13 Negara dengan Warga Paling Jarang ke Luar Negeri, Indonesia Urutan Kedua
Survei terbaru dari Pew Research Center mengungkap daftar 13 negara dengan warga yang paling jarang melakukan perjalanan ke luar negeri. Survei yang melibatkan 30.861 responden dari 24 negara ini menempatkan India sebagai negara dengan persentase warga paling tinggi yang belum pernah bepergian ke negara lain, mencapai 95 persen. Indonesia mengikuti di posisi kedua dengan 92 persen responden yang belum pernah ke luar negeri.
Negara dengan Warga Paling Jarang ke Luar Negeri
Dalam survei Spring 2023 Global Attitudes Survey yang dilakukan pada Februari hingga Mei 2023, Pew Research Center menemukan bahwa sebagian besar warga di India dan Indonesia belum pernah melakukan perjalanan internasional. Berikut adalah daftar lengkap negara dengan persentase warga yang jarang bepergian ke luar negeri:
- India — 95%
- Indonesia — 92%
- Nigeria — 90%
- Brasil — 87%
- Meksiko — 79%
- Afrika Selatan — 77%
- Kenya — 72%
- Argentina — 64%
- Jepang — 34%
- Polandia — 32%
- Amerika Serikat — 23%
- Yunani — 21%
- Korea Selatan — 21%
Data menunjukkan bahwa warga di negara berkembang seperti India, Indonesia, dan beberapa negara Afrika serta Amerika Latin memiliki tingkat perjalanan internasional yang rendah. Di India, hanya 3 persen warga pernah mengunjungi satu hingga empat negara lain, sedangkan di Indonesia sebanyak 6 persen.
Negara dengan Warga Paling Sering ke Luar Negeri
Berbeda dengan negara-negara di Asia dan Afrika, negara-negara Eropa mendominasi daftar warga dengan pengalaman perjalanan internasional terbanyak. Di Swedia, sebanyak 57 persen responden telah mengunjungi 10 negara atau lebih, dan 31 persen lainnya pernah bepergian ke lima hingga sembilan negara. Belanda juga mencatat angka tinggi, dengan 48 persen responden yang telah mengunjungi setidaknya 10 negara lain.
- Swedia — 99,5% pernah ke luar negeri
- Belanda — 99%
- Jerman — 96%
- Inggris — 94%
- Kanada — 92%
- Prancis — 90%
- Australia — 88%
- Israel — 87%
- Italia — 86%
- Spanyol — 84%
- Hungaria — 83%
- Yunani — 79%
- Korea Selatan — 79%
Survei secara umum menemukan bahwa 79 persen responden di 24 negara pernah mengunjungi setidaknya satu negara lain, sedangkan 21 persen sisanya belum pernah bepergian ke luar negeri.
Faktor Ekonomi dan Geografis yang Mempengaruhi Mobilitas
Pew Research Center menyoroti faktor ekonomi sebagai elemen penting yang memengaruhi kemampuan dan frekuensi warga melakukan perjalanan internasional. Negara-negara dengan pendapatan lebih tinggi cenderung memiliki proporsi warga yang lebih banyak bepergian ke luar negeri. Hal ini juga berlaku pada tingkat individu, di mana responden berpenghasilan lebih tinggi lebih mungkin pernah mengunjungi negara lain dibanding yang berpendapatan rendah.
Contohnya, di Belanda, 61 persen masyarakat dengan pendapatan tinggi telah mengunjungi minimal 10 negara, sedangkan pada kelompok pendapatan rendah hanya 29 persen.
Selain pendapatan, ukuran dan lokasi geografis negara turut berperan. Negara-negara Eropa yang umumnya lebih kecil dan berdekatan dengan banyak negara lain, serta kebijakan kebebasan bergerak dalam Uni Eropa, memudahkan mobilitas lintas negara bagi warganya.
Keinginan Bepergian Meski Belum Pernah ke Luar Negeri
Meski banyak warga di beberapa negara belum pernah bepergian ke luar negeri, survei menunjukkan bahwa tidak sedikit dari mereka yang memiliki keinginan untuk melakukan perjalanan jika mendapat kesempatan. Kenya menjadi negara dengan persentase tertinggi, dimana 81 persen responden yang belum pernah bepergian internasional menyatakan ingin mengunjungi negara lain suatu saat.
Sementara itu, di Indonesia, 27 persen responden yang belum pernah ke luar negeri menyatakan tidak berminat bepergian meskipun mendapat kesempatan. Angka ini juga tercatat di Brasil sebesar 24 persen dan India 29 persen.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, survei ini menggarisbawahi ketimpangan akses dan kemampuan mobilitas internasional yang sangat dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan geografis. Posisi Indonesia sebagai negara dengan persentase warga yang jarang bepergian ke luar negeri menunjukkan masih besarnya tantangan dalam membuka akses perjalanan bagi masyarakat luas.
Faktor pendapatan yang menjadi penghambat utama perjalanan internasional menuntut perhatian pemerintah dan pelaku industri pariwisata untuk menciptakan peluang yang lebih inklusif. Misalnya, dengan mengembangkan destinasi wisata domestik yang terjangkau dan mempromosikan kemudahan akses visa serta transportasi.
Selain itu, perbedaan geografis dan kebijakan antarnegara juga harus diantisipasi agar masyarakat Indonesia memiliki kesempatan yang sama seperti warga negara Eropa yang lebih mudah mengakses perjalanan lintas negara. Dalam jangka panjang, peningkatan mobilitas internasional dapat berdampak positif bagi ekonomi dan wawasan global masyarakat Indonesia.
Kita perlu terus memantau bagaimana tren ini berkembang, terutama dalam konteks pemulihan pascapandemi dan kebijakan pemerintah terkait perjalanan internasional. Untuk informasi lebih lengkap, Anda dapat membaca survei lengkap di laman Fortune Indonesia dan laporan resmi Pew Research Center.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0