Harga Emas dan Perak Melambung Usai Jeda Konflik AS-Iran Turunkan Harga Minyak
Harga emas dan perak kembali melambung tinggi setelah adanya jeda konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang menyebabkan harga minyak mentah turun drastis ke level terendah dalam sepekan. Kondisi ini memengaruhi sentimen pasar dan ekspektasi inflasi menjelang pengumuman suku bunga Federal Reserve (The Fed) pekan ini.
Harga Emas dan Perak Menguat Seiring Harga Minyak Turun
Berdasarkan data dari Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin (27/7/2026) ditutup di US$4075,16 per troy ons, mengalami kenaikan sebesar 0,58%. Tren positif ini memperpanjang penguatan emas hingga 0,7% selama dua hari terakhir. Meski sedikit melemah pada Selasa pagi (28/7/2026) pukul 06.42 WIB menjadi US$4072 per troy ons, harga emas masih menunjukkan stabilitas yang kuat.
Hal serupa juga terlihat pada harga perak. Pada Senin, harga perak ditutup di US$58,41 per troy ons, naik 0,85%, memperpanjang kenaikan hingga 1,3% dalam dua hari terakhir. Namun, pada Selasa pagi harga perak sedikit turun 0,02% ke US$58,39 per troy ons.
Penurunan Harga Minyak Meredakan Kekhawatiran Inflasi
Penurunan harga minyak mentah menjadi faktor utama yang mendorong penguatan logam mulia tersebut. Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman September anjlok 8,7% menjadi US$88,36 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) AS turun 7,5% ke US$82,61 per barel.
"Yang terutama kita lihat adalah harga minyak turun dari di atas US$100 pekan lalu menjadi sekitar US$90, dan itu mendorong ekspektasi suku bunga menjadi lebih rendah," ujar Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, dikutip dari Refinitiv.
Penurunan harga minyak ini datang setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa AS sedang melakukan pembicaraan yang baik dengan Iran, sehingga kedua negara menghentikan sementara aksi saling serang yang sudah berlangsung dua pekan. Jeda konflik ini meningkatkan harapan akan penyelesaian diplomatik yang dapat membuka kembali jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Harga energi yang turun membantu meredakan tekanan inflasi serta menurunkan ekspektasi suku bunga tinggi yang berkepanjangan. Meski emas biasanya merupakan aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga cenderung menekan daya tarik logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil langsung.
Menanti Keputusan Suku Bunga The Fed dan Data Inflasi AS
Pasar keuangan kini fokus pada keputusan suku bunga yang akan diumumkan The Fed pada Rabu mendatang. Berdasarkan data CME FedWatch, terdapat peluang 62% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kali ini, namun peluang kenaikan kembali pada September mencapai 82%.
Selain itu, investor juga menanti data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat untuk Juni yang dirilis Kamis. Data PCE merupakan indikator inflasi utama yang menjadi acuan The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya.
Sementara itu, dari sisi permintaan, data Departemen Sensus dan Statistik Hong Kong menunjukkan impor bersih emas China melalui Hong Kong pada Juni meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode sama tahun lalu, meskipun volume masih turun lebih dari 5% dari bulan sebelumnya.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, jeda konflik antara Amerika Serikat dan Iran tidak hanya mendinginkan ketegangan geopolitik, tetapi juga memberikan sentimen positif bagi pasar komoditas, khususnya logam mulia dan minyak. Harga minyak yang turun tajam telah meredakan kekhawatiran inflasi global, sehingga mempengaruhi ekspektasi kebijakan moneter ketat dari The Fed.
Namun, situasi ini juga menghadirkan ketidakpastian yang cukup besar. Jika pembicaraan antara AS dan Iran gagal berlanjut, ketegangan bisa kembali memanas dan mengerek harga minyak serta inflasi, yang pada akhirnya dapat menekan kembali harga emas dan perak. Sebaliknya, jika perdamaian berlanjut, harga energi yang stabil berpotensi memperkuat pertumbuhan ekonomi global sekaligus menekan volatilitas pasar.
Pelaku pasar harus terus memantau perkembangan diplomasi AS-Iran, data inflasi AS, dan keputusan suku bunga The Fed dalam beberapa minggu ke depan. Kondisi ini akan sangat menentukan arah harga logam mulia dan minyak, serta implikasinya terhadap inflasi dan ekonomi global secara luas.
Untuk informasi lebih lengkap dan update terkini, Anda dapat membaca sumber asli di CNBC Indonesia dan berita terkait di CNBC Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0