Polemik Rokok, Antara Fatwa, Cukai yang Menggiurkan dan Biaya Kesehatan !

0
492
Copyright©cnnindonesia

Jadi Polemik Antara Fatwa, Cukai yang Menggiurkan Serta Bahaya Rokok !

Indowarta.comRokok yang hingga kini masih terus menjadi polemik. Dimana kandungan bahan berbahaya yang ada didalamnya dianggap merugikan kesehatan sehingga jaminan akan kesehatan yang juga harus ditanggung kian membengkak. Tetapi di sisi lain, uang yang diterima dari cukai yang sangat besar.

Lihat Juga : Viral, Aksi Warga Jepang Pungut Puntung Rokok Saat Nonton Asian Games Jadi Sorotan !

Dimana fatwa keagamaan yang turut mewarnai polemik rokok yang mana ada fatwa yang mengharamkannya. Ketika polemik mengenai halal-haram rokok  berdasarkan fatwa ormas keagamaan ataupun para ulama yang masih hangat, pemerintah sendiri yang belum mengatur secara tegas mengenai larangan rokok.

Copyright©cnnindonesia

Padahal terdapat aspek kerugian ekonomi yang sangat besar, terutama biaya jaminan kesehatan yang makin membengkak. Dimana hal tersebut yang sebanding dengan duit dari cukai rokok yang diterima oleh pemerintah. Sejauh ini, umat Islam yang mengikuti hasil ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia

(MUI) se-Indonesia III Tahun 2009 di Padang Panjang yang mengatakan jika merokok hukumnya makruh dan haram. Disini, rokok yang ditetapkan haram bagi anak-anak, ibu hamil dan di tempat umum. Ijtima Ulama Komisi Fatwa yang sudah mendesak pemerintah serta DPR supaya menjadikan hasil Ijtima tersebut sebagai salah satu bahan penyusunan UU.

Hingga kini, ada dua fatwa kelembagaan Islam lainnya yang bernaun di masyarakat Indonesia.

Pertama, Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah No. 6/SM/MTT/III/2010 Tentang Hukum Merokok yang menyatakan jika merokok haram, non-perokok dilarang mencoba merokok, dam perokok yang sudah terlanjur diwajibkan berupaya untuk berhenti secara perlahan.

Kedua, fatwa Mufti Mesir, Fariz Easil, pada 1999 yang menyatakan jika perokok itu hukumnya haram dalam Islam sebab memiliki efek yang dapat merusak kesehatan manusia. Sementara menurut Dr. Muhammad Taufiqi, Dosen Program Studi Perbandingan Mahzab Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta, dimana fatwa tersebut

Lihat Juga : Kecanduan Rokok, Rohayani Tuntut Gudang Garam dan Djarum Senilai Rp 1 Miliar!

Hukumnya mengikat bagi yang memintanya. Sedangkan, fatwa tersebut baru boleh dikeluarkan apabila ada yang meminta.

“Fatwa itu prosesnya luar biasa panjang. Fatwa itu harus ada yang meminta dan fatwa itu mengikat pada yang meminta. Yang enggak meminta ya nggak wajib mengikuti,” kataTaufiqi dalam diskusi publik yang digelar Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI), di Jakarta, Rabu (5/9).

Muhammadiyah, Komisi Fatwa MUI, ataupun mufti Mesir yang percaya jika rokok haram hukumnya sebab termasuk ke dalam kategori perbuatan melakukan khaba’is (hal kotor/kejahatan) yang dilarang.

Lihat Juga : Bahaya Rokok Elektrik Bagi Kesuburan Pria!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here