Kisah Tragis Pejuang Perempuan Indonesia Berhadapan dengan Serdadu Belanda

Di tengah-tengah perang kemerdekaan, beberapa perempuan Indonesia harus menemui nasib buruk dalam hidupnya: menjadi pelampiasan nafsu seks para serdadu Belanda.

Kisah Tragis Pejuang Perempuan Indonesia Berhadapan dengan Serdadu Belanda
Sabtu, 18 Maret 2023 07:08 Reporter : Merdeka
Kisah Tragis Pejuang Perempuan Indonesia Berhadapan dengan Serdadu Belanda Perempuan Indonesia dan para serdadu Belanda. ©2023 HendiJo

Merdeka.com - Di tengah-tengah perang kemerdekaan, beberapa perempuan Indonesia harus menemui nasib buruk dalam hidupnya: menjadi pelampiasan nafsu seks para serdadu Belanda.

Penulis: Hendi Jo

taboola mid article

Hingga menjelang kematiannya pada akhir 2008, Letnan Jenderal (Purn) Soegih Arto tak pernah-benar-benar bisa melupakan peristiwa itu. Masih terbayang dalam benaknya.

Kala itu, sekelompok prajurit Korps Pasukan Khusus KNIL Belanda (KST) melakukan aksi kekerasan seks (pemerkosaan) terhadap sejumlah perempuan desa di Gunung Halu (sekarang masuk dalam wilayah Kabupaten Bandung Barat).

"Rasanya masih terdengar jelas jeritan dari para perempuan yang diperkosa itu," ujar Soegih Arto dalam biografinya, Saya Menulis Anda Membaca, Pengalaman Letjen (Purn) Soegih Arto.

2 dari 3 halaman

Diperkosa Mayor Belanda

Soegih yang saat itu merupakan komandan Batalyon 22 Djaja Pangrerot Divisi Siliwangi tidak bisa berbuat apa-apa. Selain terpaksa menyaksikan pemandangan menyesakan itu dari balik semak-semak di sebuah bukit.

Selain jumlah pasukannya lebih sedikit, dia pun lebih mengkhawatirkan keselamatan ratusan orang kampung lainnya yang tengah ditawan pasukan Baret Hijau tersebut. Menurutnya posisi orang-orang kampung lainnya (termasuk anak-anak dan orang tua) persis ada di tengah kumpulan para prajurit KST.

Kendati tak banyak dicatat dalam dokumen-dokumen sejarah, aksi pemerkosaan yang dilakukan tentara Belanda sejatinya benar-benar terjadi saat era revolusi.

Peristiwa pembersihan di Sulawesi Selatan pada 1947. Selain pembunuhan massal, serdadu Belanda pun melakukan pemerkosaan terhadap perempuan-perempuan yang terlibat dalam aksi bawah tanah melawan militer Belanda.

Salah satu korban itu adalah Sitti Hasanah Nu’mang. Selain penyiksaan, penghinaan dan pelecehan, Sitti diperkosa seorang perwira tinggi militer Belanda bernama Mayor De Bruin.

"Dalam kesendirian, saya meratapi nasib. Ayah ditembak, saya tercemar dan tidak berdaya," ujar Sitti seperti dikisahkannya dalam Seribu Wajah Wanita Pejuang dalam Kancah Revolusi 45 yang disunting oleh sejarawan Irna H.N. Hadi Soewito.

3 dari 3 halaman

Diperkosa lalu Dibunuh

Ada pula kejadian di Peniwen, Malang, Jawa Timur pada 19 Februari 1949. Ini merupakan contoh lain praktik kekerasan seks yang dilakukan militer Belanda di Indonesia.

Menurut A.H. Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan:Perang Gerilya Semesta II Jilid X, sekurangnya terdapat tiga aktivis perempuan gereja Kristen Protestan yang menjadi korban kebrutalan tersebut.

"Bahkan Nasib mereka lebih malang lagi: setelah diperkosa kemudian dibunuh secara kejam," ungkap Nasution.

Tahun 2016, salah satu korban selamat bernama Temiri diberitakan media-media Belanda memenangkan gugatan atas pemerintah Kerajaan Belanda.

Di pengadilan tinggi Den Haag, nenek berusia 86 tahun itu dapat membuktikan bahwa dirinya adalah salah satu korban dari aksi pemerkosaan yang dilakukan sejumlah prajurit di Peniwen enam puluh tujuh tahun sebelumnya.

Seperti dilansir oleh Dutchnews, atas kemenangan tersebut, Temiri berhak mendapatkan ganti rugi sejumlah € 7.500 (tahun 2016 sama dengan Rp. 114.000.000), sesuai putusan yang dibacakan oleh Pengadilan Den Haag pada 27 Januari 2016. Namun tentunya uang ganti rugi itu tidak akan bisa menebus penderitaan batin Temiri sepanjang hidupnya.

[noe]

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow