Bupati di Aceh Keluarkan Fatwa Haram, Wanita Ngopi Semeja dengan Pria Nonmuhrim !

0
394
Copyright©viva

Wanita dan Pria Dilarang Ngopi Bareng Semeja Tuai Pro Kontra !

Indowarta.com – Pemerintah Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh yang kembali mengeluarkan ketentuan yang kontroversial. Dimana kali ini mengenai rumah makan dan minum, yakni lelaki dan perempuan non  muhrim duduk satu meja disebut haram, pramusaji juga dilarang untuk melayani pelanggan perempuan diatas pukul 21:00, serta pramusaji perempuan dilarang bekerja di atas pukul 21:00 WIB.

Lanjut Baca : Difatwa haram oleh MUI, DPR Minta Pemerintah Segera Cari Pengganti Vaksin MR !

Adapun ketentuan-ketentuan tersebut yang baru tersebut bertajuk ‘standarisasi warung kopi/café dan restoran sesuai syariat Islam’ yang disahkan oleh upati Bireuen, Saifannur, pada Kamis (30/8). Namun ada kekecualiannya, yakni bisa duduk satu meja jika mereka adalah muhrim (suami-isteri atau saudara sedarah), dan perempuan juga dapat dilayani diatas puku 21 jika ditemani dengan suami atau anggota keluarganya.

Copyright©viva

Dimana kebijakan tersebut yang langsung menjadi perbincangan hangat dan ditentang oleh sejumlah kalangan masyarakat, yang menilai bupati Bireuen tersebut yang sudah terlalu berlebihan serta membuat aturan mengenai syariat. Murni merupakan aktivis perempuan dari lembaga GASAK, misalnya, yang menilai

Kebijakan bupati Bireun itu membatasi ruang lingkup pekerja perempuan.

Pemerintah jangan asal mengeluarkan kebijakan. Bagaimana dengan kami yang misalnya punya tamu dari luar dan memang harus ketemu di warung kopi atau kafe,” kata, Murni kepada wartawan di Aceh, Hidayatullah, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Rabu (5/9).

Lanjut Baca : Soal Fatwa Haram Pasang Bendera di Masjid, MUI Tegaskan Itu HOAX!

Murni yang mengatakan, hampir seluruh ketentuan baru yang dikeluarkan oleh bupati tersebut yang dikatakan tak masuk akal, sebab diskriminatif terhadap kaum perempuan, padahal mereka juga banyak yang harus bekerja guna memenuhi kebutuhan keluarganya.

Untuk tidak melayani perempuan setelah pukul 21.00 WIB, dan mengharamkan perempuan duduk satu meja dengan laki-laki, itu tidak masuk akal. (Kalau masalahnya zinah) Memangnya perempuan saja yang berbuat dosa (sehingga dibatasi hanya sampai jam 21)? Lalu, sesama laki-laki juga bisa bermaksiat, kali,” cetusnya.

Mengenai haram atau halal sebagai kewenangan lembaga ulama yang memiliki otoritas fatwa, bukan dari bupati. Pendapat serupa juga dilontarkan oleh salah seorang pengusaha, Syarifah Reynisa, yang mengaku sering menghabiskan waktu diluar seperti kafe atau warung kopi untuk rapat dengan rekan kerja.

Lanjut Baca : Berita Terkini: MUI Tegaskan Fatwa Haram Angpao Imlek Adalah Hoax !

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here