Dokter Yahudi AS Ungkap Kondisi Mengerikan Jalur Gaza yang Tak Terbantahkan
Seorang dokter Yahudi Amerika Serikat, Mark Perlmutter, mengungkapkan bahwa kondisi yang ia temui di Jalur Gaza, Palestina, sangat mengerikan dan jauh melampaui pengalaman konflik atau bencana yang pernah ia tangani sebelumnya. Kesaksian ini menjadi sorotan utama dalam film dokumenter berjudul American Doctor yang memperlihatkan realita kelam di tengah perang yang menghancurkan wilayah tersebut.
Kondisi Jalur Gaza: Lebih Mengerikan dari Konflik dan Bencana Sebelumnya
Mark Perlmutter adalah seorang dokter bedah ortopedi yang telah berpengalaman menangani korban bencana dan konflik di lebih dari 30 negara, termasuk penanganan pasca-serangan 11 September di New York, Badai Katrina di Louisiana, dan gempa bumi Haiti tahun 2010. Namun, ia mengakui bahwa kengerian di Jalur Gaza tidak bisa dibandingkan dengan pengalaman-pengalaman tersebut.
"Minggu pertama kami di Gaza saja sudah lebih buruk daripada gabungan seluruh pengalaman saya sebelumnya," kata Perlmutter kepada AFP.
Film dokumenter American Doctor yang tayang perdana di Sundance Film Festival dan akan diputar di bioskop-bioskop terpilih di AS mulai 21 Agustus 2026, merekam kesaksian dramatis para dokter yang berjuang di garis depan kemanusiaan.
Serangan "Double-Tap" dan Dampak Tragis terhadap Petugas Medis
Salah satu bagian paling mengerikan yang ditampilkan adalah serangan "double-tap" yang dilakukan Israel. Metode ini melibatkan pengeboman susulan yang menargetkan petugas tanggap darurat yang sedang merawat korban setelah serangan pertama, seperti yang terjadi pada pengeboman Rumah Sakit Nasser di Khan Younis.
Sutradara film, Poh Si Teng, menyatakan tujuan utama film ini adalah memperlihatkan situasi sebenarnya di Gaza kepada dunia, khususnya masyarakat Amerika Serikat. Ia ingin agar publik menyadari dampak dari dana pajak yang secara tidak langsung mendukung konflik yang berujung pada tragedi kemanusiaan.
"Longsoran kebenaran bermula dari potongan-potongan salju. Saya optimistis kita semua adalah potongan salju dalam bola salju yang kian membesar itu," ujar Teng, mantan jurnalis visual AFP.
Keragaman Dokter AS dan Pesan Kemanusiaan Mereka
Selain Perlmutter, film ini juga menampilkan dua dokter AS lainnya, Thaer Ahmad yang beragama Muslim, dan Feroze Sidhwa yang berasal dari keluarga penganut Zoroastrianisme. Mereka bersama-sama menegaskan bahwa untuk memahami situasi di Gaza, seseorang tidak harus memiliki gelar akademik tinggi, cukup dengan kemanusiaan dan empati.
"Pertanyaannya bukan seberapa paham Anda mengenai sejarah Arab-Israel, tapi: Apakah Anda mendukung pembunuhan anak-anak? Apakah Anda mendukung penyiksaan tenaga medis? Apakah Anda mendukung pengeboman rumah sakit?" ujar Sidhwa.
Menurut laporan resmi dari Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas, lebih dari 73 ribu orang telah tewas dalam serangan Israel di Gaza. Israel mengakui adanya serangan terhadap fasilitas medis dengan alasan menargetkan pejuang Hamas di terowongan bawah rumah sakit, namun ketiga dokter dalam film ini menegaskan tidak menemukan terowongan semacam itu di tempat mereka bekerja.
Seruan Mendesak untuk Menghentikan Kekerasan
Para dokter ini juga mengeluhkan kesulitan meyakinkan publik dan pejabat tentang urgensi situasi di Gaza. Thaer Ahmad menyayangkan respon yang mempertanyakan latar belakang korban ketimbang fokus pada kemanusiaan.
"Jika saya katakan ada anak-anak yang kelaparan, ibu-ibu kesulitan memberi makan anaknya, atau remaja yang tewas akibat bom, respons Anda seharusnya adalah: 'Kita harus menghentikan ini'. Tapi saya malah mendengar alasan lain yang tidak relevan," ujar Ahmad.
Sutradara Poh Si Teng juga mengungkapkan tantangan dalam pendanaan proyek ini karena donatur enggan mendukung karya yang mengkritik penggunaan amunisi Israel yang dibiayai AS.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, kesaksian dokter Yahudi AS Mark Perlmutter dan rekan-rekannya membuka perspektif baru yang jarang terdengar di publik Amerika dan dunia internasional. Sebagai sosok yang beragama Yahudi, Perlmutter membawa kredibilitas yang kuat terhadap laporan kondisi di Gaza, sehingga sulit untuk dianggap bias atau politis semata.
Film American Doctor tidak hanya menghadirkan fakta medis dan kemanusiaan, tetapi juga menantang narasi resmi yang seringkali justru mengaburkan penderitaan warga sipil. Metode serangan "double-tap" yang sengaja menargetkan petugas medis menunjukkan tingkat kekejaman yang memerlukan perhatian global serius.
Ke depan, publik dan pembuat kebijakan harus memantau bagaimana respons internasional terhadap dokumentasi ini akan memengaruhi kebijakan luar negeri, bantuan kemanusiaan, dan tekanan diplomatik terhadap Israel. Kesadaran yang meningkat di kalangan masyarakat AS sangat penting untuk mendorong perubahan nyata dalam konflik berkepanjangan ini.
Untuk informasi lengkap dan kesaksian dokter-dokter tersebut, Anda dapat membaca laporan aslinya di CNN Indonesia serta mengikuti peliputan mendalam dari media internasional terpercaya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0