Pelaku Bom Gereja di Surabaya Tulis Status Soal Kesulitan Hidup Sebelum Melakukan Aksi

0
3519
Pelaku Bom Gereja di Surabaya
Pelaku Bom Gereja di Surabaya Copyright © Detik

Tulisan Terakhir Pelaku Gom Gereja di Surabaya

Indowarta.comDita Oepriarto beserta Istrinya, Puji Kuswati dan keempat anaknya menjadi pelaku pengeboman tiga gereja di Surabaya pada Minggu 13 Mei 2018, pagi. Tim Densus 88 telah menggeledah rumah mereka di kawasan elite Wonorejo Asri, Rungkut Surabaya dan menemukan sejumlah bahan peledak.

Rumah Dita ini terlihat bagus dan megah dengan begian gerbang depan bercat warna merah bata. Garis polisi pun terpasang di rumah tersebut. Terlihat ada kursi yang diletakknya di bagian luar dekat pintu masuk.

Baca Juga: Dua Remaja Pelaku Bom Gereja di Surabaya Suka Maroon Five dan Game

Walikota Surabaya Tri Rismaharani yang ikut mengecek kondisi kediaman keluarga pengebom pun tidak menyangka jika terduga teroris bisa berasal keluarga yang mampu. Pasalnya, kasus-kasus terorisme sebelum terduga pelaku berasal dari kalangan menengah ke bawah.

Pelaku Bom Gereja di Surabaya -
Pelaku Bom Gereja di Surabaya – Copyright © Facebook

“Terus terang, saya juga enggak mengira kehidupan yang mapan juga punya keinginan untuk melukai orang lain,” ucap Risma, di Kompleks Wonorejo Asri, Rungkut, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/5). “Tapi terus terang, yang surprise, ini tinggalnya di perumahan yang perekonomiannya bagus. Yang saya sedih itu. Biasanya kan kos-kosan.”

Diketahui dari akun media sosial Puji, rupanya ia sempat membuat status tentang kesulitan dunia. Dipantai dari laman Facebooknya milik Puji, Puji kerap memajang foto kebersamaan dengan keempat anaknya. Sejumlah foto keindihan alam pun sempat dipamerkannya.

Baca Juga: Begini Kronologis Ledakan Bom yang Terjadi di Mapolrestabes Surabaya

Dalam postingan terakhir Puji pada 7 Oktober 2014 lalu, ia hanya mengunggah foto dua ekor kucing yang berada di dalam kandang. “Kucing emak dan kucing anak berbagi pindang tanpa bertengkar…. Pinter ya… He..he… Siapa yg suka bertengkar berebut makanan???” tulis Puji.

Menariknya, dalam salah satu postingan, Puji sempat menuliskan tentang kesulitan di dunia. Sedangkan dalam postingan lainnya, ia tampak menulis moto sang anak.

“Kesulitan di dunia tidak ada apa apanya dibandingkan kesulitan di negeri akherat. Yang memudahkan kita adalah kedekatan kita dengan ALLAH,” tulis Puji pada 3 Maret 2013. “Selalu mengigat ALLAH dan hari esok harus lebih baik. itulah moto bujang kecilku. Smg ALLAH menguatkanmu nak…” tulis Puji sebelumnya pada 28 Februari 2013.

Di sisi lain, Khorihan, ketua RT setempat mengungkapkan kenangan terakhir sang pelaku dan anak-anaknya. “Mereka masih salat subuh berjemaah sebelum hari pemboman.. Oh iya, Magrib sebelumnya anak kedua habis salat sempat nangis-nangis terus dirangkul, dicium, di’puk-puk’,” ujar Khorihan dilansir Kumparan pada Senin (14/5). “Kebiasaan Dita sekeluarga datang salat setelah ikamah, setelah salat pulang.. Kebiasaan selalu rangkul anak dan cium kening anak habis salat jemaah.”

Baca Juga: Bom Gereja di Surabaya, 1 Keluarga dengan 3 Cara Peledakan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here