5 Alasan Financial Anxiety Picu Anak Muda Lakukan Doom Spending

Jul 23, 2026 - 14:20
 0  2
5 Alasan Financial Anxiety Picu Anak Muda Lakukan Doom Spending

Fenomena financial anxiety yang dialami anak muda semakin marak dan menjadi pemicu utama kebiasaan doom spending atau belanja impulsif yang berlebihan sebagai pelarian dari stres. Meski memberikan kepuasan sesaat, kebiasaan ini justru berujung pada masalah keuangan yang lebih serius dan rasa bersalah berkepanjangan.

Ad
Ad

Artikel ini mengulas lima alasan utama mengapa kecemasan finansial mendorong anak muda untuk berbelanja berlebihan, serta memberikan strategi untuk mengatasi kebiasaan tersebut agar keuangan tetap sehat dan terkendali.

1. Stres dan Cemas Membuat Otak Cari Kepuasan Instan

Ketika mengalami tekanan finansial, otak manusia secara alami mencari cara cepat untuk melepaskan hormon dopamin yang memberikan rasa bahagia. Doom spending merupakan cara instan untuk menghilangkan stres dengan membeli barang baru sebagai bentuk reward diri. Namun, efek bahagia ini hanya sementara — setelah itu, kecemasan dan rasa bersalah biasanya kembali datang.

Untuk menghindari keputusan impulsif, disarankan untuk memberi jeda minimal 24 jam sebelum membeli barang yang tidak mendesak, agar pikiran bisa lebih jernih dan rasional.

2. Ketakutan Masa Depan Memicu Sikap Pasrah dan Pelarian

Kenaikan harga kebutuhan pokok dan properti yang terus melonjak sering membuat anak muda merasa masa depan finansial tak pasti dan suram. Kondisi ini menimbulkan financial anxiety yang membuat sebagian memilih menikmati hidup hari ini dengan belanja berlebihan sebagai pelarian dari kekhawatiran.

Misalnya, membeli kopi kekinian, gadget terbaru, atau barang mewah lainnya ketimbang menabung. Padahal, sikap pasrah ini justru semakin menjauhkan dari kestabilan ekonomi yang dibutuhkan. Membuat target finansial yang realistis dan bertahap menjadi solusi agar tekanan tersebut berkurang.

3. Tekanan Media Sosial dan FOMO Mendorong Belanja Berlebihan

Konten gaya hidup mewah di media sosial tak jarang menimbulkan Fear of Missing Out (FOMO) yang memicu anak muda merasa harus selalu mengikuti tren agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Kebiasaan membandingkan diri ini mendorong tindakan belanja impulsif demi mempertahankan citra di dunia maya.

Banyak yang membeli barang mahal hanya untuk diunggah ke media sosial demi mendapatkan validasi dari orang lain, yang sebenarnya tidak peduli. Mengurangi waktu scrolling dan meng-unfollow akun yang memicu tekanan finansial dapat membantu mengurangi kebiasaan ini.

4. Ilusi Kontrol Saat Berbelanja Jadi Penguat Adiksi

Dalam situasi keuangan yang tidak menentu, belanja memberikan ilusi kontrol atas hidup. Otak menganggap tindakan memilih dan membeli barang sebagai bentuk penguasaan atas situasi yang sulit dikendalikan. Namun, sebenarnya kendali sejati adalah mampu mengelola pengeluaran dengan bijak, bukan justru menghabiskan uang tanpa perencanaan.

Alihkan kebutuhan kontrol ini ke aktivitas lain yang lebih produktif, seperti merapikan kamar atau mencatat pengeluaran harian, agar keinginan belanja impulsif berkurang.

5. Kurangnya Literasi Keuangan Perparah Stres dan Doom Spending

Banyak anak muda belum memahami cara mengelola uang dengan benar, seperti membuat anggaran pengeluaran yang efektif. Ketidaktahuan ini memperburuk kecemasan finansial karena pengeluaran tidak terkontrol dan masalah keuangan tidak terselesaikan.

Belajar literasi keuangan dasar, misalnya dengan metode 50/30/20 untuk kebutuhan pokok, keinginan, dan tabungan, dapat membantu mengurangi stres dan meminimalisir perilaku belanja impulsif.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, financial anxiety yang memicu doom spending bukan hanya masalah individu, tapi juga cerminan kondisi sosial ekonomi dan budaya saat ini. Anak muda kerap menghadapi tekanan sosial dari media dan lingkungan yang meningkatkan stres finansial sekaligus menanamkan standar hidup yang sulit dicapai secara realistis.

Dalam jangka panjang, jika tidak ada intervensi berupa edukasi literasi keuangan dan perubahan pola pikir, risiko krisis keuangan pribadi semakin besar dan berdampak pada kualitas hidup. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat dan institusi pendidikan untuk turut mengedukasi generasi muda agar mampu mengelola keuangan secara sehat dan mengurangi ketergantungan pada pelarian konsumtif.

Ke depan, pembaca disarankan untuk mengikuti perkembangan literasi keuangan terbaru serta mencoba menerapkan strategi pengelolaan uang yang realistis agar mampu keluar dari siklus doom spending dan membangun masa depan finansial yang lebih stabil.

Untuk informasi lebih lengkap mengenai topik ini, Anda dapat membaca artikel aslinya di IDN Times serta mengikuti berita terkini di media terpercaya lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad