Indonesia Peringkat 3 Dunia Kasus Kusta dengan 16.000 Kasus Terbaru

Mar 11, 2026 - 17:40
 0  4
Indonesia Peringkat 3 Dunia Kasus Kusta dengan 16.000 Kasus Terbaru

Indonesia kembali menjadi sorotan dunia kesehatan karena menempati peringkat ketiga tertinggi kasus kusta secara global. Hal ini diungkapkan langsung oleh Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, dalam peringatan Hari Kusta Sedunia 2026 yang digelar di Kementerian Kesehatan, Jakarta, pada Rabu (11/3/2026).

Ad
Ad

Menurut Budi, Indonesia berada di bawah India dan Brasil dalam hal jumlah penderita kusta. Pada tahun lalu, tercatat ada sekitar 16.000 kasus kusta di Tanah Air. Jumlah ini menjadi bukti bahwa penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia.

Kasus Kusta dan Stigma Sosial di Indonesia

Kusta sering kali diasosiasikan dengan kemiskinan dan banyak masyarakat masih memandangnya sebagai penyakit yang membawa stigma berat. Budi menjelaskan bahwa stigma tersebut merupakan warisan masa lalu ketika penyebab kusta belum diketahui secara ilmiah.

"Banyak orang malu melaporkan atau menemukan kasus karena ada stigma. Padahal ini penyakit yang jelas penyebabnya dan bisa diobati," ujar Budi.

Secara medis, kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae, yang satu keluarga dengan bakteri penyebab tuberkulosis. Penyakit ini dapat menyebabkan bercak pada kulit dan gangguan sensasi, yang jika terlambat diobati dapat menimbulkan kecacatan permanen.

Strategi Kemenkes untuk Menekan Penularan Kusta

Kementerian Kesehatan Indonesia telah menyiapkan tiga strategi utama untuk mengatasi kasus kusta yang masih tinggi:

  1. Memperkuat surveilans dan penemuan kasus secara aktif. Fasilitas kesehatan didorong untuk melaporkan kasus kusta tanpa takut. Bahkan, puskesmas atau daerah yang berhasil menemukan kasus terbanyak akan diberi penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas upaya deteksi dini yang efektif.
  2. Memastikan pasien menjalani pengobatan hingga tuntas. Pengobatan kusta berlangsung sekitar enam bulan, menggunakan kombinasi antibiotik seperti rifampisin dan dapsone yang sudah terbukti efektif.
  3. Memberikan pencegahan pada kontak erat pasien. Melalui pemberian Single Dose Rifampicin Post-Exposure Prophylaxis (SDR-PEP), obat ini diberikan sekali kepada orang yang tinggal serumah atau memiliki kontak dekat dengan pasien untuk menghentikan rantai penularan.

Selain itu, di wilayah Indonesia Timur, pemerintah menambah pengawasan genomik untuk mendeteksi gen HLA-B13 yang berisiko menimbulkan reaksi serius terhadap obat Dapsone, yaitu Dapsone Hypersensitivity Syndrome (DHS).

Tantangan Terbesar: Menghapus Stigma dan Diskriminasi

Meski pengobatan dan upaya pencegahan sudah tersedia, tantangan terbesar saat ini adalah stigma sosial yang melekat pada penderita kusta. Budi menegaskan bahwa kusta bukanlah "kutukan" atau aib, melainkan penyakit yang bisa disembuhkan jika ditemukan dan diobati dengan cepat.

"Ini bukan kutukan Tuhan. Ini penyakit seperti penyakit lain yang harus dirawat. Justru makin cepat ditemukan, makin cepat sembuh," tambahnya.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, menyatakan bahwa peringatan Hari Kusta Sedunia menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan menghapus diskriminasi terhadap pasien dan penyintas kusta.

Tema global Hari Kusta Sedunia 2026 adalah "Leprosy is Curable, The Real Challenge is Stigma", sementara tema nasionalnya adalah "Kusta: Temukan Dini, Obati Tuntas, Akhiri Stigma". Dalam rangka memperingati hari ini, pemerintah menggelar berbagai kegiatan seperti Active Case Finding di daerah prioritas, lomba video edukasi, webinar bagi tokoh agama dan pendidik, serta penghargaan bagi puskesmas yang aktif menemukan kasus.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, fakta bahwa Indonesia menempati peringkat ketiga dunia kasus kusta menunjukkan bahwa masalah ini belum sepenuhnya tertangani dengan efektif, terutama dalam hal stigma sosial yang masih kuat. Penanganan kusta bukan hanya soal medis, melainkan juga soal edukasi masyarakat dan perubahan budaya yang mendalam.

Keberhasilan upaya pengendalian kusta di Indonesia akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan seluruh elemen masyarakat dalam menghilangkan stigma serta mempercepat deteksi dan pengobatan. Pemberian penghargaan kepada puskesmas yang aktif mendeteksi kasus merupakan langkah positif yang dapat meningkatkan semangat para tenaga kesehatan di lapangan.

Ke depan, penting bagi pemerintah untuk terus mengintegrasikan program deteksi kusta ke dalam layanan kesehatan dasar dan memperluas edukasi agar stigma yang melekat pada penyakit ini benar-benar terkikis. Perhatian khusus juga perlu diberikan pada wilayah dengan kasus tinggi dan risiko komplikasi obat, seperti di Indonesia Timur.

Dengan fokus yang tepat, Indonesia berpeluang besar menurunkan angka kasus kusta secara signifikan dan menghapus diskriminasi yang selama ini menjadi penghalang utama kesembuhan dan kualitas hidup penyintas.

Untuk itu, masyarakat dihimbau untuk terus mengikuti perkembangan dan mendukung program pemerintah dalam upaya eliminasi kusta di Indonesia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad