Ternyata Ini Alasan NASA Pantau Gunung Anak Krakatau yang Sebabkan Tsunami Anyer !

0
29301
Copyright©liputan6

NASA Soroti Aktivitas Gunung Anak Krakatau Lantaran Picu Tsunami Anyer !

Indowarta.com – Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan faktor utama pemicu munculnya tsunami Anyer pada Sabtu 22 Desember 2018 malam sekitar pukul 21.00 WIB. Walaupun begitu, hal tersebut memang belum dapat dipastikan oleh pihak berwenang. Pastinya, anak Krakatau yang disebut-sebut faktor utama adanya tsunami Anyer

Ikuti Juga : Kisah Putra Mandala Sakti, Bayi yang Ditemukan di Atas Pohon Pasca Tsunami Palu !

Tersebut adalah satu dari 100 gunung berapi yang hingga kini terus dipantau oleh NASA menggunakan satelit Earth Observing-1 atau EO-1. Kenapa demikian?

Inilah dua alasan yang membuat NASA mengamati aktivitas Anak Krakatau. Disamping bererupsi terus-menerus, sebab lain soal masa lalunya. Yakni,  diketahui bahwa Gunung Krakatau meletus pada 27 Agustus 1883 sekitar pukul 10.20 WIB dengan kekuatan 13.000 kali bom atom yang meratakan Hiroshima dan Nagasaki, Jepang. Dimana adanya letusan gunung api yang terkenal paling kolosal sepanjang sejarah.

WAJIB BACA :  Jokowi dan Para Istri Menteri Bakal Kunjungi Pengungsi di Banten Hari Ini !
Copyright©liputan6

Adapun kala itu, suara letudan gunung Krakatau yang terdengar hingga Madagaskar dan Australia. Dua pertiga bagian gunung tenggelam ke dasar laut, sehingga menimbulkan gelombang tsunami yang menewaskan puluhan ribu orang.

“Anak Krakatau muncul dari laut kurang dari 80 tahun lalu, ia merupakan laboratorium alam untuk mengamati perkembangan suatu ekosistem baru,” begitulah isi dari situs NASA.

Adapun seperti umumnya dari sekitar 130 gunung berapi yang aktif di Indonesia, gunung Krakatau terbentuk di sepanjang Sunda Arc, yakni mencapai kurva sepanjang 3.000 kilometer di mana Lempeng Australia tenggelam di bawah Lempeng Eurasia.

Ikuti Juga : 4 Fakta Baru Gempa dan Tsunami Sulteng, Soal Relawan Asing hingga Ratusan Sekolah Darurat…

Adapun sebelumnya, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung yang diketahui telah mengalami 18 kali gempa letusan sepanjang pengamatan Senin (26 November 2018) sampai dengan Selasa dini hari 27 November 2018. Dimana pada waktu itu teramati 8 kali letusan dengan tinggi 200-600 meter warna asap hitam.

WAJIB BACA :  Penjelasan BMKG Soal Gempa Lebak Banten Berkekuatan 5,2 SR yang Tak Dirasakan Warga !

Berdasarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Bandarlampung, pada pengamatan 26 November 2018, pukul 00.00 WIB sampai dengan 24.00 WIB, secara visual malam dari CCTV adanya lontaran material pijar tinggi 100-200 meter di atas puncak.

Kesimpulan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau Level II (Waspada), yang mana masyarakat/wisatawan tak boleh mendekati kawah dalam radius 2 km dari kawah.

Ikuti Juga : Viral, Lukisan Tsunami 4 Tahun Silam Jadi Kenyataan, Sang Pelukis Ungkap Sumber Inspirasi dari…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here