Fatwa MUI: Vaksin MR Mengandung Babi, Tetapi Masih Boleh Digunakan !

0
473
Copyright©kompas

MUI Terbitkan Vaksin MR yang Mengandung Babi, Namun Boleh Digunakan !

Indowarta.com – Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia yang telah merilis fatwa Nomor 33 Tahun 2018 tentang penggunaan vaksin measless dan rubella untuk kegunaan imunisasi. Dimana MUI yang telah menyatakan, pada dasarnya vaksin yang diimpor dari Serum Institute of India tersebut haram karena mengandung babi.

Lihat Juga : Vaksin MR: Orang tua Ragu sebab Khawatir Palsu dan Tidak Halal ?

Tetapi, untuk penggunannya saat ini diperbolehkan sebab keterpaksaan.

Penggunaan vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII) hukumnya haram karena dalam proses produksinya menggunakan bahan yang berasal dari babi,” kata Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin dalam keterangan tertulisnya, Senin malam. “Penggunaan vaksin MR produk dari Serum Institute of India, pada saat ini, dibolehkan (mubah),” ucapnya.

WAJIB BACA :  Ketika Vaksin MR Ditolak, MUI Sebut Mencegah Bahaya Hukumnya adalah Wajib !
Copyright©bbc

Terdapat tiga alasan kenapa MUI untuk sementara waktu diperbolehkan untuk menggunakan vaksin MR. pertama, adanya kondisi yang terpaksa (darurat syar’iyyah. Kedua, masih belum ditemukan vaksin MR yang suci dan halal. Ketiga, ada keterangan dari ahli yang dipercaya dan kompeten mengenai bahaya yang ditimbulkan akibat jika tidak diimunisasi vaksin MR.

Kebolehan penggunaan vaksin MR sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku jika ditemukan adanya vaksin yang halal dan suci,” ucap Hasanuddin.

Nantinya, MUI yang juga merekomendasikan kepada pemerintah yang wajib menjamin ketersediaan vaksin halal untuk kepentingan imunisasi bagi masyarakat. Dimana produsen vaksin yang juga wajib untuk mengusahakan produksi vaksi secara halal dan turut menyertifikasi produk halal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

WAJIB BACA :  Ada Fatwa MUI Soal Media Sosial, FB Dkk Bisa Ditutup?

Lihat Juga : Vaksin HPV Akan Jadi Program Nasional Tahun Depan?

MUI juga turut meminta kepada pemerintah untuk menjadikan pertimbangan keagamaan sebagai panutan dalam imunisasi dan pengobatan. Disamping itu, MUI yang memberikan imbauan kepada pemerintah hendaknya juga mengusahakan secara otimal, melalui WHO dan negara-negara berpenduduk Muslim,

supaya turut memperhatikan kepentingan umat Islam dalam hal kebutuhan akan obat-obatan dan vaksin yang halal dan suci. Fatwa MUI yang berlau pada tanggap ditetapkan. Apabila nanti dikemudian hari ternyat fatwa tersebut membutuhkan perbaikan, maka MUI segera memperbaiki dan disempurnakan sebagaimana harusnya.

Agar setiap Muslim dan pihak-pihak yang memerlukan dapat mengetahuinya, mengimbau semua pihak untuk menyebarluaskan fatwa ini,” kata Hasanuddin.

Lihat Juga : Menkes Ingatkan Warga Gunakan Vaksin Resmi Untuk Cegah Difteri!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here