Tere Liye Mengeluh, Pengamat Sebut Pajak untuk Kaum Penulis Buku Begitu Kejam!

0
369
Pajak Online
Copyrigth©klikbekasi

Tere Liye Mengeluh, Pengamat Sebut Pajak untuk Kaum Penulis Buku Begitu Kejam!

Indowarta.com – Direktur Eksekutif Center of Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo pada akhirnya memberikan tanggapan terkait dengan tautan yang sudah dituliskan oleh seorang penulis terkenal, Tere Liye yang berbicara terkait dengan penetapan pajak untuk profesi seorang penulis.

BACA JUGA : Begini Hitung Hitungan Pajak yang Dikeluhkan Oleh Tere Liye!

Dari isi tautan itu, Prastowo menilai kalau Tere Liye menuliskannya dengan emosional, serta akan mengambil keputusan untuk menarik seluruh bukunya dari toko buku dan menjualnya secara online.

Alasan dari keputusan Tere Liye adalah karena pajak yang dibebankan kepada profesi penulis dirasa sangat berat, sedangkan pemerintah dianggap tidak peduli dalam merespons masukan dan keluh kesah. Dia mengungkapkan, kompleksitas bisnis perbukuan dengan kebijakan dan aturan pajak merupakan hal yang berbeda sehingga tidak dapat dicampur aduk walau tak bisa dipisahkan.

“Kata orang pinter ‘correlation but not causation’. Saya bahas dulu yang pertama, aspek pajak seorang penulis. Penulis adalah profesi yang diakui di administrasi pajak sebagai pekerja bebas, maka boleh menghitung pajak dengan Norma Penghitungan Penghasilan Neto,” ujar dia dalam rilisnya, Jakarta, Rabu (6/9/2017).

Pajak Online
Copyrigth©klikbekasi

Menanggapi tautan Tere Liye tersebut, Prastowo mengatakan kalau penulis berpenghasilan kurang dari Rp 4,8 milar pertahun dapat mengunakan ini, sebesar 50% penghasilan neto diakui (deemed) baru dikurangi dengan PTKP dan wajib pajak dengan tariff yang berlaku. Yang menjadi masalah adalah pada PPh Pasal 23 terkait penulis buku dengan potongan 15 persen atas jumlah bruto.

BACA JUGA : Bantah Tudingan Tere Liye, Ditjen Pajak Akan Diminta Temui Penulis!

“Memang kejam ya? Saya setuju. Umumnya jatah royalti penulis itu 10% dari penjualan, cukup kecil. Jika tarif 15% berlaku untuk rentang penghasilan kena pajak antara Rp150 juta-Rp250 juta, maka sang penulis setidaknya setara mendapat penghasilan jual buku setara Rp1,5 miliar-Rp2,5 miliar. Andai satu buku harganya Rp100 ribu, maka lebih kurang harus menjual 15 ribu eksemplar. Ini jumlah yang fantastis,” pungkasnya.

Sehingga dengan ini para penulis lebih membayar pada akhir tahun. Oleh karena itu pihaknya setuju jika tarif PPh pemotongan royalty kepada penulis turunkan. Sehingga akan lebih adil, masuk akal, dan membantu cash flow penulis.

“Namun, saya tak mau gegabah menuding pemerintah abai. Saya pernah berbagi keprihatinan soal ini dengan Mas Goenawan Mohamad, Ayu Utami, Dee Lestari, dan lainnya, bertekad mengadvokasi. Maka saya ingat betul, di awal 2015 secara langsung saya menyampaikan ini kepada Menkeu Bambang Brodjonegoro dan beliau menyambut baik. Sayangnya, perubahan ketentuan harus melalui revisi UU PPh melalui DPR. Ya, masih panjang dan lama,” ungkap dia.

BACA JUGA : Daftar Tunggangan Besi yang Dimiliki Raffi Ahmad Dan Tunggakan Pajak yang Harus Dibayar!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here