Polisi Ungkap Cerita di Balik Peristiwa Teater Maut SMK Bandung Barat
Siswa menusukan gunting ke dadanya

Bandung, IDN Times - Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Cimahi mengungkap hasil penyelidikan peristiwa teater maut di SMK Dharma Pertiwi, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat yang mengakibatkan satu orang siswi berinisial MRD meninggal pada Kamis (20/2/2025).
Proses penyelidikan melibatkan pemeriksaan terhadap 18 orang saksi mulai dari guru hingga teman-teman korban. Kapolres Cimahi AKBP Tri Suhartanto mengatakan, insiden ini berawal dari korban yang mengikuti latihan teater untuk ujian praktik sekolah.
Adapun dalam teater yang bertemakan ‘Kenakalan Remaja’, korban berperan sebagai siswi yang sedang hamil.
"Di mana kejadian itu pelaksanaan ujian praktik berupa seni drama tari dan musik yang pada saat itu korban bersama teman-temannya itu membawakan drama terkait dengan pentas seni judulnya 'Kenakalan Remaja'," kata Tri dalam konferensi pers di Mapolres Cimahi, Kamis (27/2/2025).
"Dalam kegiatan praktik tersebut, korban menggunakan properti asli berupa gunting yang diduga kuat menjadi penyebab korban terluka hingga mengakibatkan meninggal dunia," tuturnya.
1. Awalnya menggunakan jarum
Dalam cerita teater, siswi hamil itu coba mengakhiri hidupnya dengan cara menusukan benda tajam ke bagian tubuh. Adapun sang siswa saat itu sebenarnya telah menggunakan jarum, namun balon tidak pecah.
"Dalam pelaksanaan latihan memang menggunakan jarum yang sudah disiapkan, dan jarum ini ternyata pada saat latihan itu tidak membuat balon yang memang sudah disiapkan itu tidak pecah," katanya.
2. Akhirnya menggunakan gunting
Setelah dilakukan latihan beberapa kali, saat gladi resik teater, akhirnya diganti dengan gunting, dan berhasil menghantam balon di bagian perut. Namun pada saat menusukan ke dada, balon sempat tidak pecah, akhirnya ditusuk secara kencang dan berakhir mencelakakan korban.
"Pada saat menusukan ke perutnya, ya itu memang pecah tapi pada saat ke dada sebelah kiri tidak pecah. Akhirnya korban berusaha untuk menusukan kembali. Nah, di situlah kecelakaan itu terjadi," ungkapnya.
3. Jangan sampai peristiwa serupa terjadi di sekolah
Berdasarkan hasil penyelidikan ini, Tri menyimpulkan, korban meninggal dunia dikarenakan kecelakaan murni. Meski begitu tidak menutup kemungkinan adanya dugaan kelalaian pihak sekolah, jika ditemukan bukti lainnya.
"Kami mengimbau kepada semua sekolah, baik yang ada di wilayah hukum, maupun di seluruh pendidikan Indonesia, kalau bisa dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pentas seni, apapun itu jangan mencerminkan kekerasan," kata dia.
Baca Juga: PSU Pilkada Tasikmalaya, DPRD Jabar Pertanyakan Kinerja KPU
Baca Juga: DPRD Jabar Desak Kemenag Perbaiki Asrama Haji Indramayu
What's Your Reaction?






