Ada Retakan Baru di Gunung Anak Krakatau Mungkin Bisa Sebabkan Tsunami !

0
252
Copyright©antara

Berpotensi Tsunami, Ada Retakan Baru di Gunung Anak Krakatau !

Indowarta.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang telah menemukan adanya retakan baru di lereng Gunung Anak Krakatau. Dimana retakan tersebut yang ditakutkan akan menimbulkan tsunami susulan di pesisir Selat Sunda. Sementara Kepala BMKG Dwikorita Karnawati yang mengatakan,

Lanjut Baca : Gunung Anak Krakatau Menyusut, Nelayan Mengaku Sempat Melihat Gunung Terbelah !

Retakan tersebut yang terlihat berdasarkan pemantauan pada 30 Desember 2018. Adapun posisi dari retakan tersebut yang berada di lereng yang dinilai arah utara hingga selatan. Ketika dipantau, retakan tersebut yang terlihat belum menyambung.

Copyright©merdeka

“Dikhawatirkan kalau terjadi erupsi lagi yang masih belum menyambung itu bisa semakin memanjang lurus menyambung, akibatnya bidang lemah (di lereng gunung) bisa roboh masuk ke laut,” kata Dwikorita saat dihubungi, Rabu (2/1).

WAJIB BACA :  BMKG Prediksikan Akan Ada Cuaca Ekstrem 3 Hari Ke Depan di Pulau Jawa!

Kemungkinan, besaran dari materi yang bisa jadi longsor adanya retakan baru tersebut yang tergolong lebih kecil dari pada sebelumnya. Dimana longsoran lereng gunung Anak Krakatau tersebut yang dinilai berpotensi tsunami pada 22 Desember 2018 dengan volume mencapai hingga 90 juta meter kubik. Sementara retakan baru tersebut, yang diduga berpotensi sebabkan longsoran dengan volume 60,7 juta meter kubik.

Lanjut Baca : Zona Bahaya Gunung Anak Krakatau Diperluas Hingga 5 Kilometer !

Dari hasil temuan ini, Dwikorita yang berharap masyarakat dapat tetap waspada, namun tak perlu terlalu khawatir. Lantaran, disamping volume longsoran yang diprediksi memiliki volume yang lebih kecil kemungkinan bisa menyebabkan tsunami, aktivitas erupsi gunung Anak Krakatau yang juga semakin berkurang.

WAJIB BACA :  Sempat Khawatir, Erupsi Gunung Anak Krakatau Jadi Tontonan Warga Cilegon !

“Kami sampaikan ke bupati dan aparat agar tetap waspada meski potensinya menurun, erupsinya menurun, dan volumenya menurun, tapi masih ada potensi. Sehingga zona waspada dikurangi menjadi 500 meter dari tepi pantai,” sebutnya.

Melalui zona waspada tersebut, Dwikorita yang menerangkan, tak berarti masyarakat tidak boleh beraktivitas, namun masyarakat boleh saja melakukan aktivitas di pinggir pantai, selagi kondisi cuaca terang dan cerah, tetapi harus selalu waspada ketika ada ombak yang datang dapat dilihat dengan jelas, sehingga memudahkan untuk melakukan evakuasi diri secepat mungkin.

Lanjut Baca : BMKG Masih Kesulitan Pantau Kawah Gunung Anak Krakatau Usai Longsor !

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here