Konglomerat RI Oei Tiong Ham, Namanya Abadi di Singapura Lewat Gedung & Jalan

Jul 28, 2026 - 14:30
 0  2
Konglomerat RI Oei Tiong Ham, Namanya Abadi di Singapura Lewat Gedung & Jalan

Oei Tiong Ham adalah salah satu konglomerat asal Indonesia yang memiliki pengaruh besar di Singapura hingga namanya diabadikan di gedung dan jalanan kota tersebut. Meski bisnisnya yang dahsyat di masa lalu kini sudah hilang, jejak kebesaran pria kelahiran Semarang ini tetap terpatri di Negeri Singa.

Ad
Ad

Oei Tiong Ham: Raja Gula Dunia dari Indonesia

Lahir di Semarang, Oei Tiong Ham adalah pemilik Oei Tiong Ham Concern (OTHC), salah satu perusahaan gula terbesar dunia. OTHC bermula dari perusahaan Kian Gwan yang didirikan ayahnya pada 1863. Awalnya bergerak di bidang properti, Kian Gwan kemudian merambah bisnis gula di bawah kepemimpinan Oei yang berhasil memodernisasi dan memperluas bisnis ini.

Sejak akhir 1880-an, Oei berhasil memonopoli pasar gula di Jawa dengan membuka perkebunan tebu dan membangun pabrik gula berskala besar. Dengan strategi tersebut, OTHC mampu mengekspor gula hingga 200 ribu ton pada 1911-1912, mengalahkan banyak perusahaan Barat. Pada puncaknya, OTHC menguasai 60% pasar gula Hindia Belanda dan memperluas bisnisnya ke India, Singapura, hingga London, termasuk lini usaha pelayaran, pergudangan, dan perbankan.

Kekayaan Oei Tiong Ham diperkirakan mencapai 200 juta gulden, yang setara dengan sekitar Rp43,4 triliun jika dikonversi ke harga beras saat ini. Ini menegaskan posisi Oei sebagai salah satu taipan terkaya di zamannya.

Pengaruh dan Warisan Oei di Singapura

Meskipun kesuksesannya besar, Oei menghadapi masalah dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda yang menagih pajak sangat tinggi, termasuk pajak ganda. Merasa diperas, Oei memutuskan pindah ke Singapura pada 1920 dan menetap di sana hingga akhir hayatnya pada 1924.

Di Singapura, Oei membeli tanah dan rumah yang luasnya hampir mencapai seperempat wilayah Singapura, sebuah pencapaian yang hanya bisa dilakukan oleh orang sangat kaya. Aset-aset ini tercatat atas namanya sendiri. Ia juga membeli perusahaan pelayaran Heap Eng Moh Steamship Company Limited dan menjadi pemilik awal saham Overseas Chinese Bank (OCB), yang kini dikenal sebagai OCBC.

Selain itu, Oei berkontribusi besar secara sosial dengan menyumbang US$150.000 untuk pembangunan gedung Raffles College dan mendirikan beberapa sekolah serta menjadi donatur utama kegiatan kemanusiaan di Singapura.

Warisan Oei di Singapura juga terlihat jelas dengan keberadaan Oei Tiong Ham Building di National University of Singapore dan Oei Tiong Ham Park di jalanan kota, yang merupakan penghormatan atas jasa dan pengaruhnya.

Keruntuhan dan Pengambilalihan Bisnis OTHC

Setelah Oei wafat, kejayaan OTHC mulai menurun. Pada 1961, pemerintah Indonesia menuntut OTHC atas dugaan pelanggaran peraturan valuta asing. Menurut putra Oei, Oei Tjong Tay, tuntutan ini merupakan upaya pemerintah untuk menyita aset OTHC karena gagal menguasai perusahaan secara langsung.

Pengadilan Semarang akhirnya memutus OTHC bersalah dan seluruh aset perusahaan disita negara pada 10 Juli 1961, termasuk harta warisan Oei Tiong Ham. Aset ini kemudian dijadikan modal pendirian BUMN tebu, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), pada 1964.

Sejak saat itu, jejak bisnis konglomerasi Oei di Indonesia hilang, begitu pula gaung keturunannya. Bahkan kepemilikan tanah dan rumah di Singapura yang pernah sangat luas juga lenyap tanpa jejak.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, kisah Oei Tiong Ham merupakan gambaran klasik betapa bisnis besar yang dibangun dengan gigih dan inovasi bisa runtuh akibat tekanan politik dan kebijakan negara. Keberhasilan Oei dalam memodernisasi industri gula dan memperluas bisnis lintas negara sempat menjadikannya ikon kemakmuran dan kekuatan ekonomi Asia di masa kolonial.

Namun, peristiwa pengambilalihan aset dan keruntuhan bisnisnya juga memperlihatkan betapa rentannya konglomerat lokal terhadap regulasi dan kepentingan politik yang berubah. Ini menjadi pelajaran penting bagi pebisnis dan pembuat kebijakan saat ini untuk menyeimbangkan antara kepentingan bisnis dan regulasi yang adil serta transparan.

Ke depan, penting untuk terus mengingat dan mengapresiasi figur seperti Oei Tiong Ham, bukan hanya sebagai legenda bisnis, tetapi juga sebagai simbol perjuangan dan dinamika ekonomi Indonesia di panggung global. Jejaknya yang abadi di Singapura juga menandai pengaruh besar diaspora Indonesia yang mengukir sejarah di luar negeri.

Untuk informasi lebih lengkap, kunjungi sumber asli artikel di CNBC Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad