Impor Bawang Putih Meningkat 28%, Namun Harga Konsumen Masih Tinggi

Jul 27, 2026 - 13:51
 0  3
Impor Bawang Putih Meningkat 28%, Namun Harga Konsumen Masih Tinggi

Volume impor bawang putih Indonesia pada semester pertama 2026 mengalami lonjakan signifikan sebesar 28 persen secara tahunan dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Namun, kenaikan pasokan ini belum mampu menekan harga bawang putih di tingkat konsumen secara merata, khususnya di wilayah timur Indonesia seperti Maluku dan Papua yang masih menghadapi harga sangat tinggi.

Ad
Ad

Lonjakan Impor Bawang Putih Semester I-2026

Menurut Nawandaru Dwi Putra, Direktur Bina Pasar Dalam Negeri Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag), realisasi impor bawang putih hingga akhir Juli 2026 sudah mencapai 71,88 persen dari kuota yang dialokasikan oleh pemerintah, jauh lebih tinggi dibandingkan capaian periode sama tahun 2025 yang baru 53,68 persen.

"Secara keseluruhan kinerja realisasi impor tahun ini memang lebih baik dibandingkan tahun lalu," ujar Nawandaru dalam Rapat Koordinasi Inflasi Daerah, Senin (27/7).

Percepatan impor ini diharapkan bisa memperbesar pasokan nasional yang selama ini sangat bergantung pada bawang putih impor, terutama dari Cina yang memasok lebih dari 90 persen kebutuhan dalam negeri.

Harga Bawang Putih Masih Mahal di Wilayah Timur

Meski terjadi peningkatan pasokan, data Sistem Pemantauan Ketersediaan dan Perkembangan Harga Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kemendag per 24 Juli 2026 menunjukkan harga rata-rata nasional bawang putih jenis Honan hanya turun tipis menjadi Rp37.751 per kilogram, atau turun 3,61 persen dibanding bulan sebelumnya.

Penurunan harga ini terutama terjadi di wilayah non-Maluku dan Papua, dengan harga eceran mencapai Rp36.537 per kilogram, yang sudah 3,85 persen di bawah Harga Acuan (HA) pemerintah Rp38.000 per kilogram.

Sementara itu, di Maluku dan Papua harga bawang putih melonjak tinggi hingga Rp63.461 per kilogram, meskipun turun 0,73 persen secara bulanan, tetap 58,65 persen di atas harga acuan wilayah yakni Rp40.000 per kilogram.

"Kenaikan harga di wilayah Maluku dan Papua memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap tingginya harga bawang putih secara nasional," tambah Nawandaru.

Distribusi dan Logistik Jadi Penyebab Utama

Menurut Kemendag, permasalahan utama bukan lagi pasokan bawang putih nasional yang minim, tetapi efisiensi distribusi dan biaya logistik yang tinggi, terutama untuk wilayah timur Indonesia.

Saat ini, mayoritas bawang putih impor masuk melalui tiga pelabuhan utama di pulau Jawa dan Sumatra, yakni Belawan (Medan), Tanjung Priok (Jakarta), dan Tanjung Perak (Surabaya). Hal ini menyebabkan rantai distribusi ke Maluku dan Papua menjadi panjang dan biaya pengangkutan meningkat drastis.

Untuk mengatasi masalah ini, Kemendag telah mendorong agar sebagian impor langsung diarahkan ke Pelabuhan Makassar sebagai hub distribusi kawasan timur, guna memperpendek rantai logistik dan menekan biaya.

"Kami sudah beberapa kali melakukan rapat koordinasi dengan para importir untuk mendorong pemasukan bawang putih dari Tiongkok langsung ke Makassar," jelas Nawandaru.

Selain itu, faktor eksternal seperti cuaca buruk di Tiongkok yang menghambat panen dan pembatasan akses di Selat Hormuz turut menaikkan biaya angkutan laut global. Perbedaan ongkos logistik dari Tiongkok ke Makassar dan Surabaya bahkan mencapai US$100 per ton, atau sekitar Rp2.000 per kilogram.

Indikasi Ketidakefisienan Rantai Distribusi Dalam Negeri

Kemendag juga mengungkap adanya indikasi selisih harga yang terlalu besar antara pasar induk dan harga eceran di tingkat konsumen. Temuan ini sebelumnya juga disampaikan Badan Pangan Nasional (Bapanas).

Kemendag meminta aparat berwenang untuk menindaklanjuti dugaan penyimpangan tersebut agar harga bawang putih di pasar tidak membebani konsumen secara berlebihan.

"Ada indikasi harga di pasar induk dengan harga di tingkat eceran memiliki gap yang terlalu tinggi. Kami sepakat perlu dilakukan penindakan apabila ditemukan pelanggaran," tegas Nawandaru.

Selain itu, koordinasi dengan importir akan diperkuat untuk memastikan distribusi bawang putih yang sudah diimpor sampai ke konsumen dengan harga sesuai ketetapan pemerintah.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kenaikan volume impor bawang putih yang cukup signifikan pada semester pertama 2026 menunjukkan upaya pemerintah untuk menstabilkan harga komoditas penting ini sudah berjalan dengan baik dari sisi pasokan. Namun, kenyataan bahwa harga di wilayah timur Indonesia masih sangat mahal mengindikasikan masalah serius pada rantai distribusi dan infrastruktur logistik nasional yang belum teratasi secara menyeluruh.

Ketimpangan harga antarwilayah ini tidak hanya memberatkan konsumen di Maluku dan Papua, tetapi juga berpotensi menimbulkan ketidakadilan ekonomi dan sosial yang lebih luas. Pemerintah perlu mempercepat pembangunan infrastruktur logistik, memperbaiki manajemen distribusi, dan mengawasi praktik perdagangan agar harga bawang putih bisa lebih terjangkau di seluruh pelosok negeri.

Ke depan, pemantauan ketat terhadap realisasi impor, pengaturan harga acuan regional, serta pengembangan pelabuhan alternatif seperti Makassar sebagai hub distribusi timur menjadi kunci agar lonjakan impor dapat diterjemahkan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat luas, bukan hanya di Jawa atau Sumatra saja.

Untuk informasi lengkap dan update terkini mengenai impor bawang putih dan kebijakan perdagangan nasional, Anda bisa mengakses artikel asli dari Fortune Indonesia dan berita terkait di CNN Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad