UM Perkuat Budaya K3 dengan Pelatihan Analisis Risiko untuk Tenaga Laboratorium

Jul 30, 2026 - 10:40
 0  1
UM Perkuat Budaya K3 dengan Pelatihan Analisis Risiko untuk Tenaga Laboratorium

Universitas Negeri Malang (UM) terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melalui pelatihan khusus bagi tenaga laboratorium dan tenaga kesehatan. Pelatihan ini diselenggarakan oleh Direktorat Sumber Daya Manusia (SDM) UM pada Rabu, 29 Juli 2026, di Aula Lantai 9 Graha Rektorat UM. Langkah strategis ini bertujuan untuk memberikan bekal kompetensi dalam analisis risiko serta pencegahan kecelakaan kerja di lingkungan laboratorium.

Ad
Ad

Pelatihan Analisis Risiko sebagai Upaya Memperkuat Budaya K3

Kepala Subdirektorat SDM UM, Kristina Hestiningsih, menegaskan bahwa penerapan K3 harus menjadi budaya yang melekat dalam aktivitas laboratorium, bukan hanya sekadar memenuhi kewajiban administratif.

“Mari kita jadikan keselamatan sebagai budaya kerja, bukan sekadar kewajiban, sehingga laboratorium UM menjadi tempat yang aman, unggul, dan mendukung lahirnya inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,”
ujarnya saat membuka pelatihan.

Pelatihan ini membekali peserta dengan kemampuan untuk mengidentifikasi potensi bahaya, menganalisis tingkat risiko, serta menyusun langkah pengendalian sesuai standar K3. Upaya ini diharapkan menciptakan lingkungan laboratorium yang aman, sehat, dan produktif sekaligus mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.

Materi Pelatihan: Identifikasi Bahaya dan Analisis Risiko

Materi pertama disampaikan oleh Anita Sulistyorini, S.Kep., Ns., M.Kes. yang membahas pentingnya identifikasi faktor bahaya dan pengukuran risiko di laboratorium. Sebelum sesi dimulai, peserta mengikuti pre-test untuk mengukur pemahaman awal mereka mengenai identifikasi bahaya dan analisis risiko.

Anita menjelaskan bahwa potensi bahaya di laboratorium bisa berasal dari berbagai sumber, seperti bahan kimia, peralatan, aktivitas kerja, dan kondisi lingkungan yang tidak aman.

“Bahaya itu ada di mana-mana. Oleh karena itu, kita harus mampu mengenali potensi bahaya agar risiko kecelakaan kerja dapat dicegah sejak awal,”
tuturnya.

Selanjutnya, dr. Erianto Fanani, S.Ked., M.KKK. memaparkan materi analisis risiko K3 di laboratorium. Peserta mendapatkan pemahaman tentang tahapan penilaian risiko mulai dari identifikasi bahaya, penentuan tingkat risiko, hingga penyusunan strategi pengendalian. Materi ini juga dilengkapi dengan simulasi dan studi kasus yang sering dijumpai dalam aktivitas laboratorium sehari-hari.

Manfaat dan Dampak Pelatihan bagi UM

Dengan pelatihan ini, UM menegaskan komitmennya untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam penerapan standar keselamatan kerja. Penguatan budaya K3 diharapkan mampu mendukung terciptanya lingkungan laboratorium yang lebih aman serta menghasilkan inovasi pendidikan dan penelitian yang berkualitas.

Pelatihan ini juga menjadi bagian dari upaya UM dalam menjaga kualitas pendidikan dan penelitian di tengah tantangan risiko keselamatan di lingkungan akademik. Sebab, laboratorium yang aman dan sehat merupakan fondasi penting bagi keberhasilan proses belajar mengajar dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, langkah UM memperkuat budaya K3 melalui pelatihan analisis risiko merupakan game-changer dalam menciptakan lingkungan kerja yang tidak hanya aman, tapi juga produktif dan inovatif. Banyak institusi pendidikan seringkali mengabaikan aspek K3 dengan alasan administratif, padahal risiko kecelakaan di laboratorium dapat berakibat fatal.

Pelatihan ini bukan hanya meningkatkan kesadaran, tapi juga membangun kompetensi teknis tenaga laboratorium dalam mengenali dan mengelola risiko dengan tepat. Jika diimplementasikan secara konsisten, UM bisa menjadi pionir dalam penerapan budaya K3 di perguruan tinggi, bahkan bisa menjadi model bagi institusi lain di Indonesia.

Ke depan, penting untuk melihat bagaimana UM mengintegrasikan hasil pelatihan ini ke dalam kebijakan operasional dan pengawasan laboratorium secara berkelanjutan. Pembaruan materi dan pelatihan lanjutan juga perlu dilakukan agar budaya K3 terus berkembang dan adaptif terhadap perubahan teknologi serta metode kerja baru.

Untuk informasi lebih lengkap, Anda bisa membaca laporan aslinya di Disway Malang. Selain itu, berita terkait K3 di institusi pendidikan dapat dilihat di situs resmi Kementerian Ketenagakerjaan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad