pratama pada Selasa (16/5).

“Mengerti akan konsekuensi bahwa melakukan pernikahan adalah satu barang mahal, pada awalnya kami mengurungkan niat. Namun apalah daya niat itu, jika memang hati terus memaksa,” imbuhnya.

Baca Ini “Berita Terkini: Firza Husein Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Baladacintarizieq!”

Pratama dan sang kekasih tidak pernah memiliki niat untuk melanggar peraturan larangan perkawinan sekantor dari perusahaan. Tetapi mereka berdua berniat menyatakan jika ingin menunaikan ibadah dengan melanjutkan ke jenjang pernikahan dari jalinan asmara mereka.

“Membentuk satu keluarga sederhana yang bahagia adalah impian yang telah kami rajut. Namun sungguh malang nasib masa depan kami itu, harus kami tunda,” ucap Pratama.

Pratama mengatakan jika memahami adanya kekhawatiran perusahaan terkait adanya kecurangan jika pasangan bekerja di tempat yang sama. “Namun, bukankah fraud dan kecurangan terjadi karena ada niat dan kesempatan?” imbuhnya tanpa memberi informasi bagaimana kelanjutan dari kisah cintanya dengan pujaan hati.

Berbagai kisah lain mengenai larangan perkawinan sekantor juga banyak disampaikan. Ada banyak masalah yang harus dihadapi pasangan mengenai masalah tersebut. Ada juga kebijakan perusahaan yang mengambil kebijakan dengan memutasi salah satunya yang akan menikah ke divisi atau kantor lain yang masih satu manajemen.

Kasus-kasus seperti itu yang membuat 8 orang karyawan menggugat UU Ketenagakerjaan ke Mahkamah Konstitusi (MK). Mereka adalah Jhoni Boetja, Edy Supriyanto Saputro, Airtas Asnawi, Syaiful, Amidi Susanto, Taufan, Muhammad Yunus, dan Yekti Kurniasih.

Mereka berdelapan meminta Pasal 153 Ayat 1 huruf f UU Ketenagakerjaan dibatalkan sepanjang frase ‘kecuali telah diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahan, atau perjanjian kerja bersama’.

Pasal dalam UU Ketenagakerjaan itu menjadi sumber larangan karyawan swasta menikah dengan sesama karyawan dalam satu perusahaan. Pasal itu menjadi dasar hukum bagi perusahaan membuat perjanjian kerja yang melarang sesama karyawan menikah. Menurut pemohon, hubungan percintaan antara manusia tidak bisa dibendung.

BACA JUGA Berita Terkini: Kak Emma Sudah Akui Chat Audio dengan Firza Husein di Baladacintarizieq!

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY