Febrie Adriansyah Bantah Gugat Praperadilan untuk Kaburkan Proses Hukum

Aug 18, 2026 - 10:45
 0  8
Febrie Adriansyah Bantah Gugat Praperadilan untuk Kaburkan Proses Hukum

Febrie Adriansyah, mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus, membantah bahwa pengajuan praperadilan yang dilakukannya ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan bertujuan untuk mengaburkan proses hukum yang tengah berjalan di Kejaksaan Agung (Kejagung). Pernyataan ini disampaikan untuk meluruskan pandangan publik yang sempat meragukan motif dari langkah hukum tersebut.

Ad
Ad

Hak Praperadilan sebagai Perlindungan Hukum

Kuasa hukum Febrie, Febri Diansyah, menegaskan bahwa praperadilan adalah hak konstitusional setiap tersangka yang dijamin oleh undang-undang. Oleh sebab itu, penggunaan praperadilan bukan berarti seseorang mencoba menghindari proses hukum, melainkan upaya untuk memastikan penegakan hukum berjalan sesuai aturan.

"Jadi tidak tepat jika praperadilan dipahami sebagai cara untuk mengaburkan proses hukum. Praperadilan merupakan hak yang diberikan oleh undang-undang dan berlaku bagi setiap orang tanpa membedakan latar belakang maupun jabatan," ujar Febri kepada wartawan pada Selasa (18/8).

Alasan Pengajuan Praperadilan dan Fokus Pengujian

Menurut Febri, sidang praperadilan diajukan untuk menguji keabsahan tindakan aparat penegak hukum selama proses penanganan perkara yang menjerat Febrie. Ia menilai penetapan tersangka terhadap kliennya terkesan dipaksakan sehingga perlu diuji melalui mekanisme praperadilan.

Beberapa aspek yang akan diuji antara lain:

  • Penetapan tersangka
  • Penggeledahan
  • Upaya paksa lainnya

Semua prosedur tersebut akan diperiksa apakah telah sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku.

Permasalahan Konstruksi Tindak Pidana Asal dalam Kasus TPPU

Febri juga menyampaikan bahwa tim advokatnya akan menyampaikan sejumlah permasalahan terkait penetapan tersangka dan pemeriksaan calon tersangka dalam praperadilan. Salah satu fokus utama adalah pengujian konstruksi tindak pidana asal dalam perkara Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang digabung dalam satu surat perintah penyidikan.

Menurutnya, konstruksi tersebut harus merujuk pada Pasal 74 Undang-Undang TPPU beserta penjelasannya dan Putusan Mahkamah Konstitusi. Ia menegaskan bahwa yang penting bukan apakah penyidik menunggu perkara tindak pidana asal diputus di pengadilan, tetapi kejelasan tindak pidana asal sebagai dasar penyidikan TPPU.

"Yang perlu dilihat adalah apakah tindak pidana asalnya sudah jelas sebagai dasar dari penyidikan TPPU tersebut," pungkas Febri.

Konteks Kasus dan Penetapan Tersangka

Kejaksaan Agung telah menetapkan Febrie Adriansyah sebagai tersangka dalam kasus TPPU terkait temuan emas sebanyak 74 kilogram dan uang tunai Rp543 miliar yang disita dari rumahnya di Sentul. Selain Febrie, Kejagung juga menetapkan dua pihak swasta, yaitu Nurman Herin (NH) dan pengacara Don Ritto (DR), sebagai tersangka dalam kasus yang sama karena diduga turut serta melakukan TPPU.

Ketua Tim 9 sekaligus Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Pengawasan, Rudi Margono, menyatakan bahwa dugaan tindak pidana pencucian uang yang dilakukan Febrie terkait dengan jabatan dan aktivitasnya selama bertugas di Kejaksaan.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, langkah Febrie Adriansyah mengajukan praperadilan merupakan strategi hukum yang sah dan wajar dalam konteks sistem peradilan Indonesia. Praperadilan bukan hanya alat untuk menguji legalitas penetapan tersangka dan tindakan penyidik, tetapi juga menjadi mekanisme kontrol terhadap potensi penyalahgunaan wewenang penegak hukum. Dalam kasus yang melibatkan figur publik dan pejabat tinggi seperti Febrie, praperadilan menjadi panggung penting untuk memastikan proses hukum berjalan transparan dan adil.

Selanjutnya, publik perlu mengawasi dengan seksama bagaimana pengadilan memutuskan perkara praperadilan ini, karena hasilnya akan menentukan arah proses hukum selanjutnya, baik dari sisi pembuktian maupun kredibilitas aparat penegak hukum. Tidak kalah penting, kasus ini menjadi cerminan bagaimana penegakan hukum terhadap korupsi dan TPPU dilaksanakan di Indonesia, terutama dalam menghadapi pejabat tinggi negara.

Dengan demikian, perkembangan kasus Febrie Adriansyah dan proses praperadilannya harus terus dipantau sebagai bagian dari upaya menjaga supremasi hukum dan kepercayaan masyarakat terhadap sistem peradilan di tanah air.

Untuk informasi lebih lengkap dan update terbaru mengenai kasus ini, Anda dapat membaca langsung dari sumber berita di CNN Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad