Pengeluaran Big Tech untuk AI Dorong Saham Semikonduktor Melesat di Wall Street

Jul 26, 2026 - 21:20
 0  1
Pengeluaran Big Tech untuk AI Dorong Saham Semikonduktor Melesat di Wall Street

Pengeluaran besar-besaran perusahaan teknologi besar (Big Tech) untuk infrastruktur kecerdasan buatan (AI) terus menjadi pendorong utama kenaikan saham semikonduktor di Wall Street. Alphabet, induk Google dan pengembang alat AI Gemini, baru-baru ini menaikkan proyeksi pengeluaran modal (capex) mereka untuk tahun 2026, menjadi antara 195 miliar hingga 205 miliar dolar AS. Angka ini semakin mengukuhkan optimisme terhadap ekosistem AI, terutama di sektor infrastruktur seperti pusat data, jaringan, dan chip khusus.

Ad
Ad

Pengeluaran Modal Alphabet dan Dampaknya pada Ekosistem AI

Dalam laporan keuangan kuartal kedua, Alphabet mengungkapkan bahwa mereka telah menghabiskan lebih dari 78 miliar dolar AS pada paruh pertama tahun ini. Tren pengeluaran modal yang meningkat selama 12 kuartal terakhir mencerminkan komitmen besar perusahaan dalam memperkuat infrastruktur AI-nya. Menurut data Yahoo Finance, ini menjadi sinyal kuat bagi para investor bahwa industri infrastruktur AI masih sangat menjanjikan.

"Jika Anda mencari peluang saham turunan, perdagangan AI masih berlangsung," ujar Mark Mahaney, kepala riset internet Evercore ISI.

Ia menambahkan bahwa saham infrastruktur AI melonjak berkat pengeluaran besar dari para hyperscaler seperti Google, Amazon, Meta, dan Microsoft. Perusahaan-perusahaan ini, dengan modal besar dan leverage yang kuat, bersedia mengeluarkan biaya infrastruktur lebih besar dari yang diperkirakan banyak pihak.

Divergensi dan Kinerja Saham Semikonduktor

Meskipun saham teknologi besar seperti Alphabet sempat mengalami koreksi tajam pada minggu lalu, saham produsen memori seperti Micron Technology (MU), SK Hynix, dan Sandisk justru naik signifikan. Hal ini dipicu oleh kenaikan harga chip memori akibat kelangkaan pasokan. Sementara itu, Intel (INTC) membukukan hasil kuartal yang melampaui ekspektasi Wall Street, didorong oleh permintaan kuat untuk unit pemrosesan pusat (CPU) yang digunakan dalam pengembangan agen AI.

Intel juga mendapat dukungan dari investasi pemerintah AS dan kemitraan manufaktur dengan perusahaan besar seperti Google untuk memproduksi chip khusus. Saham Intel naik sekitar 14% sepanjang tahun ini, menandakan sentimen positif pasar terhadap sektor semikonduktor yang terkait AI.

"Saya menyebutnya sebagai persaingan antara pembuat dan pengguna," kata Steve Sosnick, kepala strategi Interactive Brokers.

Indeks Semikonduktor PHLX (^SOX) meski turun dari rekor tertinggi Juni, masih mencatat kenaikan 66% sepanjang tahun dan 111% selama 12 bulan terakhir, jauh melampaui kenaikan 8-16% yang dicatat indeks S&P 500.

Strategi Investasi dan Risiko Sektor Semikonduktor

Namun, tidak semua analis menyarankan untuk membeli seluruh saham semikonduktor secara seragam. Gil Luria dari D.A. Davidson membedakan dua tipe saham semikonduktor berdasarkan valuasi dan prospek siklus industri:

  1. Semikonduktor dengan valuasi tinggi dan siklus kuat hingga 2030, seperti AMD, Intel, dan perusahaan semikonduktor khusus seperti Cerebras.
  2. Semikonduktor dengan valuasi rendah dan siklus yang dianggap sudah lewat, seperti Micron dan Nvidia, yang dianggap sangat undervalued jika investasi AI berlanjut setidaknya satu tahun lagi.

Salah satu faktor ketidakpastian terbesar adalah kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Kenaikan harga minyak mentah ke level $100 per barel dan melonjaknya imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun ke 4,7%, serta imbal hasil obligasi 30 tahun yang bertahan di atas 5%, menambah tekanan pada biaya pinjaman. Hal ini berpotensi menantang perusahaan teknologi dengan pertumbuhan tinggi yang mengandalkan utang untuk ekspansi.

Prospek dan Diversifikasi Portofolio AI

Pengeluaran modal dari perusahaan hyperscaler lain seperti Microsoft, yang akan melaporkan hasil keuangan minggu depan, juga berpotensi menimbulkan fluktuasi pasar. Analis dari Miller Tabak, Matt Maley, memperingatkan bahwa reaksi pasar atas berita tersebut dapat memicu volatilitas menjelang akhir musim panas.

UBS menyarankan pendekatan diversifikasi dengan eksposur seimbang di seluruh rantai nilai AI, mulai dari semikonduktor, perangkat keras, hingga perusahaan teknologi besar dan sektor defensif. Sementara itu, Brent Schutte dari Northwestern Mutual Wealth Management menyarankan agar investor tidak terlalu terkonsentrasi pada satu tema AI saja, dan mempertimbangkan sektor lain seperti jasa keuangan dan real estat yang juga mendapat manfaat dari perkembangan AI.

"Terus cari peluang dengan valuasi yang lebih murah," katanya.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kenaikan pengeluaran modal Big Tech untuk AI menandai fase transisi penting di industri teknologi global. Investasi besar dalam infrastruktur seperti pusat data dan chip khusus bukan hanya mendorong pertumbuhan jangka pendek, tetapi juga membentuk fondasi teknologi jangka panjang yang akan mengubah ekosistem digital.

Namun, investor harus waspada terhadap risiko makroekonomi, terutama kenaikan suku bunga dan volatilitas harga komoditas yang dapat mempengaruhi biaya modal dan margin keuntungan. Selain itu, pemilihan saham semikonduktor harus lebih selektif, mengingat perbedaan signifikan antara perusahaan yang sedang dalam siklus pertumbuhan versus yang sudah memasuki fase jenuh.

Ke depan, perkembangan laporan keuangan perusahaan hyperscaler lain seperti Microsoft dan Amazon akan menjadi indikator penting untuk mengukur kelanjutan tren investasi AI. Investor disarankan mengikuti dinamika ini secara cermat dan mempertimbangkan diversifikasi portofolio guna mengelola risiko secara optimal.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad