Gempa Susulan di Sikka Picu Longsor Bukit Uje Ubi, Pengungsi Panik Berlarian

Aug 19, 2026 - 14:20
 0  2
Gempa Susulan di Sikka Picu Longsor Bukit Uje Ubi, Pengungsi Panik Berlarian

Gempa susulan yang mengguncang wilayah Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Rabu, 19 Agustus 2026, memicu longsor besar di Bukit Uje Ubi. Peristiwa ini menyebabkan kepanikan di antara warga yang tengah berada di tenda pengungsian, bahkan mereka berlarian menyelamatkan diri dari bahaya yang mengancam.

Ad
Ad

Longsor tersebut terjadi sekitar pukul 11.45 Wita, segera setelah gempa mengguncang wilayah itu. Video viral yang beredar menunjukkan material longsor yang meluncur deras dari Bukit Uje Ubi, sebuah bukit yang menjadi jalur penghubung antara Desa Rokirole dan Nitunglea.

Gempa Susulan Guncang Palue dan Dampaknya di Bukit Uje Ubi

Nestor Langga, warga Desa Rokirole, menjelaskan bahwa longsor terjadi tepat setelah gempa susulan yang mengguncang daerah itu. Ia mengungkapkan bahwa warga yang berada di tenda pengungsian langsung panik dan beberapa bahkan berlari ketakutan untuk menghindari bahaya.

"Panik dan sesekali lari ketakutan," kata Nestor saat dikonfirmasi.

Menurut data BMKG, dua gempa beruntun terjadi pada siang hari tersebut. Gempa pertama berkekuatan Magnitudo 2,9 dengan kedalaman 13 kilometer terjadi di Laut Mbay, Nagekeo, tepat pukul 11.45 Wita. Selang 12 menit kemudian, gempa kedua berkekuatan Magnitudo 4,3 dengan kedalaman 10 kilometer mengguncang wilayah Timur Laut Ruteng-Manggarai pada pukul 11.57 Wita.

Dampak Gempa dan Longsor Terhadap Warga Pengungsi

Warga yang sudah berada di lokasi pengungsian akibat gempa sebelumnya kini menghadapi trauma dan ketakutan baru. Situasi menjadi semakin genting ketika material longsor menuruni bukit, memaksa pengungsi untuk segera menyelamatkan diri dari reruntuhan yang membahayakan.

Fenomena ini menambah daftar panjang dampak bencana yang melanda wilayah NTT sejak awal Agustus 2026. Salah satunya adalah cerita dari Felix Tampu, warga Elar, Manggarai Timur, yang mengalami gempa besar pada 15 Agustus lalu di Desa Rana Gapang. Menurut Felix, gempa pertama terjadi dini hari sekitar pukul 03.00 Wita dengan kekuatan kecil, namun gempa susulan sekitar pukul 05.30 Wita menyebabkan kerusakan serius, termasuk robohnya tembok rumah tetangga.

"Semua orang tidak bisa lihat karena abu tembok bangunan," ungkap Felix.

Hingga kini, banyak warga terdampak gempa yang belum menerima bantuan memadai, meskipun pendataan korban sudah dilakukan oleh aparat desa setempat sejak beberapa hari terakhir.

Pentingnya Respons Cepat dan Bantuan Terpadu

Kondisi ini menegaskan pentingnya respons cepat dari pemerintah dan lembaga kemanusiaan untuk membantu para korban gempa dan longsor di NTT. Selain penanganan darurat, penyediaan fasilitas pengungsian yang aman dari ancaman longsor juga sangat dibutuhkan untuk mencegah kepanikan dan potensi jatuhnya korban jiwa lebih banyak.

  • Segera memperkuat pengawasan dan mitigasi longsor di daerah rawan seperti Bukit Uje Ubi.
  • Meningkatkan koordinasi antara BMKG, BNPB, dan pemerintah daerah untuk informasi dini gempa dan potensi bencana susulan.
  • Mempercepat distribusi bantuan logistik, medis, dan psikososial kepada pengungsi dan korban terdampak.
  • Melakukan edukasi mitigasi bencana kepada warga agar lebih siap menghadapi gempa dan longsor.

Menurut laporan detikBali, kejadian gempa susulan dan longsor ini merupakan peringatan serius bahwa wilayah NTT masih sangat rentan terhadap bencana alam yang beruntun.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, gempa susulan yang terjadi di Sikka dan memicu longsor di Bukit Uje Ubi bukan hanya soal kerusakan fisik, tetapi juga mencerminkan fragilitas sistem penanganan bencana di daerah rawan. Kepanikan warga di tenda pengungsian menunjukkan bahwa fasilitas pengungsian saat ini belum sepenuhnya aman dan nyaman, apalagi jika terjadi bencana lanjutan seperti longsor.

Lebih jauh, kejadian ini harus menjadi wake-up call bagi pemerintah pusat dan daerah untuk memperkuat sistem peringatan dini dan mitigasi bencana secara menyeluruh di wilayah NTT. Kesiapsiagaan masyarakat dan infrastruktur harus ditingkatkan agar potensi korban jiwa dan kerusakan bisa diminimalisir di masa depan.

Warga maupun pemangku kepentingan juga harus waspada terhadap potensi gempa susulan dan bencana alam berikutnya. Pemantauan terus menerus oleh BMKG dan koordinasi lintas sektor harus menjadi prioritas untuk mencegah tragedi serupa berulang.

Simak terus perkembangan terkini dan pastikan informasi bencana dari sumber resmi agar Anda dan keluarga tetap aman dan siap menghadapi situasi darurat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad