Bom Kampung Melayu Disebut Rekayasa, Begini Tanggapan Kapolri!

0
953
Bom Kampung Melayu
Copyright©Viva

Bom Kampung Melayu Disebut Rekayasa, Begini Tanggapan Kapolri!

Indowarta.com –  Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menanggapi sejumlah netizen yang berkicau soal teror bom Kampung Melayu yang dianggap hanya rekayasa. Tito menganggap orang-orang yang berkata seperti itu tidak memahami budaya terorisme yang kian berkembang, tak hanya di Indonesia namun juga di belahan dunia lainnya.

“Kalau ada yang katakan rekayasa, paham jaringan ini. Tapi teman-teman intelijen tahu betul bagaimana dinamika kelompok ini, mana yang aktif dan mana yang tidak,” ujar Tito Karnavian, Jumat 26 Mei 2017.

Seperti yang telah diketahui, lima orang dilaporkan tewas akibat bom Kampung Melayu tersebut. Tiga diantaranya merupakan anggota kepolisian. Sedangkan dua lainnya diduga sebagai pelaku bom bunuh diri. 12 orang lainnya dilaporkan mengalami luka serius.

Tito menegaskan, mustahil jika polisi mengorbankan nyawanya sendiri hanya untuk rekayasa suatu kejadian ledakan bom. Bahkan sutradara sehebat apapun tidak akan memu merekayasa kasus seperti itu.

kapolri
Copyright©Kompas

Tito sendiri cukup lama berkecimpung menahgani kasus terorisme, mulai dari menjadi Kepala Densus 88 Antiteror hingga menjadi Kepala Badan Nasional Penanggulangan terorisme (BNPT). Sehingga ia memahami betul ancaman ini sudah lama dan menjadi fenomena global.

Selanjutnya ia membandingkan dengan serangan teror bom Kampung Melayu dengan serangan bom di kawasan MH Thamrin pada awal tahun 2016 lalu. saat itu ada aksi heroic polisi yang kejar-kejaran dengan pelaku dan juga terjadi baku tembak. Semua orang dapat menyaksikan secara langsung, baik di lokasi maupun melalui tayangan di televisi.

Sementara itu, hanya beberapa orang yang melihat langsung insiden pengeboman di halte Kampung Melayu. Bagi yang tidak ada di lokasi, mungkin akan menganggap ada keganjilan. Terlebih lagi, kelompok teroris saat ini makin canggih.

Terlebih lagi, saat ini kelompok teroris semakin canggih. Mereka memiliki pendukung yang memiliki jaringan dengan kemampuan mengelola media sosial.

Menurut Kapolri, perang melawan terorisme yang sebenarnya adalah bagaimana memenangkan simpati publik. Jika dukungan melawan teroris muncul, maka kelompok mereka tidak akan menang. Sebaliknya, jika masyarakat simpatik pada teroris, maka kelompok tersebut merasa memiliki dukungan untuk melakukan aksi susulan.

Baca Juga Berita Terkini: Begini Bahayanya Menyebarkan Foto Korban Bom Kampung Melayu!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here