Ribuan WNI di Sydney Tanda Tangani Petisi Pemilu Ulang Lantaran Tak Bisa Mencoblos !

0
14510
Copyright©tribunnews

Sebab Tak Bisa Mencoblos, Ribuan WNI di Sydney Tanda Tangani Petisi guna Lakukan Pemilu Ulang !

Indowarta.com – Terdapat ratusan WNI di Sydney, Australia diketahui tengah dirundung perasaan kecewa. Hal tersebut disebabkan bahwa ratusan WNI yang dipaksa berstatus golput lantaran tak diberikan kesempatan untuk mencoblos. Dimana pada Sabtu, 13 April 2019, WNI di Austraslia serempak tengah melakukan pemilu.

Lihat Juga : Hari Ini, Pemungutan Suara Pemilu 2019 Digelar di 3 Negara !

Sementara rasa kekecewaan massa yang tak dapat mencoblos diluapkan di sosial media. Rupanya banyak dari WNI yang mengeluh tentang pelaksanaan pemilu di Sydney di grup Facebook The Rock yang beranggotakan WNI yang tinggal di Australia. Terlebih, sekarang ini terhitung lebih dari 3.000 WNI sudah menandatangani petisi guna mendesak untuk melakukan pemilu ulang di Sydney.

WAJIB BACA :  Waketum PAN Kritik soal Klaim Kemenangan Prabowo Tanpa Data yang Valid !
Copyright©kompas

“Kami sudah melaporkan soal ratusan WNI yang tidak bisa mencoblos ke KPU. Apakah akan dilkukan pemilu tambahan atau tidak kami tunggu keputusan KPU pusat,” ucap Heranudin, Ketua Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Sydney.

Adapun Heranudin yang mengatakan bahwa pihaknya tak mengantisipasi massa bakal membludak. Sebab diperkirakan, lebih dari 400 WNI tidak dapat melakukan pencoblosan lantaran waktu pencoblosan yang tidak memungkinkan. Sementara ratusan orang yang “dipaksa” berstatus golput ini berstatus daftar pemilih khusus (DPK).

Sebetulnya, dalam aturan main pemilu disebutkan bahwa pemilih yang berstatus DPK berhak mencoblos pada satu jam terakhir atau sebelum pukul 18.00 waktu Sydney. Tetapi, nyatanya PPLN Sydney yang tidak sanggup menampung adanya lonjakan massa sehingga antrian membeludak. Adapun salah satu TPS yang membludak massanya yakni TPS Town Hall.

WAJIB BACA :  Pencoblosan di Luar Negeri Kacau, KPU Tunggu Laporan dari Bawaslu !

“Panitia kewalahan karena satu TPS hanya ada tujuh orang petugas. Antrean di luar ekspektasi kami,” ungkap Heranudin kepada Kompas.com, Minggu (14/4/2019).

Lihat Juga : Jika Ada Kecurangan Pemilu, Habib Rizieq Minta Rakyat Protes Keras ke Bawaslu !

Bahkan, Heranudin menambahkan jika pihaknya tidak dapat melanjutkan proses pemilu usai  pukul 18.00 Waktu Sydney lantaran mereka menyewa ruangan di Town Hall hingga pukul 20.00. hal tersebut diklaim jika meski kemarin ratusan WNI tertahan di luar gedung Town Hall,

namun keputusan untuk menutup proses pemungutan suara yang dilakukan melalui musyawarah mufakat antara PPLN, Panwaslu, perwakilan Mabes Polri, saksi dari masing-masing paslon dan saksi parpol.

WAJIB BACA :  Aksi "Walk Out" SBY Dinilai Bisa Timbulkan Efek Negatif ke Partai Demokrat !

Adapun, Melisa salah seorang WNI yang melakukan pencoblosan suara di Town Hall menilai jika PPLN tak profesional saat menjalankan tugas. Dia mengutarakan, dia tiba di Town Hall pada pukul 16.00 dan kemudian tidak ada kejelasan untuk bisa mencoblos.

Lihat Juga : ACTA Akan Bawa Pulang Habib Rizieq Shihab Sebelum Pemilu 2019 !

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here