Sering Blunder, Mengapa Jokowi dan Prabowo Tidak Manfaatkan Juru Bicara ?

0
157
Copyright©detik

Dinilai Sering Salah Bicara, Kenapa Jokowi dan Prabowo Tidak Gunakan Juru Bicara ?

Indowarta.com – Pakar komuniasi yakni Hendri Satrio yang mengatakan soal dua pasangan calon presiden yaitu, Joko Widodo dan Prabowo Subianto, dimana yang dinilai tidak menggunakan peran juru bicara (jubbir) dalam kampanye mereka. Terlebih menurutnya, para capres terutama bagi Jokowi yang dianggap mampu mengurangi blunder yakni dengan menggunakan jubir tersebut.

Lihat Juga : Inikah Dilema Prabowo? Dirangkul 212, Ditinggal Moderat !

“Harusnya Jokowi menggunakan juru bicara. Jadi kalau-kalau salah bisa di-counter. Tapi enggak, Pak Jokowi senang ngomong sendiri,” kata Satrio di diskusi Setnas Prabowo-Sandiaga, Menteng, Selasa (4/12/2018).

jokowi
Copyright©kompas

Menurut pandangan Satrio, jika para capres yang menanggapi suatu peristiwa di akhir, sementara para jubir yang menanggapi di awal, sehingga bakal mengurangi kesalahan.

WAJIB BACA :  Ruhut Sitompul: Dukung Jokowi, Ahok Tak Ingin Terjun ke Dunia Politik Lagi !

“Lebih baik fungsi jubir digunakan, jadi kalau ada salah bisa diperbaiki,” ujarnya.

Kemudian Satrio yang menilai, jika capres yang harus lebih berhati-hati saat menyampaikan pendapat. “Sekarang harus hati-hati nanti blunder lagi. Sekarang Pak Prabowo tone jadi lebih tenang, jadi gimana tim medianya,” ucapnya.

“Sementara Pak Jokowi, enggak harus semua pertangaan wartawan dijawab. Kalau belum ada jawabannya enggak dijawab enggak apa-apa,” ucap Satrio.

Dimana Satrio yang mengatakan jika pertarungan pada Pilpres 2019 ini yang bakal berbeda dengan 2014. “2014 Pak Jokowi banyak relawan, sekarang 2019 sudah jadi komisaris. Sementara di kubu Pak Prabowo ada alumni 212 yang sangat militan,” ucapnya.

WAJIB BACA :  Prabowo-Sandi, Gerilya di Jateng, PDIP: Pendukung Jokowi Makin Solid !

Lihat Juga : Dari Kacamata Pengamat, Reuni Akbar 212 Bisa Rugikan Prabowo-Sandiaga !

Jika gaya komunikasi presiden Jokowi yang tidak dirubah, maka diperkirakan elektabilitas Jokowi-Prabowo bakal sama pada Februari 2019 nanti, tambah Satrio. “Ini kalau dibiarkan sampai Februari akan 50:50,” ucap Satrio.

Lepas dari itu, Jokowi yang enggan memberikan tanggapan terkait penanganan kasus penyiraman air keras kepada penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan. Terlebih, kasus Novel Baswedan ini yang telah menginjak hari ke-602. Disini Jokowi yang meminta kepada wartawan untuk bertanya langsung kepada

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian. Dimana pada saat ini, kasus penyiraman air kras terhadap Novel yang terus ditangani oleh kepolisian.

Lihat Juga : Prabowo Turut Berduka, Saat Ada Peserta Reuni 212 Meninggal Dunia !

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here