Akhirnya Agama Gajah Mada dan Majapahit yang Sebenarnya Diungkap!

0
1619
Copyright ©Sidomi

Akhirnya Agama Gajah Mada dan Majapahit yang Sebenarnya Diungkap!

Indowarta.com – Diketahui belakangan ini Mahapatih Gajah Mada dan Majapahit tengah menjadi topik yang hangat diperbincangkan di media sosial berkat tulisan Arif Barata di situs portal-islam.id.

Bagaimana tidak, tulisan yang mengutip dari buku “Kasultanan Majapahit: Fakta Sejarah yang Tersembunyi” karya Herman Janutama itu menyatakan bahwa Gajah Mada beragama Islam dan Majapahit merupakan kesultanan.

Sontak tulisan tersebut menuai beragam reaksi dari masyarakat. Namun umumnya mereka malah mencibir dan menertawakan. Kendati demikian, banyak pihak yang mencibir sebenarnya juga tidak bisa menunjukkan dasar argumennya.

Kini akhirnya Agana Gajah Mada dan Majapahit yang sebenarnya diungkap. Dalam diskusi di Kementerian Pendidikan dan kebudayaan pada Kamis 22 Juni 2017 kemarin, arkeolog mengatakan bahwa jika seseorang tak memahami sejarah dan arkeologi, sangat mungkin mereka memiliki kesimpulan yang salah tentang Majapahit.

Copyright ©Kompas

Hasan Djafar yang merupakan Arkeolog Universitas Indonesia mengatakan, artefak berbau Islam dari masa Majapahir memang banyak ditemukan.

Di makan Troloyo, ada 100-an nisan dengan hiasan tulisan Arab. Nisan itu berasal dari masa 1203-1533 Masehi. Artinya, ada sejumlah nisan yang berasal dari masa sebelum berdirinya Majapahir pada 1292. Ini berbeda dengan pandangan umum yang menyebutkan Islam baru muncul pada akhir Kerajaan.

Meski ada artefak berbaui Islam, arkeolog tetap berkeyakinan bahwa kerajaan Islam pertama di Nusantara adalah Samudra Pasai, bukan Majapahit. Koindengan tulisan Arab, dan nisan dengan kalimat syahadat tidak cukup menjadi bukti keislaman kerajaan yang berpusat di Trowulan itu.

Agus Aris Munandar, Arkeolog dan penulis buku “Catuspatha: Arkeologi Majapahit” mengungkapkan, keyakinan bahwa Majapahir merupakan kerajaan Hindu-Budha didasarkan pada sumber-sumber arkeologi yang sebenarnya memiliki peringkat tersendiri.

Sumber peringkat yang paling bisa dipercaya adalag prasasti yang sezaman. Lalu prasasti yang terkait dengan prasasti sezaman itu. Sumber berikutnya adalah data arkeologis berupa monument, fitur, dan artefak bergerak. Hal lain yang bisa jadi sumber arkeologi adalah berita asing, legenda, mitos, dongeng, hingga pendapat para ahli.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here