Negosiasi Selat Hormuz Terhambat: Tuntutan Kompensasi Trump Jadi Penghalang

Aug 11, 2026 - 21:31
 0  1
Negosiasi Selat Hormuz Terhambat: Tuntutan Kompensasi Trump Jadi Penghalang

Selat Hormuz yang merupakan jalur vital pelayaran minyak global masih menjadi sumber ketegangan setelah negosiasi pembukaan kembali jalur ini terhambat akibat tuntutan kompensasi dari Presiden AS Donald Trump dan persyaratan konsesi dari Iran.

Ad
Ad

Iran Tetapkan Syarat Keras untuk Buka Kembali Selat Hormuz

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa Teheran menghendaki sejumlah konsesi dari Amerika Serikat sebelum mereka mau membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran komersial. Persyaratan tersebut mencakup:

  • Penghentian blokade pelabuhan Iran
  • Pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini membebani Iran
  • Pembebasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri
  • Pembayaran kompensasi atas kerusakan dan kerugian akibat perang

"Pihak AS harus menghentikan dan memperbaiki tindakannya yang ilegal dan merusak," ujar Baghaei, menandaskan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada terpenuhinya tuntutan tersebut.

Meski pembicaraan antara Iran dan Oman dinilai "lancar dan konstruktif" dengan kesepakatan peta jalur pelayaran, masih ada sejumlah persoalan teknis yang belum terselesaikan. Pembahasan juga meliputi aspek navigasi aman, perlindungan lingkungan, layanan maritim, dan pemberantasan kejahatan di kawasan tersebut.

Iran sebelumnya bahkan berencana mengenakan biaya kepada kapal-kapal komersial yang melintas, namun hal ini ditolak keras oleh AS yang tidak ingin Teheran memonopoli akses jalur strategis tersebut.

Trump Membalas dengan Tuntutan Kompensasi dari Iran

Menanggapi tuntutan Iran, Presiden Trump menyatakan bahwa Washington juga akan menuntut kompensasi dalam setiap negosiasi perdamaian. Trump menuntut pembayaran atas kerusakan selama 50 tahun terakhir, termasuk kematian warga sipil dan anggota militer AS di kawasan Timur Tengah.

"Jika ada kerusakan yang harus dibayar, saya pikir Iran harus membayar kerusakan tersebut," ujar Trump.

Trump juga mengaitkan Iran dengan kerusakan dan kematian yang terjadi di berbagai negara seperti Lebanon, Suriah, Yaman, dan Gaza yang akan dimasukkan sebagai bagian tuntutan dalam perundingan.

Selain itu, Trump meminta kompensasi untuk keluarga 17 pelaut AS yang tewas dalam serangan terhadap kapal USS Cole pada 2000, meskipun serangan tersebut secara historis dikaitkan dengan kelompok al-Qaeda, bukan Iran.

Perkembangan ini terjadi setelah Iran lebih dulu menuntut penghentian sanksi dan kompensasi, sehingga posisi negosiasi menjadi semakin rumit dan memperpanjang ketidakpastian pembukaan kembali jalur pelayaran vital ini.

Akibatnya, harga minyak mentah sempat naik sekitar 5% pada penutupan perdagangan Senin (10/8) karena prospek tercapainya kesepakatan semakin menipis.

Perbedaan Klaim Kondisi Selat Hormuz

Presiden Trump menyebutkan bahwa ranjau yang dipasang Iran di Selat Hormuz telah dibersihkan dan jalur tersebut sudah terbuka untuk lalu lintas komersial. Ia menegaskan AS memiliki kendali penuh atas jalur tersebut.

"Kami telah membersihkan seluruh selat dari ranjau," kata Trump. Namun, klaim ini mendapat perbedaan pendapat dari berbagai pihak.

Wakil Presiden AS JD Vance menambahkan bahwa Iran memang memasang banyak ranjau sejak perang dimulai dan AS tengah menyiapkan mekanisme untuk menjamin keselamatan pelayaran, termasuk pembersihan ranjau dan memastikan komitmen Iran tidak menyerang kapal komersial.

Namun, laporan dari Reuters menyatakan bahwa Selat Hormuz masih secara efektif tertutup sejak perang dimulai, dan pembukaan kembali jalur ini sangat bergantung pada kesepakatan politik dan keamanan antara Iran, AS, dan sekutunya.

Tekanan Ekonomi AS Terhadap Iran Meningkat

Selain tekanan militer dan politik, AS juga meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran melalui operasi "Operation Economic Fury". Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyebut kebijakan ini sebagai padanan finansial dari kampanye militer yang termasuk ancaman sanksi terhadap negara manapun yang membeli minyak Iran atau bertransaksi dengan sistem perbankan Iran.

Menurut data resmi, pengiriman minyak Iran turun drastis dari rata-rata 1,8 juta barel per hari sebelum perang menjadi kurang dari 500.000 barel per hari baru-baru ini. IMF memperkirakan ekonomi Iran menyusut 5,4 persen, sementara inflasi tahunan di Iran mencapai 88,6 persen.

Para ahli seperti Richard Nephew dari Columbia University menilai bahwa tekanan ekonomi AS belum memiliki tujuan yang jelas, sementara Juan Zarate, mantan penasihat keamanan nasional AS, menilai sanksi dan blokade memberi Washington pengaruh finansial, namun hasilnya memerlukan waktu dan bergantung pada seberapa jauh AS mau memperketat sanksi.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kondisi negosiasi yang semakin rumit ini mencerminkan ketegangan geopolitik yang mendalam antara Iran dan AS yang tidak hanya soal kontrol jalur pelayaran penting, tetapi juga perebutan pengaruh ekonomi dan politik di kawasan Timur Tengah. Tuntutan kompensasi yang saling bertolak belakang menunjukkan bahwa kedua negara masih jauh dari titik temu yang realistis untuk perdamaian jangka panjang.

Konflik ini berpotensi memperpanjang ketidakpastian pasar minyak global dan berdampak pada harga energi dunia yang bisa memicu inflasi lebih tinggi secara global. Selain itu, dinamika ini akan menjadi perhatian utama menjelang pemilihan paruh waktu AS, di mana isu keamanan energi dan stabilitas kawasan Timur Tengah menjadi faktor politik penting.

Pembaca disarankan untuk terus mengikuti perkembangan negosiasi ini karena hasilnya akan sangat menentukan stabilitas ekonomi dan keamanan global, khususnya terkait pasokan minyak dan navigasi internasional. Informasi lebih lengkap dapat dibaca pada sumber asli detikNews dan laporan terkait dari Reuters.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad