Tradisi Bagi-Bagi Uang Saat Lebaran: Dari Indonesia hingga Dunia Islam Klasik

Mar 21, 2026 - 11:18
 0  5
Tradisi Bagi-Bagi Uang Saat Lebaran: Dari Indonesia hingga Dunia Islam Klasik

Lebaran bagi-bagi uang bukan hanya menjadi kebiasaan unik masyarakat Indonesia, tetapi merupakan tradisi yang memiliki akar sejarah mendalam dan berlangsung lintas wilayah dalam dunia Islam. Setiap menjelang hari raya Idulfitri, masyarakat Indonesia dikenal dengan tradisi memberi THR (Tunjangan Hari Raya) atau amplop berisi uang kepada anak-anak, kerabat, maupun orang yang lebih muda sebagai simbol berbagi kebahagiaan setelah berpuasa sebulan penuh.

Ad
Ad

Asal Usul Tradisi Bagi-bagi Uang di Indonesia

Menurut laporan antropolog Belanda, Snouck Hurgronje dalam bukunya Aceh di Mata Kolonialis (1906), masyarakat Indonesia telah lama menjalankan tradisi memberi hadiah saat Lebaran. Hal ini bukan hanya sebagai wujud kemurahan hati, tetapi juga sarana untuk menjaga tali silaturahmi dan menegaskan status sosial dalam komunitas. Tradisi ini menjadi bagian penting dalam mempererat hubungan kekeluargaan dan sosial dalam masyarakat.

Jejak Tradisi Bagi Uang dari Era Abbasiyah

Lebih jauh lagi, tradisi memberi uang saat Hari Raya Idulfitri memiliki akar yang jauh lebih tua, bahkan sampai pada masa Islam klasik. Pada masa Kekhalifahan Abbasiyah (750-1258 M) di Baghdad, pemberian hadiah berupa uang atau barang berharga menjadi bagian dari perayaan Idulfitri di kalangan istana. Khalifah Abbasiyah dikenal membagikan harta dan hadiah kepada pejabat, tentara, dan rakyat jelata sebagai simbol berkah sekaligus memperkuat ikatan sosial di masyarakat.

Tradisi ini kemudian menyebar ke wilayah kekuasaan Islam lain, seperti Mesir di bawah Dinasti Fatimiyah (909-1171 M). Dalam buku Unveiling The Structures of Eidiya (2020), disebutkan bahwa di Fatimiyah, pemberian uang dan hadiah kepada anak-anak serta kaum miskin saat Lebaran merupakan ritual yang menegaskan solidaritas sosial dan nilai keadilan.

Praktik Serupa di Dunia Islam Modern dan Asia Tenggara

Di era modern, tradisi yang serupa juga berlangsung di beberapa negara Muslim di Asia Tenggara. Di Malaysia dan Singapura, orang tua membagikan duit raya kepada anak-anak sebagai simbol berkah dan doa agar mereka tumbuh sehat. Di Singapura, amplop berwarna merah yang digunakan menunjukkan adanya akulturasi dengan tradisi Tionghoa yang mirip dengan Imlek.

Sementara itu, di Timur Tengah seperti Mesir dan Yordania, anak-anak menerima Eidiya, yaitu uang kecil dari kerabat saat Lebaran. Tujuan dari tradisi ini sama, yaitu untuk berbagi kebahagiaan dan mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.

Makna Universal Tradisi Bagi-bagi Uang Saat Lebaran

Dari paparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa tradisi memberi uang saat Lebaran bukan hanya kewajiban budaya di Indonesia, melainkan bagian dari praktik lintas zaman dan wilayah dalam dunia Islam yang memiliki makna mendalam sebagai simbol solidaritas, berkah, dan penguatan ikatan sosial.

  1. Mempererat tali silaturahmi: Menjadi sarana menjaga hubungan kekeluargaan dan sosial.
  2. Simbol berkah dan kebahagiaan: Menandai kemenangan setelah sebulan berpuasa.
  3. Menegaskan nilai sosial dan keadilan: Memberikan bantuan kepada yang lebih muda atau kurang mampu.
  4. Akulturasi budaya: Contoh seperti amplop merah di Singapura yang terinspirasi tradisi Tionghoa.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, tradisi bagi-bagi uang saat Lebaran bukan sekadar ritual tahunan, melainkan cerminan dari nilai-nilai sosial dan budaya yang telah terjaga selama berabad-abad. Menariknya, praktik ini menunjukkan bagaimana Islam tidak hanya menyebarkan ajaran agama, tetapi juga budaya sosial yang menekankan solidaritas dan keadilan.

Di tengah modernisasi dan perubahan gaya hidup, tradisi ini tetap relevan karena menguatkan ikatan sosial yang sering tergerus oleh individualisme. Selain itu, akulturasi tradisi seperti yang terjadi di Singapura memperlihatkan keluwesan budaya yang mampu menyatukan beragam etnis dan agama dalam harmoni.

Ke depan, penting bagi masyarakat untuk terus melestarikan tradisi ini dengan pemahaman makna yang mendalam, bukan sekadar rutinitas memberi uang. Pemerintah dan komunitas juga dapat memanfaatkan momentum Lebaran untuk mengedukasi nilai-nilai sosial yang terkandung dalam tradisi ini agar tidak hanya menjadi simbol materi, melainkan juga penguat solidaritas dan kepedulian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad