Puncak Kegalauan Soeharto Sebelum Akhirnya Mundur. . .

0
1856
Presiden Soeharto dan Ibu Negara Tien.
Copyright©suratkabar

Mengenang Kemunduran Sosok Soeharto. . .

Indowarta.comGerakan Reformasi yang begitu deras terjadi ketika 20 tahun mendapatkan momentum dengan disusulnya kemuncuran Soeharto dari Jabatan Presiden RI.

Soeharto jatuh pada tanggal 21 Mei 1998, setalah mendapatkan desakan Massa yang begitu massive, terutama mahasiswa yang menginginkan pergantian kepemimpinan nasional.

Baca Juga: Alasan Utama Bung Karno Tak Mau Bubarkan PKI!

Ketika membacakan pidato kemunduran dirinya, Soeharto mengakui bahwa dia menyerahkan kekuasaanya oada Wakil Presiden kala itu yakni Bacharuddin Jusuf Habibie berdasakan “Aspirasi Rakyat yang mengadakan reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan Bernegara.

Soeharto
Copyright ©merdeka

Ketika itu, Kondisi memang tidak mendukung bagi sosok Soeharto, Tuntutan Reformasi Masyarakat yang diwakili oleh aksi Mahasiswa ni mencapai puncaknya ketika Mahasiswa menguasai Gedung DPR/MPR mulai dari 18 Mei 1998.

WAJIB BACA :  Walhi Sebut Lahan Prabowo Kemungkinan Didapat di Era Order Baru !

Setelah mahasiswa menguasai DPR/MPR, pimpinan DPR/MPR yang diketuai Harmoko kemudian meminta Soeharto untuk mundur. Ini tentu saja sebuah ironi, mengingat Harmoko yang merupakan Ketua Umum Golkar adalah orang yang bertanggung jawab dalam pencalonan kembali Soeharto.

Baca Juga: Panglima TNI Gatot Nurmantyo Sebut TNI Tak Akan Lupa Sejarah ketika Ziarah ke Makam Soeharto!

Setelah menang Pemilu 1997, Golkar juga yang menjadi pelopor dalam mengusung Soeharto sebagai presiden untuk ketujuh kalinya dalam masa bakti 1998-2003.

Namun, dari dokumentasi yang telah banyak beredar, Ternyata bukan Pernyataan sosok Harmoko yang membuat Soeharto makin terpojokkan, Puncak Kegalauan Jenderal yang tersenyum itu terjadi pada Rabu Malam 20 Mei 1998.

WAJIB BACA :  Panglima TNI Gatot Nurmantyo Sebut TNI Tak Akan Lupa Sejarah ketika Ziarah ke Makam Soeharto!

Pernyataan Harmoko pada 18 Mei 1998 itu tentu saja mendapat penentangan sejumlah pihak. Menteri Pertahanan Keamanan yang juga Panglima ABRI Wiranto misalnya, yang menganggap pernyataan Harmoko bersama Ismail Hasan Metareum, Syarwan Hamid, Abdul Gafur, dan Fatimah Achmad itu sebagai sikap individu dan bukan lembaga.

Baca Juga: Sepenggal Kisah Bapak Soeharto, Sempat Frustasi Lantaran Karir Tak Kunjung Naik!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here