Karena Skandal Kebocoran Data, FB akan Ditinggalkan?

0
411
FB
Copyright©kompstekno

Akibat Skandar Kebocoran Data Pengguna, FB Dalam Kondisi Kurang Baik

Indowarta.com – Akibat dari adanya isu kebocoran 50 juta data pengguna Facebook (FB), membuat perusahaan teknologi tersebut kini dalam kondisi kurang baik. Jika saja terbukti benar terjadi, maka bukan tidak mungkin ini merupakan salah satu yang paling terparah yang telah dialami perusahaan pemilik WhatsApp dan Instagram tersebut.

BACA JUGA : Mark Zuckerberg Siap Dipanggil Kongres AS Terkait Kebocoran Data Pengguna FB

Berdasarkan kabar, Cambridge Analytica (CA), firma yang dulunya pernah bekerja dengan tim kampanye Donald Trump pada saat adanya Pilpres Amerika Serikat (AS) 2016, diduga sudah memanfaatkan jutaan data para pengguna FB untuk untuk dapat membuat software yang diperkirakan dapat memprediksi dan mempengaruhi pemilihan suara.

Bahkan CA juga memanfaatkan data pengguna untuk kampanye referendum Uni Eropa dan Britania Raya. Tentunya hal ini sangat beresiko karena seluruh data privasi pengguna digunakan untuk dapat mempengaruhi suara politik, yang sangat berdampak pada hasil pungutan suara yang dipastikan telah mencoreng adanya demokrasi.

CA sendiri merupakan perusahaan yang didirikan oleh miliader teknoligi bernama Robert Mercer, yang merupakan jajaran direksinya, sebelumnya resmi dilantik menjadi penasehat Presiden Trumpo, yaitu Steve Bannon yang merupakan petinggi di media konservatif Breibart.

FB
Copyright©antaranews

Adanya penggunaan metode tersebut juga dapat terjadi di Indonesia? Jik begitu, apakah kedepannya para pengguna akan ramai-ramai meninggalkan FB? Pengamat media sosial Abang Edwin Syarif Agustin menilai bahwa bisa saja hal tersebut dapat terjadi. Ditambah pada tahun depan ada Pilpres di Indonesia. Akan tetapi, dia mengatakan bahwa sekarang masih belum ada fakta yang dapat membuktikan.

BACA JUGA : WhatsApp Dilarang Berbagi Data dengan FB!

“Hal ini mungkin terjadi karena mengadu gagasan dan kompetisi di media sosial merupakan cara yang mudah–tak perlu menggunakan banyak biaya–ketimbang harus melakukan kampanye ke tempat-tempat tertentu,” kata Edwin Rabu (21/3/2018), di Jakarta.

Pada saat ditanya mengenai penilaian dari pengguna setelah adanya temuan dari FB tersebut, Edwin mengatakan bahwa hal itu tergantung dari  perusahaan teknologi tersebut memberikan responnya mengenai masalah ini.

Sedangkan anggapan publik dilaporkan mulai negatif usai muncul masalah ini. Hal ini mulai terlihat adari turunnya nilai saham perusahaan tersebut yang mencapai 6,77 persen. Bahkan penurunan valuasi perusahaan mencapai US$ 36 miliar disamping adanya kekhawatiran dari para investor mengenai kebocoran data yang sudah menimpa FB.

BACA JUGA : Resmi Dirilis di Indonesia, Bagaimana Game Play Lineage 2 Revolution?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here