Sibuknya Penghulu di Cirebon Pontang-panting Nikahkan Pengantin

Di musim pernikahan, KUA Kecamatan Kesambi yang kini hanya memiliki tiga orang penghulu, bisa melayani hingga 16 peristiwa nikah setiap harinya.

Sibuknya Penghulu di Cirebon Pontang-panting Nikahkan Pengantin
image
Cirebon -

Jumlah penghulu di Kota Cirebon, Jawa Barat dinilai masih kurang ideal untuk melayani masyarakat yang ingin melangsungkan pernikahan. Saat ini, jumlah penghulu di Kota Cirebon hanya ada 12 orang. Sementara peristiwa nikah di wilayah itu bisa mencapai ribuan setiap tahunnya.

Dari 12 penghulu yang ada di Kota Cirebon, salah satunya adalah Sujai (48). Ia merupakan penghulu dari Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon.

Saat berbincang dengan detikJabar, Sujai sendiri mengakui jika jumlah penghulu di Kota Cirebon saat ini masih sangat kurang. Di tengah kondisi seperti ini, Sujai sendiri mengaku kerap kewalahan untuk melayani masyarakat yang ingin melangsungkan prosesi pernikahan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terutama di waktu-waktu tertentu yang diyakini oleh sebagian masyarakat sebagai momen baik untuk melangsungkan pernikahan. Seperti bulan Syawal, Dzulhijjah, Rabiulawal dan lain-lain.

"Di bulan-bulan itu biasanya banyak masyarakat yang melangsungkan hajatan (pernikahan). Mungkin memang kepercayaannya begitu," kata Sujai, baru-baru ini.

Di momen-momen itu, KUA Kecamatan Kesambi yang kini hanya memiliki tiga orang penghulu, bisa melayani hingga 16 peristiwa nikah setiap harinya.

Setiap memasuki musim nikah, Sujai bersama dua orang penghulu lainnya pun harus bisa berbagi tugas dan mengatur waktu dengan baik. Sebab, di momen itu, tidak jarang mereka harus bisa menghadiri setiap acara pernikahan dalam waktu yang berdekatan.

"Waktu bulan haji (Dzulhijjah) tahun ini, sehari itu ada 16 pasang (pengantin). Di kita (KUA Kesambi) kan ada tiga penghulu. Jadi setiap satu penghulunya itu kebagian 5 sampai 6 (peristiwa nikah)," kata dia.

"Segitu itu kita sudah sibuk banget. Masalahnya yang bikin sibuk itu kadang waktunya mepet. Tiga pasang itu kadang waktunya itu jam 8, jam 9, jam 10. Mereka nggak mau kalau diubah jamnya," tambah Sujai.

Selama musim nikah, tidak jarang juga Sujai bersama beberapa rekannya yang berprofesi sebagai penghulu harus bekerja dari pagi hingga larut malam.

"Kalau pulang sampai malam sudah biasa. Karena kadang ada juga masyarakat yang melangsungkan pernikahan itu malam. Selepas Isya lah," kata dia.

Menurut Sujai, jumlah penghulu se Kota Cirebon yang ada saat ini kurang mencukupi untuk melayani masyarakat yang ingin melangsungkan pernikahan. Secara keseluruhan, jumlah penghulu dari semua KUA yang ada di Kota Cirebon saat ini hanya ada 12 orang.

Jumlah tersebut pun dinilai kurang ideal jika melihat banyaknya peristiwa nikah di Kota Cirebon yang setiap tahunnya bisa mencapai ribuan. Terlebih, dalam beberapa tahun ke depan, ada sejumlah penghulu yang akan memasuki masa pensiun.

"Kalau peristiwa nikah se Kota Cirebon itu bisa mencapai 2500 sampai 3000 per tahun. Dengan penghulu 12 orang sebetulnya kurang ideal," kata Sujai.

"Sekarang masih 12 penghulu. Di tahun sekarang ada yang mau pensiun satu, di tahun 2024 ada juga yang mau pensiun. Pokoknya sampai tahun 2026, itu ada lima orang yang pensiun," tambah dia.

(yum/yum)

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow