Penjelasan Resmi BPOM Soal Isu Keamanan Albothyl!

0
472
Albothyl,
Copyright ©apoteksehati

BPOM Meluruskan Adanya Isu Obat Antiseptik Albothyl

Indowarta.com – Obat sariawan Albothyl yang memiliki kandungan policresulen beberapa waktu belakangan ini menjadi sebuah perbincangan publik. Hal itu karena adanya pengeluaran surat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (DPOM) mengenai penarikan produk tersebut.

BACA JUGA : Larangan Penggunakan Albothyl Oleh BPOM Adalah HOAX!

Bahkan kabar mengenai Albothyl itu sudah menyebar luas di masyarakat sekarang ini. Oleh karena itu, untuk meluruskan danya isu simpang siru tersebut, BPOM menyampaikan penjelasan resmi terkait dengan hal itu.

Sebelumnya, Kepala BPOM Penny K Lukito membenarkan bahwa adanya penyampaian surat kepada pihak PR Pharos Indonesia selaku produsen Albothyl. Sedangkan dalam surat yang beredar itu menyebutkan bahwa kandungan policresulen memiliki resiko yang lebih tinggi dibandingkan untuk penyembuhan sariawan.

Albothyl secepatnya akan diberikan klarifikasi dari Badan POM, sementara jangan digunakan dulu,” kata Penny, Kamis (15/2/18). Berikut penjelasan resmi yang disampaikan oleh BPOM yang dipublikasikan di pom.go.id.

Albothyl
Copyright ©Kelleythecat

PENJELASAN BPOM RI TERKAIT ISU KEAMANAN OBAT MENGANDUNG POLICRESULEN CAIRAN OBAT LUAR KONSENTRAT

Sehubungan dengan adanya informasi mengenai isu keamanan Albothyl, BPOM RI menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Albothyl merupakan obat bebas terbatas berupa cairan obat luar yang mengandung policresulen konsentrat dan digunakan untuk hemostatik dan antiseptik pada saat pembedahan, serta penggunaan pada kulit, telinga, hidung, tenggorokan (THT), sariawan, gigi dan vaginal (ginekologi).
  2. BPOM RI secara rutin melakukan pengawasan keamanan obat beredar di Indonesia melalui sistem farmakovigilans untuk memastikan bahwa obat beredar tetap memenuhi persyaratan keamanan, kemanfaatan dan mutu.
  3. Terkait pemantauan Albothyl, dalam 2 tahun terakhir BPOM RI menerima 38 laporan dari profesional kesehatan yang menerima pasien dengan keluhan efek samping obat Albothyl untuk pengobatan sariawan, diantaranya efek samping serius yaitu sariawan yang membesar dan berlubang hingga menyebabkan infeksi (noma like lession).
  4. BPOM RI bersama ahli farmakologi dari universitas dan klinisi dari asosiasi profesi terkait telah melakukan pengkajian aspek keamanan obat yang mengandung policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat dan diputuskan tidak boleh digunakan sebagai hemostatik dan antiseptik pada saat pembedahan serta penggunaan pada kulit (dermatologi); telinga, hidung dan tenggorokan (THT); sariawan (stomatitis aftosa); dan gigi (odontologi).
  5. BPOM RI membekukan izin edar Albothyl dalam bentuk cairan obat luar konsentrat hingga perbaikan indikasi yang diajukan disetujui. Untuk produk sejenis akan diberlakukan hal yang sama.
  6. Selanjutnya kepada PT. Pharos Indonesia (produsen Albothyl) dan industri farmasi lain yang memegang izin edar obat mengandung policresulen dalam bentuk sediaan cairan obat luar konsentrat diperintahkan untuk menarik obat dari peredaran selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak dikeluarkannya Surat Keputusan Pembekuan Izin Edar.
  7. BPOM RI mengimbau profesional kesehatan dan masyarakat menghentikan penggunaan obat tersebut.
  8. Bagi masyarakat yang terbiasa menggunakan obat ini untuk mengatasi sariawan, dapat menggunakan obat pilihan lain yang mengandung benzydamine HCl, povidone iodine 1%, atau kombinasi dequalinium chloride dan vitamin C. Bila sakit berlanjut, masyarakat agar berkonsultasi dengan dokter atau apoteker di sarana pelayanan kesehatan terdekat.
  9. Bagi profesional kesehatan yang menerima keluhan dari masyarakat terkait efek samping penggunaan obat dengan kandungan policresulen atau penggunaan obat lainnya, dapat melaporkan kepada BPOM RI melalui website: www.e-meso.pom.go.id.
  10. BPOM RI mengajak masyarakat untuk selalu membaca informasi yang terdapat pada kemasan obat sebelum digunakan, dan menyimpan obat tersebut dengan benar sesuai yang tertera pada kemasan. Ingat selalu CEK KLIK (Cek Kemasan, informasi pada Label, Izin Edar, Kedaluwarsa). Masyarakat dihimbau untuk tidak mudah terprovokasi isu-isu terkait obat dan makanan yang beredar melalui media sosial.

Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi contact center HALO BPOM di nomor telepon 1-500-533, SMS 0-8121-9999-533, e-mail [email protected], atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia.

BACA JUGA :  Kemendikbud Tegaskan Pesan Berantai Larangan Mobile Legends Adalah HOAX!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here