Penyakit Hati dalam Islam: Akibat Lemahnya Iman yang Harus Diwaspadai
Penyakit hati dalam Islam bukanlah penyakit medis seperti gangguan liver atau sirosis, melainkan sebuah gangguan spiritual yang memengaruhi hati dan perasaan seorang muslim. Pemahaman ini menjadi fokus pembahasan dalam program Siaran Cahaya Pagi pada Selasa, 28 Juli 2026, yang menghadirkan Ustazah Hasfah Handayani, S.Pd., M.Pd., Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Tenggilis Mejoyo, Kementerian Agama Kota Surabaya.
Pengertian dan Penyebab Penyakit Hati dalam Islam
Menurut Ustazah Hasfah, penyakit hati berawal dari lemahnya keimanan dan ketidakmampuan seseorang dalam menerima ketentuan Allah SWT. Kondisi ini berdampak signifikan pada sikap dan perilaku, serta hubungan seorang muslim dengan Allah dan sesama manusia.
"Penyakit hati adalah gangguan yang ada pada hati dan perasaan seorang muslim. Penyakit ini bukan penyakit medis, melainkan penyakit yang bersifat spiritual atau mental," jelas Ustazah Hasfah dalam siaran tersebut.
Dalam Al-Qur'an, peringatan mengenai bahaya penyakit hati tercantum dalam Surah At-Taubah ayat 125. Ayat ini menegaskan bahwa jika penyakit hati tidak segera diperbaiki, seseorang bisa semakin jauh dari petunjuk hingga berakhir dalam keadaan tidak beriman.
Sepuluh Bentuk Penyakit Hati yang Perlu Diwaspadai
Ustazah Hasfah mengidentifikasi sepuluh bentuk penyakit hati yang sering menyerang umat Islam, yaitu:
- Hasad (iri dengki)
- Sombong
- Riya' (beramal untuk dipuji orang)
- Kikir
- Ujub (bangga diri berlebihan)
- Cinta dunia secara berlebihan
- Buruk sangka
- Sum'ah (ingin didengar pujian)
- Taqtir (pelit)
- Panjang angan-angan
Di antara semua, hasad menjadi yang paling berbahaya karena membuat seseorang tidak senang melihat kebahagiaan orang lain. Sifat ini dapat merusak hubungan sosial sekaligus mengikis pahala, sebagaimana diperingatkan dalam hadis Rasulullah SAW.
Selain itu, riya' dan sombong juga kerap muncul dalam kehidupan sehari-hari. Riya' adalah melakukan amalan agar dilihat dan dipuji orang lain, sedangkan sombong adalah merasa lebih hebat dan menolak kebenaran serta meremehkan orang lain.
Dampak Penyakit Hati dan Cara Mengatasinya
Penyakit hati tidak boleh dianggap remeh karena berpotensi menghalangi seseorang memperoleh keberkahan hidup. Jika dibiarkan, penyakit ini melemahkan kualitas ibadah dan merusak keharmonisan sosial.
Untuk mengobati penyakit hati, umat Islam dianjurkan memperkuat hubungan dengan Allah SWT melalui berbagai amalan, antara lain:
- Membaca Al-Qur'an beserta artinya
- Meningkatkan keimanan dan ketakwaan
- Memperbanyak dzikir
- Melaksanakan salat malam
- Berpuasa
- Memperbanyak rasa syukur
- Ikhlas dalam setiap perbuatan
- Menjaga hubungan baik dengan sesama
- Rutin melakukan muhasabah diri (introspeksi)
"Ikhlas dalam setiap perbuatan, menjaga hubungan baik dengan sesama, dan rutin melakukan muhasabah diri juga menjadi bagian penting dalam membersihkan hati dari berbagai penyakit spiritual," tambah Ustazah Hasfah.
Selain itu, ia mengajak masyarakat membiasakan membaca doa-doa yang diajarkan dalam Al-Qur'an dan hadis agar dijauhkan dari sifat dengki, sombong, pelit, dan penyakit hati lainnya. Doa menjadi ikhtiar yang harus disertai dengan upaya memperbaiki perilaku dan meningkatkan kualitas ibadah.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, pembahasan mengenai penyakit hati sebagai gangguan spiritual ini sangat relevan di tengah meningkatnya tantangan kehidupan modern yang kerap memicu stres dan konflik sosial. Banyak orang salah kaprah menganggap penyakit hati hanya masalah medis, padahal sebenarnya kondisi spiritual seperti iri hati, sombong, dan riya' dapat merusak kualitas hidup dan hubungan sosial secara mendalam.
Lebih lanjut, dampak penyakit hati yang tidak diobati dapat melemahkan keimanan sekaligus menghambat keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, upaya membersihkan hati melalui amalan spiritual dan introspeksi menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga keseimbangan jiwa dan sosial umat Islam.
Ke depan, masyarakat perlu terus diedukasi agar memahami bahwa menjaga kebersihan hati sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Peningkatan pemahaman ini akan membantu umat Islam menghadapi dinamika kehidupan dengan jiwa yang tenang dan hubungan sosial yang harmonis.
Untuk informasi lebih lengkap, Anda dapat membaca langsung sumber aslinya di RRI Surabaya dan mengikuti perkembangan keagamaan di situs resmi Kementerian Agama.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0