Pejabat Rusia Sebut AS Munafik Usai Serang Iran, Medvedev Kritik Diplomasi Nuklir

Feb 28, 2026 - 14:36
 0  3
Pejabat Rusia Sebut AS Munafik Usai Serang Iran, Medvedev Kritik Diplomasi Nuklir

Ketegangan global memuncak setelah pejabat Rusia mengkritik keras Amerika Serikat (AS) terkait serangan militer yang dilancarkan ke Iran pada 28 Februari 2026. Dmitry Medvedev, Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia dan sekutu Presiden Vladimir Putin, menuding AS menggunakan negosiasi nuklir sebagai kedok untuk menyerang Teheran.

Kritik Pedas Medvedev soal Serangan AS ke Iran

Melalui kanal Telegram resminya, Medvedev menyatakan bahwa operasi militer bersama AS dan Israel yang terjadi pada Sabtu tersebut memperlihatkan "wajah asli" Gedung Putih. Ia menegaskan bahwa AS tidak pernah berniat sungguh-sungguh untuk mencapai kesepakatan damai dalam pembicaraan nuklir dengan Iran.

"Sang pembawa damai sekali lagi menunjukkan jati diri mereka yang sebenarnya," tulis Medvedev. "Semua negosiasi dengan Iran hanyalah operasi penyamaran. Tidak ada yang meragukan itu. Tidak ada yang benar-benar ingin menyepakati apa pun."

Strategi "Tekanan Maksimum" Trump dan Dampaknya

Keputusan Presiden Donald Trump untuk melancarkan serangan ini dianggap sebagai puncak kebijakan "tekanan maksimum" yang kembali ia terapkan pada periode kedua masa jabatannya. Trump menilai diplomasi sebelumnya terlalu lunak sehingga memberi waktu bagi Iran untuk memperkuat jaringan proksinya di Timur Tengah dan mempercepat program pengayaan uranium bawah tanah.

Gedung Putih menegaskan, "Operasi ini merupakan langkah preventif untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir dan menghentikan ancaman terhadap jalur perdagangan minyak di Selat Hormuz."

Trump juga menegaskan, "Waktu untuk berdebat sudah habis. Iran telah mengabaikan setiap kesempatan untuk perdamaian, dan hari ini kita mengirimkan pesan yang jelas: Amerika tidak akan membiarkan rezim yang mengancam dunia dengan teror untuk memiliki senjata paling mematikan di bumi."

Serangan Balasan Iran dan Ketegangan di Timur Tengah

Tak lama setelah serangan udara AS, Pasukan Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran yang menargetkan aset-aset militer AS dan sekutunya di kawasan Timur Tengah. Di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, terdengar ledakan keras yang menyebabkan penutupan sebagian ruang udara sebagai langkah darurat.

Pangkalan Armada Kelima AS di Manama, Bahrain menjadi sasaran rudal Iran. Sirene bahaya udara meraung dan warga terpaksa berlindung ke ruang bawah tanah. Di Kuwait, sistem pertahanan udara diaktifkan setelah mendeteksi proyektil yang mengarah ke wilayahnya, sehingga ruang udara sipil ditutup sementara.

Di Qatar, Pangkalan Udara Al-Udeid yang menjadi tempat ribuan personel militer AS juga terkena serangan, meski sistem pertahanan Patriot berhasil mencegat beberapa rudal. Eskalasi konflik ini juga meluas ke Irak, di mana fasilitas pasukan koalisi ditembaki.

Masa Depan Ketegangan dan Implikasi Global

Situasi yang semakin memanas di Timur Tengah ini menandai babak baru dalam perseteruan antara AS dan Iran, dengan Rusia sebagai salah satu pengkritik utama kebijakan Washington. Konflik ini berpotensi mempengaruhi stabilitas kawasan dan jalur perdagangan minyak global.

Para pengamat internasional dan pemerintah di kawasan diimbau terus memantau perkembangan dan mencari solusi diplomatik guna meredakan ketegangan yang berpotensi meluas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.