Saat NU Disebut Khianat Islam dan Bantu Kafir!

0
5746
PBNU
Copyright ©Liputan6

NU Disebut Sebagai Pengkhianat Islam Lantaran Keputusan Keluar Dari Masyumi

Indowarta.com – Pada tahun 1952, KH Idham Chalid sedang bertugas sebagai Koordinator Mejelis Pemimpin Haji di Mekah, saat itu dia mendapatkan telegram dari PBNU yang berisikan pernyataan bahwa NU resmi menjadi sebuah partai politik. Kemudian dirinya diminta untuk langsung menyurati pimpinan DPR dengan tujuan mengabarkan keluar dari Fraksi Masyumi.

Idham yang pada saat itu sedang menjalankan tawaf di Masjidil Haram, lalu mengundang tiga orang yang merupokan kolegannya. Mereka adalah KH Dahlan, KH Masruni, dan KH Siradj untuk menjalankan doa.

“Wahai Tuhanku, jikalau berdirinya NU sampai menjadi partai politik memisahkan diri dari Masyumi akan membawa manfaat kepada agama-MU, berilah kami kekuatan. Jikalau akan membawa mudlarat kepada agama-Mu yang suci ini, maka mohon berilah kesadaran cepat kepada kami dan mohon distoplah. Kalau NU bermanfaat, mohon diberi kekuatan terus, jikalau tidak, biar bubar saja,” doa yang mereka panjatkan pada saat itu, seperti terungkap di biografi Idham Chalid, ‘Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah’.

WAJIB BACA :  Posisi Sulit NU dan Muhammadiyah Dalam Polemik Soal Full Day School!

Singkat cerita, pada Pemilu 1955, NU menjadi peserta dan meraih suara yang diluar dugaan karena mengungguli PKI. Pada kabinet Ali Sastroamidjojo II, Idham dilantik menjadi Wakil Perdana Menteri II dan Kepala Badan Kemanan.

“Tugas saya paling berat adalah menghadapi gerombolan yang membawa dalil-dalil agama Islam,” kata Idham dalam buku tersebut.

Gerombolan tersebut kerap kali melakukan aksi teror dan kekerasan kepada masyarakat muslim. Idham pun juga menjadi incaran pembunuhan. Pada saat akan pulang ke Jakarta dari Bandung, Ketua I PBNU telah ditembaki gerombolan DI/TII dari arah perbukitan di Puncak. Namun dia selamat dari kejadian itu.

“Sasaran tembakan pastilah saya, menteri yang mengurusi keamanan,” ujar Idham.

Dia mengatakan kehadiaran gerombolan tersebut sangat merugikan islam dengan aksi-aksinya yang anarkis. Mereka membakar rumah sejumlah pemimpin NU di Jawa Barat. Bahkan ada yang ditembak mati, pada saat rapat juga mereka pernah melakukan serangan.

WAJIB BACA :  Gandeng XL dan BTPN, NU Luncurkan Kartu Keanggotaan Digital!

Penyebab dari kejadian tersebut adalah mengenai keputusan NU yang keluar dari Masyumi. Sehingga mereka menilai kalau NU merupakan pengkhianat Islam dan sudah menjadi musuh besar dari DI/TII lantaran keputusan itu.

“Mereka menganggap NU membantu Republik Indonesia Kafir (RIK). Apalagi salah seorang ketuanya menjadi wakil perdana menteri yang memegang urusan keamanan,” ujar Idham.

BACA JUGA : Tips Mengambil Foto Gerhana Bulan ‘Super Blue Blood Moon’ Makin Keren!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here