Kesalahan Dasar Trump dalam Perang Iran yang Bikin AS Terjebak Selat Hormuz
Serangan Amerika Serikat ke Iran kini telah memasuki bulan keenam dengan biaya mencapai US$37,5 miliar atau sekitar Rp672 triliun. Meski sudah menghabiskan dana besar, Presiden Donald Trump belum pernah menyatakan kemenangan, dan Iran terus menunjukkan ketahanan yang kuat dalam konflik ini.
Bahkan banyak pengamat menilai perang yang juga melibatkan dukungan Israel ini kehilangan arah dan tujuan yang jelas. Hal ini menjadi sorotan utama pakar hukum internasional Amerika Serikat, Michael Schmitt, yang menyebut kesalahan paling mendasar dalam perang ini adalah memulai konflik tanpa tujuan politik yang jelas.
Kesalahan Strategis Terbesar dalam Operasi Epic Fury
Menurut Michael Schmitt dalam tulisannya di laman justsecurity.org tanggal 21 Juli, perang yang diberi nama Operasi Epic Fury awalnya mengejar banyak tujuan berbeda sekaligus. Masing-masing tujuan tersebut membutuhkan pendekatan militer dan strategis yang berbeda, sehingga membingungkan dan melemahkan efektivitas operasi secara keseluruhan.
Meski tujuan utama adalah melemahkan kemampuan militer regional Iran, langkah militer yang telah diambil ternyata tidak cukup untuk melumpuhkan kekuatan militer Iran secara signifikan. Iran masih mampu menutup Selat Hormuz dan melancarkan serangan terhadap pasukan serta mitra AS di kawasan tersebut.
"Langkah-langkah tersebut terbukti tidak cukup untuk melucuti Iran dari kemampuan militer residual yang signifikan," ujar Michael Schmitt, yang juga pensiunan jaksa militer Angkatan Udara AS.
Tantangan Besar dalam Perubahan Rezim Iran
Soal ambisi perubahan rezim Iran, Schmitt menegaskan bahwa hal ini membutuhkan kekuatan dan rencana operasional yang jauh lebih kompleks. Tidak hanya harus melumpuhkan Iran secara militer, tetapi juga harus memastikan otoritas pengganti yang stabil dan dapat diterima secara internasional.
Perubahan rezim tidak cukup hanya dengan menghilangkan pemimpin saat ini; yang terpenting adalah bagaimana mengelola hari setelahnya agar situasi politik dan diplomatik tetap stabil.
Tanpa rencana pengamanan yang jelas, perubahan rezim bisa berujung pada kekacauan dan justru memperkuat kelompok teroris proksi yang selama ini menjadi kekhawatiran AS. Saat ini, Operasi Epic Fury malah membuat Iran semakin bergantung pada strategi asimetris, seperti menggunakan operasi proksi untuk mengimbangi kekuatan militer konvensional yang melemah.
Respons Iran dan Implikasi Konflik
Konflik ini dianggap Iran sebagai ancaman eksistensial, terutama setelah pembunuhan pemimpin tertinggi mereka. Oleh sebab itu, Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke fasilitas minyak regional, mengaktifkan proksi di Lebanon dan Irak, serta operasi Houthi di Laut Merah. Bahkan Iran menguasai kembali Selat Hormuz, jalur vital perdagangan global yang sebelumnya berada di bawah kendali relatif bebas.
- Serangan rudal dan drone ke fasilitas minyak regional
- Aktivasi kelompok proksi di Lebanon dan Irak
- Operasi Houthi di Laut Merah
- Penutupan dan penguasaan Selat Hormuz
Menurut Schmitt, kegagalan AS untuk mengidentifikasi titik puncak konflik dan bertindak secara tepat membuat negara itu terperangkap dalam perang berkepanjangan yang sulit dilepaskan.
Fakta bahwa Iran kini menguasai Selat Hormuz menunjukkan bahwa bukan AS yang mengendalikan situasi, melainkan Iran yang semakin memperkuat posisinya di kawasan.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, perang AS melawan Iran yang sudah memasuki paruh kedua tahun 2026 ini menunjukkan betapa pentingnya memiliki tujuan politik dan strategi yang jelas sebelum memulai operasi militer. Tanpa visi yang terarah, sebuah negara adidaya sekalipun bisa terjebak dalam konflik berkepanjangan dengan biaya ekonomi dan politik yang sangat besar.
Lebih jauh, kegagalan AS dalam mengantisipasi respons Iran menandakan kurangnya pemahaman terhadap dinamika politik dan sosial di Timur Tengah yang kompleks. Iran tidak hanya mengandalkan kekuatan militer konvensional, tetapi juga jaringan proksi yang luas dan strategi asimetris yang sulit dilawan dengan cara tradisional.
Ke depan, penting untuk mengawasi bagaimana AS dan sekutunya akan menyesuaikan pendekatan mereka, apakah akan fokus pada diplomasi dan negosiasi atau terus melanjutkan operasi militer yang berisiko memperpanjang konflik tanpa akhir jelas. Situasi di Selat Hormuz menjadi indikator utama yang harus diwaspadai karena jalur ini sangat vital bagi perdagangan minyak dunia dan stabilitas ekonomi global.
Untuk informasi lebih lengkap dan perkembangan terbaru, pembaca dapat mengikuti laporan dari CNN Indonesia dan media internasional terkemuka lainnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0