Komandan CENTCOM Sebut Serangan AS di Hormuz Tidak Efektif Tanpa Perang Besar

Jul 27, 2026 - 15:00
 0  3
Komandan CENTCOM Sebut Serangan AS di Hormuz Tidak Efektif Tanpa Perang Besar

WASHINGTON – Komandan tertinggi Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, Laksamana Brad Cooper, menyampaikan kepada Presiden AS Donald Trump bahwa serangan militer terhadap target-target Iran di sekitar Selat Hormuz tidak lagi efektif. Pernyataan ini dilaporkan oleh Axios pada Minggu (26/7/2026), mengutip dua sumber yang mengetahui langsung pembicaraan tersebut.

Ad
Ad

Cooper, yang memimpin Komando Pusat AS (CENTCOM), menjelaskan bahwa sejumlah target penting untuk pengeboman di wilayah tersebut telah habis atau rusak parah. Ia menambahkan bahwa melanjutkan serangan tanpa melibatkan operasi tempur berskala besar tidak akan memberikan hasil signifikan.

"Tidak ada gunanya melanjutkan serangan kecuali AS kembali ke operasi tempur besar-besaran," ujar Cooper kepada Presiden Trump.

Pernyataan itu muncul setelah Trump secara mendadak menghentikan kampanye pengeboman yang telah berlangsung selama 13 hari pada hari Jumat lalu. Penghentian serangan ini terjadi di tengah upaya mediasi dari negara-negara regional untuk menengahi gencatan senjata baru antara AS dan Iran.

Situasi Terkini di Selat Hormuz dan Respons AS

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang sangat vital bagi perdagangan minyak dunia. Meskipun AS telah melakukan serangan terhadap infrastruktur pelabuhan dan fasilitas militer Iran di bagian selatan negara itu, jalur pelayaran ini tetap tertutup untuk pergerakan kapal komersial secara reguler.

Awal bulan ini, AS juga memperketat blokade maritim terhadap Iran sebagai respons atas serangan terhadap kapal tanker yang mencoba melewati selat tersebut. Ketegangan ini memperkuat kekhawatiran eskalasi konflik yang berpotensi meluas di kawasan Timur Tengah.

Kekhawatiran Stok Amunisi dan Gencatan Senjata yang Memudar

Beberapa laporan media AS menyebutkan bahwa Presiden Trump khawatir akan menipisnya persediaan pencegat rudal dan sistem pertahanan udara yang digunakan untuk menangkal serangan balasan Iran berupa rudal dan drone terhadap pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah. Namun, Trump secara tegas membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa pasukannya tidak kekurangan amunisi.

Selain itu, kedua belah pihak, AS dan Iran, telah mengindikasikan bahwa gencatan senjata yang sebelumnya dicapai pada bulan April dan diperpanjang melalui nota kesepahaman (MoU) pada 17 Juni, secara efektif telah berakhir. Hal ini menunjukkan risiko meningkatnya ketegangan yang dapat berujung pada pertempuran lebih luas.

Fakta Penting Serangan AS di Hormuz

  • Kampanye pengeboman AS selama 13 hari berakhir mendadak pada Jumat lalu.
  • Target-target militer Iran di sekitar Selat Hormuz sudah banyak yang hancur, menyulitkan operasi serangan lanjutan.
  • Blokade maritim AS diperketat setelah serangan terhadap kapal tanker di selat tersebut.
  • Persediaan pencegat rudal AS menjadi perhatian, meski dibantah oleh Trump.
  • Gencatan senjata sebelumnya dianggap berakhir dengan potensi eskalasi konflik meningkat.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, pernyataan Laksamana Cooper yang menilai serangan AS di sekitar Selat Hormuz tidak efektif tanpa operasi tempur besar-besaran menandakan betapa sulitnya mencapai tujuan strategis AS di kawasan tersebut dengan pendekatan militer terbatas. Hal ini mencerminkan dilema yang dihadapi pemerintahan Trump dalam mengelola konflik dengan Iran yang sangat kompleks dan berisiko meluas.

Selain itu, penghentian tiba-tiba kampanye pengeboman dan indikasi berakhirnya gencatan senjata memperlihatkan bahwa diplomasi dan tekanan militer berjalan beriringan namun tidak mudah menemukan titik temu yang stabil. Risiko konfliknya bukan hanya berdampak pada keamanan regional tetapi juga bisa mengganggu stabilitas ekonomi global mengingat pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur minyak utama dunia.

Ke depan, publik dan pengamat internasional perlu memantau dengan seksama langkah diplomatik yang diambil oleh AS dan negara-negara regional untuk menghindari eskalasi lebih lanjut. Selain itu, pengembangan strategi baru yang lebih berimbang antara kekuatan militer dan diplomasi menjadi kunci agar konflik ini tidak meluas menjadi perang besar-besaran yang diingat oleh Laksamana Cooper sebagai satu-satunya skenario efektif untuk serangan lebih lanjut.

Untuk informasi lebih lengkap dan update terkini terkait situasi di Timur Tengah, Anda dapat membaca laporan lengkapnya di SINDOnews dan sumber resmi lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad