Tingkat Persetujuan Trump Merosot Tajam ke Titik Terendah Masa Jabatan Kedua
Tingkat persetujuan warga Amerika Serikat terhadap Presiden Donald Trump kembali merosot tajam, mencapai angka terendah selama masa jabatan keduanya. Berdasarkan survei terbaru yang dilakukan oleh Reuters dan Ipsos, hanya 33 persen responden menyatakan menyetujui kinerja Trump, sementara mayoritas 64 persen menolak kinerjanya.
Survei ini digelar dari Jumat hingga Senin pekan ini dengan melibatkan 1.166 responden dan margin kesalahan sebesar tiga poin persentase. Data tersebut menunjukkan penurunan dua poin persentase dibandingkan survei sebelumnya yang dirilis awal Agustus 2026, menegaskan tren penurunan popularitas Trump di tengah berlanjutnya konflik dan tekanan ekonomi.
Penurunan Drastis Persetujuan Selama Masa Jabatan Kedua Trump
Tingkat persetujuan 33 persen ini menjadi yang terendah sejak Trump kembali menjabat pada Januari 2025, di mana pada awal masa jabatan keduanya ia sempat meraih tingkat persetujuan sebesar 47 persen. Sebaliknya, tingkat ketidaksetujuan kini telah melonjak hingga 64 persen, jauh melebihi angka 41 persen di awal masa jabatan.
Penurunan ini juga menyamai titik terendah pada masa jabatan pertamanya yang tercatat pada Desember 2017. Bahkan dalam waktu kurang dari satu bulan setelah pelantikannya pada 2025, tingkat ketidaksetujuan sudah melebihi 50 persen dan belum pernah turun sejak saat itu.
Konflik dengan Iran dan Dampak Ekonomi Jadi Faktor Utama
Salah satu faktor utama yang memengaruhi persepsi publik adalah konflik yang dipicu oleh Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terhadap Iran. Beberapa hari sebelum konflik ini dimulai, tingkat ketidaksetujuan terhadap Trump sudah mencapai 58 persen.
Trump sempat menyatakan bahwa Amerika Serikat hanya membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk mencapai tujuan di Iran, tetapi konflik ini berlarut hingga musim semi dan musim panas tanpa tercapainya kesepakatan pembatasan program nuklir Iran.
Konflik ini memberikan dampak ekonomi signifikan, terutama karena pembatasan pengiriman barang melalui Selat Hormuz yang mengganggu perdagangan minyak global. Harga bensin di AS melambung di atas $4 per galon sepanjang musim panas, setelah sebelumnya sempat di bawah $3, menurut laporan AAA.
- Berdasarkan indeks harga konsumen, inflasi energi naik 14,7 persen secara tahunan pada bulan lalu.
- Inflasi harga energi mencapai puncaknya di angka 23,5 persen pada Mei 2026.
Dalam sebuah pernyataan di Garden City, New York, Trump mengungkapkan bahwa warga AS sebaiknya menerima harga bensin yang lebih tinggi demi mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
"Ingatlah, ketika Anda harus membayar sedikit lebih banyak, misalnya $4, itu tidak apa-apa. Saya tidak akan pernah meminta maaf, saya melakukan hal yang benar," ujar Trump.
Respon Publik dan Politik Dalam Negeri
Survei juga mengungkapkan bahwa mayoritas warga AS, termasuk 71 persen pemilih Partai Republik, 80 persen independen, dan 87 persen Demokrat, yakin konflik di Timur Tengah akan berlangsung lama. Hal ini memperlihatkan kekhawatiran luas atas situasi yang belum mereda.
Partai Republik kini menghadapi tantangan besar dalam pemilu mendatang akibat dampak ekonomi konflik tersebut, sementara mereka juga mencoba mengalihkan isu dengan mengkritik kandidat sayap kiri yang mereka sebut menganut sosialisme.
Menurut perkiraan Decision Desk HQ hingga Senin, Partai Demokrat berpeluang besar untuk merebut kembali kendali DPR dengan peluang 66 persen, serta peluang 45 persen untuk menguasai Senat, meningkat 3 poin dari bulan sebelumnya.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, turunnya tingkat persetujuan Trump ke angka terendah selama masa jabatan keduanya mencerminkan tekanan serius dari dinamika geopolitik dan ekonomi global yang berdampak langsung pada persepsi publik. Konflik berkepanjangan dengan Iran dan meningkatnya harga bahan bakar telah menjadi titik kritis yang mengikis dukungan Trump, terutama di tengah janji-janji awal masa jabatan yang belum terpenuhi.
Lebih jauh, ketidakpuasan publik ini berpotensi memengaruhi hasil pemilu mendatang secara signifikan, dengan meningkatnya peluang Partai Demokrat merebut kembali kursi legislatif. Ini menandakan bahwa isu keamanan nasional dan ekonomi masih menjadi faktor utama yang menentukan arah politik AS saat ini.
Penting bagi para pemilih dan pengamat politik untuk terus memantau bagaimana Trump dan partainya menanggapi tantangan ini, serta bagaimana kebijakan luar negeri dan ekonomi AS berkembang ke depan. Konflik Timur Tengah dan dampak inflasi energi kemungkinan akan tetap menjadi isu sentral yang menentukan popularitas dan stabilitas pemerintahan AS.
Untuk informasi lebih lengkap, lihat laporan asli di CNN Indonesia.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0