Naskah Proklamasi Tulisan Soekarno Pernah Dibuang, Ini Kisah dan Lokasinya Kini

Aug 18, 2026 - 11:30
 0  3
Naskah Proklamasi Tulisan Soekarno Pernah Dibuang, Ini Kisah dan Lokasinya Kini

Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Presiden Soekarno pernah berada di ambang kehancuran. Setelah rumusan Proklamasi selesai diketik, kertas konsep yang berisi tulisan tangan Soekarno itu sempat dibuang begitu saja. Namun, berkat kepekaan seorang wartawan bernama B.M. Diah, naskah bersejarah tersebut berhasil diselamatkan dan kini menjadi bagian penting dari arsip nasional Indonesia.

Ad
Ad

Lokasi dan Proses Perumusan Naskah Proklamasi

Kisah penyelamatan naskah ini bermula pada dini hari tanggal 17 Agustus 1945 di rumah Laksamana Tadashi Maeda, Jakarta. Beberapa jam sebelumnya, Soekarno dan Mohammad Hatta kembali dari Rengasdengklok, tempat mereka dibawa demi menghindari tekanan Jepang. Bersama Achmad Soebardjo, mereka kemudian menyusun rumusan Proklamasi di rumah Maeda.

Proses perumusan ini juga diawasi oleh sejumlah pemuda yang merasa memiliki peran penting dalam kemerdekaan, salah satunya adalah B.M. Diah, yang saat itu bekerja sebagai wartawan di kantor berita Domei.

Dibuangnya Naskah Tulisan Tangan dan Peran B.M. Diah

Setelah rumusan selesai, Soekarno menuangkannya dalam bentuk tulisan tangan. Konsep tersebut kemudian dibacakan dan disepakati bersama. Namun, naskah tulisan tangan ini belum menjadi dokumen resmi yang akan dibacakan pada pagi harinya.

Selanjutnya, Sayuti Melik ditugaskan mengetik ulang naskah tersebut. Versi ketikan ini kemudian mengalami beberapa perubahan dan akhirnya ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta sebagai dokumen resmi Proklamasi.

Ironisnya, setelah versi ketikan dianggap final, konsep tulisan tangan Soekarno justru diabaikan dan bahkan dibuang. Namun, keberadaan B.M. Diah di lokasi menjadi penyelamat naskah tersebut. Ia menyadari bahwa kertas yang dibuang itu bukan sembarang konsep, melainkan dokumen yang sangat berharga.

"Naluri saya sebagai wartawan mengambil itu untuk diumumkan lewat suratkabar," ujar Diah mengenang.

Peran Ganda B.M. Diah Pada Malam Proklamasi

Tugas B.M. Diah tidak hanya berhenti pada penyelamatan naskah. Sebelum meninggalkan rumah Maeda, Mohammad Hatta memberikan perintah khusus kepadanya untuk menyebarkan berita Proklamasi melalui jaringan kantor berita Domei.

"Saudara yang bekerja di Kantor Domei, kawatkan sedapat-dapatnya berita Proklamasi itu ke seluruh dunia yang dapat dicapai," tulis Hatta dalam memoarnya Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi (2011).

Diah kemudian menjalankan perintah tersebut dengan mengirimkan kabar kemerdekaan melalui jaringan pers dan radio. Ia bahkan membuat konsep pemberitaan tentang Proklamasi dan membawanya ke percetakan Siliwangi untuk diperbanyak.

Penyerahan Naskah dan Nilai Historisnya

Selama puluhan tahun, naskah tulisan tangan Soekarno itu tetap disimpan oleh B.M. Diah. Baru pada tanggal 19 Mei 1992, ia menyerahkannya secara resmi kepada Presiden Soeharto. Dokumen ini kemudian diserahkan kepada Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) untuk dijaga dan dilestarikan.

Saat ini, naskah tulisan tangan tersebut menjadi salah satu dokumen penting yang merekam proses lahirnya Proklamasi Kemerdekaan. Selain naskah ketikan yang dibacakan pada 17 Agustus 1945, konsep tulisan tangan ini memperlihatkan bagaimana teks tersebut pertama kali dirumuskan.

Kejadian ini menjadi pengingat penting bahwa dokumen bersejarah tidak selalu dihargai pada masanya. Jika B.M. Diah tidak mengambil dan menyimpan naskah itu, Indonesia mungkin tidak memiliki warisan berharga tersebut.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kisah penyelamatan naskah Proklamasi tulisan tangan Soekarno ini memperlihatkan betapa rapuhnya proses sejarah yang tampak monumental. Dokumen yang kini dianggap sakral dan bernilai tinggi pada awalnya hampir hilang begitu saja karena dianggap tidak penting. Ini menggambarkan betapa pentingnya peran individu seperti B.M. Diah yang memiliki kesadaran sejarah dan keberanian bertindak.

Lebih jauh, kejadian ini mengingatkan kita bahwa arsip dan dokumen sejarah bukan hanya tentang benda mati, tapi merupakan saksi bisu perjuangan bangsa. Kehilangan satu dokumen saja bisa mengubah bagaimana sejarah itu dipahami dan diwariskan ke generasi berikutnya.

Kedepannya, masyarakat dan pemerintah harus terus meningkatkan kesadaran akan pentingnya pelestarian dokumen sejarah. Apalagi di era digital saat ini, risiko kehilangan data juga besar jika tidak ditangani dengan serius. Simpanan arsip seperti yang dilakukan B.M. Diah harus menjadi inspirasi agar warisan sejarah Indonesia tetap utuh dan dapat dipelajari oleh semua.

Untuk membaca artikel asli dan mendalami kisah ini, silakan kunjungi CNBC Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad