Irwandi Yusuf, Bupati Aceh yang Menolak Fee Tapi Terjerat Korupsi

0
604
Irwandi Yusuf
Irwandi Yusuf Copyright©Detik

Irwandi Yusuf Dicokok KPK Karena Terjerat Korupsi

Indowarta.com – Sejak dilantik kembali Aceh pada 5 Juli 2017, Dokter hewan yang pernah menjadi juru runding GAM itu gencar mengkampanyekan ‘Hana fee’ (Menolak fee). Kepada para pejabat terkait di wilayahnya, Irwandi Yusuf mengibaratkan bila semua pejabat berani mewujudkannya itu sama artinya dengan ikut membangun dan meningkatkan mutu jembatan siratalmustakim.

Baca Juga: Belum Pulih Sepenuhnya, Novel Baswedan Dilarang Bertugas!

“Jadi, yang mengambil fee proyek, berarti dia sedang menggergaji jembatannya di akhirat,” ujarnya.

Irwandi lahir di Bireun, 2 Agustus 1960. Titel sarjana diraihnya dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, 1987. Sedangkan gelar master didapat dari College of Veterinary Medicine, Oregon State University.

Seain mengajar di kampus Syiah Kuala, Irwandi merintis beridirnya lembaga swadaya Fauna dan Flora Internasional pada 1999-2001. Dia juga pernah bekerja di Palang Merah Internasional (ICRC) pada tahun 2000.

Entah darimana ceritanya, Irwandi kemudian terlibat dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Dia percaya menjadi coordinator juru runding dalam Aceh Monitoring Mission. 2001-2002. Ketika pemerintah memberlakukan Darurat Militer di Aceh, TNI menangkapnya pada tahun 2003 dan divonis 9 tahun penjara dengan tuduhan makar.

Bencana tsunami pada 26 Desember 2004 seolah menjadi berkah tersendiri baginya. Kondisi penjara Keudah, Banda Aceh, yang rusak dia manfaatkan untuk kabur ke Swedia. Dia kembali ke Aceh setelah tercapai kesepakatan damai antara pemerintah RI dan GAM pada 15 Agustus 2005.

Baca Juga: Bupati Purbalingga Diduga Menerima Suap Pembangunan Islamic Center

Sejak kembali memimpin Aceh, dia gencar mengampanyekan mazhab ‘hanafi’ (hana fee). Dalam berbagai kesempatan, dia mengingatkan kepala dinas dan kepala daerah di bawahnya untuk menolak, apalagi meminta, fee dari para kontraktor.

Ironisnya, justru Irwandi-lah yang dicokok KPK pada Selasa, 3 Juli 2018, di rumah dinasnya. Juru bicara KPK Febri Diansyah menyebut ada uang Rp 500 juta yang disita saat penangkapan. Ada dugaan duit tersebut berkaitan dengan dana otonomi khusus (otsus) Aceh.

“Tim sedang mendalami dugaan keterkaitan uang Rp 500 juta yang diamankan kemarin dengan dana otonomi khusus Aceh tahun 2018,” ujar Febri kepada wartawan, Rabu (4/7/2018)

Baca Juga: Novel Baswedan Belum Bisa Bekerja Kembali Sampai 28 Juni

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here