Millennials dan Gen Z Kuasai Pekerjaan AI Bergaji Tinggi yang Sedang Berkembang Pesat

Aug 18, 2026 - 23:00
 0  2
Millennials dan Gen Z Kuasai Pekerjaan AI Bergaji Tinggi yang Sedang Berkembang Pesat

Meski generasi muda menghadapi tantangan di pasar kerja umum, Millennials dan Gen Z justru berhasil menembus segmen pekerjaan kecerdasan buatan (AI) yang tumbuh sangat pesat dan menawarkan gaji tinggi. Hal ini terungkap dalam studi terbaru yang dirilis LinkedIn pada Selasa, yang menganalisis data perekrutan termasuk usia, gender, dan pendidikan para pekerja AI di platform mereka.

Ad
Ad

Millennials dan Gen Z Mendominasi Pekerjaan AI Bergaji Tinggi

Menurut Kory Kantenga, Kepala Ekonomi Amerika LinkedIn, narasi bahwa Gen Z sulit mendapatkan pekerjaan memang benar secara umum, dengan tingkat pengangguran untuk usia 22-27 tahun mencapai 7,2% pada Juni 2026. Namun, di sektor AI, keadaan justru berbeda. "Millennials dan Gen Z mengambil keuntungan dari pasar kerja AI dengan sangat kuat", ujarnya.

Data LinkedIn menunjukkan bahwa lebih dari dua pertiga pekerja yang dipekerjakan untuk posisi individual contributor sebagai Forward Deployed Engineer dan AI Engineer adalah Gen Z, dengan gaji median tahunan masing-masing sebesar $199.000 dan $166.000. Sedangkan Millennials mendominasi posisi Head of AI dengan 60% dari perekrutan baru dan gaji median sebesar $236.000.

Lonjakan Permintaan dan Gaji Pekerjaan AI

LinkedIn melaporkan bahwa jumlah lowongan pekerjaan AI meningkat 14% antara 2023 dan 2024, dan melonjak 156% antara 2024 dan 2025. Tren ini menunjukkan percepatan pesat dalam permintaan tenaga kerja AI yang berkualitas.

Gaji median pekerja AI mencapai $177.000 per tahun, lebih dari dua kali lipat gaji median pekerjaan non-AI yang sekitar $80.000. Kantenga menjelaskan, "Perusahaan harus menaikkan gaji secara signifikan untuk menarik talenta terbaik di bidang AI karena banyak investasi besar dilakukan saat ini." Selain itu, pekerjaan AI biasanya memerlukan tingkat pendidikan tinggi; sekitar 91% pekerja AI memiliki gelar sarjana atau lebih, dan hampir separuh posisi senior memiliki gelar pascasarjana.

Ketimpangan Gender di Pasar Kerja AI

Meski peluang dan gaji tinggi tersedia, perempuan masih kurang terwakili dalam pekerjaan AI. Hanya 26% dari perekrutan di bidang AI adalah perempuan, jauh dibandingkan 50% di bidang non-AI. Untuk posisi teratas seperti Head of AI, hanya sekitar 20% perekrutan yang perempuan, dan hanya 10% perempuan yang menduduki posisi CEO atau pimpinan teknologi di perusahaan AI, menurut studi Februari 2025 oleh Russell Reynolds.

Kantenga menegaskan, "perempuan kurang terwakili di setiap tingkat senioritas dalam industri AI". Hal ini menimbulkan tantangan besar bagi kesetaraan gender di sektor teknologi yang sedang berkembang cepat ini.

Tips untuk Mendapatkan Pekerjaan AI

Untuk para mahasiswa dan pekerja muda yang ingin menembus dunia AI, Kantenga merekomendasikan mengambil jurusan ilmu komputer sebagai jalur utama. Meski tingkat pengangguran lulusan ilmu komputer sempat naik hingga 7% pada 2024, gaji awal mereka tetap paling tinggi dibanding jurusan lain, sekitar $81.535.

Selain pendidikan, pengalaman praktis dengan data sangat penting. Kantenga menekankan, "Anda harus mampu mempersiapkan dan menggunakan data secara efektif, bukan hanya memahami teori." Mereka yang belum banyak pengalaman bisa membangun portofolio melalui proyek AI sampingan untuk menunjukkan kemampuan dan passion mereka.

Persepsi Beragam Terhadap AI di Kalangan Muda

Tidak semua pekerja muda merasa yakin terhadap AI. Beberapa melihat AI sebagai peluang karir yang besar, sementara yang lain khawatir pekerjaan mereka bisa tergantikan teknologi ini. Kantenga menyimpulkan, "ada dua sisi perasaan: optimisme dan kekhawatiran."

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, studi LinkedIn ini mengungkapkan bahwa AI menjadi sektor yang membuka peluang luar biasa bagi generasi muda, terutama yang memiliki pendidikan dan keterampilan tepat. Hal ini sekaligus menandai pergeseran penting dalam pasar tenaga kerja di mana teknologi mendominasi peluang kerja bergaji tinggi.

Namun, ketimpangan gender dan kebutuhan pendidikan tinggi dapat memperburuk kesenjangan sosial dan ekonomi jika tidak diantisipasi dengan program inklusif dan pelatihan yang merata. Pemerintah dan pelaku industri harus bekerja sama menyediakan akses pendidikan dan pelatihan AI yang lebih luas bagi perempuan dan kelompok yang kurang terwakili.

Ke depan, pergerakan cepat di pasar kerja AI ini berpotensi mendorong kenaikan upah bagi tenaga kerja terampil, sekaligus menuntut adaptasi dari tenaga kerja tradisional. Generasi muda yang mampu menyesuaikan diri dan mengembangkan kompetensi AI akan menjadi pemenang di era digital ini.

Untuk informasi lebih lengkap dan data resmi, Anda dapat membaca laporan lengkap melalui situs CNBC dan mengikuti perkembangan industri teknologi di portal berita terpercaya seperti Kompas Tekno.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad