Hanya 30% Remaja Diajari Cara Aman Menggunakan AI di Sekolah, Ini Risikonya

Aug 18, 2026 - 20:20
 0  3
Hanya 30% Remaja Diajari Cara Aman Menggunakan AI di Sekolah, Ini Risikonya

Hanya sekitar 30% remaja yang mengaku pernah mendapat pembelajaran tentang cara menggunakan AI secara aman dari guru mereka, menurut survei terbaru oleh Common Sense Media. Temuan ini mengindikasikan bahwa pendidikan mengenai literasi AI dan keselamatan digital belum menjadi bagian penting dalam kurikulum sekolah saat ini.

Ad
Ad

Kurangnya Pendidikan Literasi AI di Sekolah

Survei yang dilakukan pada remaja berusia 13 hingga 17 tahun ini mengungkapkan bahwa pembicaraan penting tentang bagaimana AI bekerja, cara memverifikasi keakuratan chatbot, dan langkah-langkah untuk tetap aman saat menggunakan AI jarang atau bahkan tidak pernah terjadi dalam kelas. Michael Robb, kepala riset Common Sense Media, menegaskan, "Sebagian besar pembicaraan ini belum terjadi sampai sekarang."

Robb juga mencatat bahwa ada kemungkinan siswa tidak selalu menyadari apakah topik AI sudah termasuk dalam materi pembelajaran mereka. Selain itu, efektivitas pengajaran AI bagi sebagian kecil yang mendapat edukasi tersebut juga belum diketahui secara pasti.

Yang cukup mengejutkan, survei menunjukkan 70% remaja menggunakan AI untuk mengerjakan tugas sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun penggunaan AI meluas, edukasi tentang penggunaannya yang aman dan bertanggung jawab masih sangat minim.

Risiko dan Bahaya AI bagi Anak dan Remaja

Tidak hanya soal penggunaan AI untuk mengerjakan tugas, ada risiko serius yang mengintai anak-anak dan remaja, terutama terkait dengan konten yang dihasilkan AI. Salah satunya adalah fenomena nude deepfakes — gambar atau video yang dibuat menggunakan AI untuk menampilkan seseorang dalam keadaan telanjang atau pornografi palsu.

Dr. Chad Steel, profesor forensik digital di George Mason University, menyatakan bahwa pembuatan nude deepfake sudah cukup umum di kalangan remaja dan dianggap hampir sebagai perilaku normal. "Ada kesalahpahaman besar di kalangan orang dewasa mengenai seberapa sering dan seberapa familiar remaja dengan teknologi AI generatif," ujarnya.

Deepfake jenis ini memiliki dampak yang sangat merugikan, termasuk risiko pemerasan, pelecehan seksual, dan masalah kesehatan mental seperti depresi dan kecemasan. Selain itu, gambar-gambar tersebut dapat tersebar luas dan permanen di internet, menyulitkan korban untuk menghapus jejak digital mereka.

Peran Orang Tua dan Guru dalam Melindungi Anak dari Bahaya AI

Dengan minimnya edukasi di sekolah, tanggung jawab utama ada pada orang tua dan pendidik untuk memberikan pengarahan yang tepat kepada anak-anak. Berikut beberapa langkah penting yang bisa dilakukan:

  • Bicarakan bahaya AI dan deepfake secara terbuka dengan anak, jelaskan mengapa mereka harus menghindari membuat atau menyebarkan konten seksual yang dihasilkan AI.
  • Ajarkan pentingnya privasi dengan membatasi siapa yang dapat mengakses foto dan informasi pribadi mereka secara online, khususnya untuk mencegah penyalahgunaan gambar oleh pihak lain.
  • Mulai diskusi sejak dini, idealnya saat anak memasuki kelas lima SD atau bahkan lebih awal jika anak mulai membicarakan konten seksual.
  • Berikan dukungan dan kepercayaan pada anak agar mereka merasa nyaman melaporkan jika melihat teman atau mereka sendiri mengalami risiko terkait AI.
  • Tanamkan nilai keberanian dan integritas agar anak mampu menolak dan menentang perilaku yang berisiko atau tidak etis.

Justine Carino, seorang psikoterapis, menekankan pentingnya mematahkan mitos bahwa berdiskusi soal seks akan mendorong anak melakukan hal yang tidak semestinya. Sebaliknya, edukasi dini bersifat preventif dan protektif.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kurangnya edukasi AI di sekolah bukan hanya soal melewatkan materi pembelajaran teknologi, melainkan juga mengabaikan pembentukan karakter dan kesadaran digital yang sangat dibutuhkan anak-anak saat ini. Generasi Z dan milenial muda hidup di dunia yang semakin dipengaruhi oleh AI, dan tanpa bimbingan yang tepat, mereka berisiko terjerumus ke dalam bahaya yang bisa memengaruhi masa depan mereka secara serius.

Lebih jauh, masalah seperti penyebaran deepfake dan konten eksploitasi anak yang semakin mudah dibuat oleh AI menuntut respons cepat dan komprehensif dari berbagai pihak—termasuk pemerintah, sekolah, dan orang tua. Pendidikan literasi digital dan keamanan AI harus menjadi prioritas nasional agar anak-anak tidak menjadi korban teknologi yang seharusnya memberdayakan mereka.

Kedepannya, penting untuk memantau perkembangan kebijakan pendidikan terkait AI di Indonesia dan global, serta mendorong pelatihan guru agar mampu mengajarkan topik ini secara efektif. Orang tua juga harus proaktif membuka dialog dengan anak dan mencari sumber terpercaya untuk mendampingi mereka dalam penggunaan teknologi yang aman.

Untuk informasi lebih lanjut dan sumber asli, kunjungi artikel lengkap di CNN Indonesia dan sumber terpercaya lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad