Perburuan Densus 88 Diyakini Buat ISIS di Indonesia Panik

0
792
Copyright©liputan 6

ISIS di Indonesia Dibuat Panik Oleh Perburuan Densus 88

Indowarta.com – Rentetan Aksi terror yang terjadi di berbagai lokasi dalam beberapa terakhir. Pengamat terorisme Harits Abu Ulya menilai kejadian ini disebabkan banyaknya orang yang berafiliasi dengan ISIS tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

Harits, merupakan DirekturThe Community Ideological Islamic Analyst (CIIA), menilai aksi terror yang terjadi di Mapolda Riau pada Rabu 16 Mei Kemarin berbeda dengan aksi terror yang terjadi si Surabaya pada Minggu 13 Mei 2018. Dia mengatakan aksi di Riau itu dan sejumlah aksi Teror lain merupakan dampak dari perburuan teroris yang dilakukan oleh Densus 88.

Baca Juga: Densus 88 Baku Tembak dengan Kelompok Teroris di Sidoarjo

“Kasus di Surabaya itu berbeda dengan kasus di Riau. Kalau di Riau itu sebenarnya adalah efek dari perburuan Densus terhadap kawan-kawan mereka yang punya ideologi yang sama, artinya mereka sama afiliasinya. Nah perburuan ini kan tidak hanya di Surabaya pascaledakan itu, tapi juga di banyak tempat,” kata Harits saat berbincang dengan detikcom, Rabu (16/5/2018).

Dia menambahkan, Faktanya banyak orang yang berafiliasi dengan ISIS dan berpaham radikal tersebar diui banyak tempat di Indonesia. Inilah yang menyebabkan banyaknya aksi terror di berbagai wilayah Indonesia.

“Karena faktanya orang yang berafiliasi ISIS ini terdiaspora di berbagai tempat, sekalipun tidak dalam jumlah yang besar, antara 2, 5, hingga 10 orang. Perburuan itu sampai di wilayah Sumatera, termasuk Medan, Riau. Saya melihat itu membuat ruang mereka semakin sempit. Dan itu akan berpengaruh ke mereka yang menjadi panik,” katanya.

Baca Juga: 3 Hari Saja, Densus 88 Tangkap 19 Terduga Teroris!

Haris mengatakan, Dari kejadian di Mapolda Riau, Pekanbaru tersebut terbukti tingkat keahlian para teroris dalam melancarkan aksinya sangat beragam. Ada yang hanya diduga terlibat ada juga yang hanya ikut-ikutan, ada juga yang memang terlibat jauh dan matang dalam merencanakan aksinya.

“Terlihat serangan ini tidak menggunakan bom, artinya ada kemungkinan transfer knowledge atau buku saku pembuatan bom itu tidak terdistribusikan ke semua jaringan mereka. Atau terdistribusikan tapi tidak semua orang punya keahlian untuk merakit. Tapi intinya, mereka kelihatannya panik dan mereka melakukan serangan dengan apa yang dia bisa,” jelas Harits.

Baca Juga: ISIS Klaim Jadi Dalang Rusuh di Mako Brimob

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here