Trump Incar Mohammad Bagher Ghalibaf sebagai Calon Pemimpin Iran Masa Depan

Mar 24, 2026 - 21:30
 0  2
Trump Incar Mohammad Bagher Ghalibaf sebagai Calon Pemimpin Iran Masa Depan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan tengah mengincar Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf sebagai calon pemimpin masa depan Iran sekaligus mitra potensial dalam negosiasi politik. Langkah ini terungkap dalam laporan Politico yang dikutip Reuters pada Selasa, 24 Maret 2026.

Ad
Ad

Strategi AS dalam Menentukan Calon Pemimpin Iran

Menurut dua pejabat pemerintahan Trump yang diwawancarai, Ghalibaf dianggap sebagai sosok yang dapat diandalkan di antara beberapa figur politik Iran. Gedung Putih melihat Ghalibaf sebagai kandidat yang memiliki peluang besar untuk memimpin Iran dan membuka kemungkinan negosiasi lebih lanjut dengan AS di tengah ketegangan yang berlangsung.

"Dia adalah pilihan yang menarik," kata seorang pejabat pemerintahan AS yang dikutip Politico. "Dia salah satu yang tertinggi... Tapi kita harus menguji mereka, dan kita tidak bisa terburu-buru."

Namun, Gedung Putih belum memutuskan untuk fokus hanya pada Ghalibaf. AS masih mempertimbangkan beberapa kandidat lain, dengan tujuan menemukan sosok yang bersedia mencapai kesepakatan yang menguntungkan kedua belah pihak.

Profil Mohammad Bagher Ghalibaf dan Posisi Politiknya

Mohammad Bagher Ghalibaf merupakan salah satu tokoh non-ulama paling berpengaruh di Teheran. Sebagai Ketua Parlemen Iran, ia memiliki posisi strategis dalam politik Iran dan dikenal memiliki pengaruh yang signifikan. Ghalibaf dikenal sebagai mantan kepala polisi dan juga pernah menjadi wali kota Tehran.

Keunikan Ghalibaf sebagai figur non-ulama membuatnya berbeda dari banyak pemimpin Iran yang biasanya berlatar belakang ulama atau tokoh keagamaan, sehingga menjadikannya pilihan yang menarik bagi AS yang ingin menjalin dialog lebih pragmatis.

Kontroversi dan Pernyataan Resmi Ghalibaf

Meski ada laporan bahwa pemerintah Trump telah menghubungi Ghalibaf, sang Ketua Parlemen secara tegas membantah adanya negosiasi dengan AS. Dalam sebuah unggahan di platform X (sebelumnya Twitter), Ghalibaf menyebut klaim tersebut sebagai "berita palsu" yang sengaja disebarkan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta menghindari jebakan yang dibuat oleh AS dan Israel.

Situasi ini mencerminkan sensitivitas politik di Iran mengenai hubungan dengan Amerika Serikat, terutama mengingat tekanan dan sanksi yang terus berlangsung selama bertahun-tahun.

Perkembangan Terbaru dalam Hubungan AS-Iran

Baru-baru ini, Trump juga menunda ancaman untuk mengebom jaringan listrik dan infrastruktur energi Iran setelah mengklaim melakukan pembicaraan produktif dengan pejabat Iran yang penting, meski bukan dengan pemimpin tertinggi negara tersebut. Iran sendiri membantah klaim tersebut, menimbulkan ketidakpastian lebih lanjut dalam dinamika hubungan kedua negara.

  • Trump menilai Ghalibaf sebagai tokoh yang bisa diandalkan untuk bernegosiasi
  • Gedung Putih masih menguji beberapa kandidat sebelum berkomitmen
  • Ghalibaf menolak klaim negosiasi dengan AS dan menyebutnya sebagai "berita palsu"
  • Ketegangan AS-Iran masih tinggi dengan ancaman dan pembicaraan yang tidak jelas

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, langkah pemerintahan Trump yang mencoba menjadikan Mohammad Bagher Ghalibaf sebagai calon pemimpin Iran menunjukkan perubahan strategi AS yang lebih pragmatis dan berorientasi pada figur politik non-keagamaan. Ini mencerminkan upaya AS untuk mencari pendekatan baru dalam menstabilkan hubungan yang selama ini penuh ketegangan.

Namun, strategi ini juga sarat risiko mengingat sikap keras dari kalangan konservatif Iran yang mungkin menolak pengaruh Amerika dalam politik domestik mereka. Penolakan terbuka Ghalibaf terhadap klaim negosiasi menandakan bahwa proses diplomasi belum berjalan mulus dan masih penuh dengan intrik politik.

Ke depan, penting untuk mengawasi bagaimana dinamika internal Iran berkembang, terutama dengan munculnya figur seperti Ghalibaf yang berpotensi menjadi jembatan antara Iran dan AS. Jika berhasil, ini bisa menjadi titik balik dalam hubungan kedua negara yang telah lama membeku. Sebaliknya, kegagalan dialog bisa memperburuk ketegangan dan risiko konflik regional.

Untuk pembaca dan pengamat internasional, berita ini menandai fase baru yang harus diikuti secara seksama, karena dampaknya tidak hanya pada politik Iran-AS, tetapi juga pada kestabilan geopolitik di Timur Tengah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad