Jusuf Kalla Ungkapkan Penyebab Defisit Neraca Perdagangan RI Yang Melebar

0
1456
Copyright©tribun

Begini Antisipasi Jusuf Kalla Terkait Bengkak-nya Defisit Neraca Perdagangan

Indowarta.com – Seperti yang diketahui bahwa Defisit neraca perdagangan adalah mimpi buruk bagi Negara mana pun. Neraca perdagangan yang terus tergerus defisit, jika diketahui defisit transaksi berjalan yang besar, maka bisa membuat perekonomian berantakan. Defisit neraca perdagangan Indonesia sendiri diketahui juga semakin melebar.

Baca Juga : Sisa Setahun, Ini Target yang Dikejar Pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla !

Hal ini diketahui dari sebuah laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan bahwa defisit neraca perdagangan Indonesia mencapai 2,05 miliar dollar pada November 2018. Wakil Presiden, Jusuf Kalla sendiri telah mengungkapkan penyebab utama yang membuat neraca perdagangan dalam negeri defisit ini adalah menurunnya harga komoditas Dunia. Padahal komoditas adalah sektor andalan Indonesia dalam perdagangan luar negeri.

WAJIB BACA :  Inilah Permintaan dan Harapan Jusuf Kalla Di Hari Lahir Pancasila!

Namun terkait hal ini,  Jusuf Kalla juga sudah mempersiapkan langkah antisipasi dan menurutnya ini adalah solusi jangka panjang diantaranya bagaimana Pemerintah masuk dalam pola perdagangan yang lebih baik dengan Negara-Negara lainnya. “Kemarin kan dengan empat negara eropa sudah selesai. Ini kita lagi berunding menyelesaikan Australia dengan AS, dan juga nanti dengan Uni Eropa,” jelasnya.

Copyright©tribun

Wakil Presiden juga menjelaskan bahwa langkah tersebut telah dilakukan dengan Negara di Asia Tenggara dan hasilnya terbukti baik.”Itu antara lain cara agar posisi ekspor kita lebih baik lah, karena Thailand, Vietnam, juga memiliki perjanjian seperti itu, karena itu kita mengejar sistem itu, agar ekspor kita bisa lebih baik,” paparnya.

WAJIB BACA :  PDIP Kaji Kemungkinan Jusuf Kalla Jadi Cawapres Bersama Jokowi!

Untuk saat ini, Jusuf Kalla juga menuturkan, proses perundingan dengan Australia yaitu Indonesia – Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (AI-CEPA) sudah hampir selesai. Sedangkan kesepakatan serupa dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat diharapkan selesai pada awal tahun 2019 mendatang. Sekedar informasi bahwa sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) sendiri sempat melaporkan tentang membengkak-nya defisit neraca perdagangan tersebut karena terjadi defisit di sektor migas sebesar USD 1,46 miliar serta non-migas hingga USD 0,58 miliar. Kepala BPS, Suhariyanto sendiri meminta pemerintah lebih gencar mengendalikan impor dan menggenjot ekspor.

Baca Juga : Jusuf Kalla Terbang ke Palu Tinjau Kondisi Korban Pascagempa dan Tsunami !

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here