Larangan Hijab dan Pembatasan Perayaan Idulfitri di 2 Negara: Tajikistan dan Spanyol

Mar 14, 2026 - 11:04
 0  3
Larangan Hijab dan Pembatasan Perayaan Idulfitri di 2 Negara: Tajikistan dan Spanyol

Larangan hijab dan pembatasan perayaan Idulfitri kembali menjadi sorotan dunia setelah dua negara, Tajikistan dan Spanyol, mengambil langkah kontroversial yang membatasi kebebasan beragama umat Islam. Langkah ini memicu perdebatan mengenai toleransi, hak beragama, dan diskriminasi di tengah masyarakat multikultural.

Ad
Ad

Larangan Hijab dan Tradisi Islam di Tajikistan

Di Tajikistan, majelis tinggi parlemen atau Majlisi Milli secara resmi mengesahkan undang-undang yang melarang penggunaan "pakaian asing" termasuk jilbab dan pakaian tradisional Islam lainnya. Undang-undang ini disahkan pada 19 Juni 2024 di bawah kepemimpinan Ketua Majlisi Milli, Rustam Emomali.

Aturan tersebut juga melarang tradisi idgardak — kebiasaan anak-anak yang berkeliling meminta hadiah saat perayaan Idulfitri dan Iduladha. Larangan ini muncul di tengah meningkatnya pemakaian simbol-simbol Islam di masyarakat Tajikistan dalam beberapa tahun terakhir.

Selain itu, sejak 2007, Kementerian Pendidikan Tajikistan telah melarang penggunaan pakaian Islami di sekolah-sekolah negeri. Meski sekitar 95% hingga 98% penduduk Tajikistan beragama Islam, pemerintah berpendapat bahwa aturan ini diperlukan untuk menjaga identitas nasional dan menghindari pengaruh budaya asing yang dianggap mengancam persatuan.

Pembatasan Perayaan Keagamaan Muslim di Spanyol

Sementara itu, di Eropa, tepatnya di kota Jumilla, wilayah Murcia, Spanyol, pemerintah kota melarang penggunaan fasilitas publik seperti pusat komunitas dan arena olahraga untuk kegiatan keagamaan, sosial, maupun budaya yang tidak terkait langsung dengan pemerintah, termasuk perayaan Idulfitri dan Iduladha.

Keputusan ini diinisiasi oleh pemerintah kota yang dipimpin Partai Rakyat konservatif dan didukung oleh partai sayap kanan Vox. Mereka berdalih kebijakan ini bertujuan untuk melindungi nilai dan identitas budaya lokal.

Namun, kebijakan tersebut menuai kritik keras dari komunitas Muslim dan organisasi hak asasi di Spanyol. Mounir Benjelloun Andaloussi Azhari, presiden Federasi Organisasi Islam Spanyol, menyebut pelarangan ini sebagai Islamofobia dan diskriminatif. Pendapat senada disampaikan Mohamed El Ghaidouni, sekretaris Persatuan Komunitas Islam Spanyol, yang menilai kebijakan ini sebagai bentuk Islamofobia terinstitusionalisasi.

Partai Vox justru mempublikasikan dukungan mereka melalui media sosial dengan narasi yang menegaskan bahwa Spanyol harus tetap menjadi "tanah akar Kristen" dan menolak pengaruh budaya asing, mengacu pada periode sejarah Al Andalus.

Sementara itu, Ombudsman Spanyol meminta klarifikasi dari pemerintah kota Jumilla terkait bagaimana mereka akan menjamin hak beribadah umat Islam di ruang publik, mengingat sekitar 1.500 Muslim tinggal di kota tersebut dari total populasi sekitar 27.000 jiwa.

Implikasi dan Kontroversi Aturan Larangan Ini

  • Hak Beragama Terbatas: Larangan hijab dan pembatasan perayaan agama berpotensi melanggar prinsip kebebasan beragama yang dijamin dalam banyak konstitusi dan hukum internasional.
  • Diskriminasi Terhadap Minoritas: Kebijakan ini berpotensi memperkuat stigma negatif dan marginalisasi komunitas Muslim, baik di Tajikistan maupun Spanyol.
  • Ketegangan Sosial: Larangan tersebut dapat memperburuk hubungan antar kelompok masyarakat dan memicu konflik identitas di negara-negara dengan populasi Muslim signifikan maupun minoritas.
  • Reaksi Internasional: Organisasi hak asasi dan komunitas internasional kemungkinan akan mengkritik langkah-langkah yang dianggap membatasi kebebasan beragama ini.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, langkah pemerintah Tajikistan dan Spanyol ini mencerminkan ketegangan yang terus berlangsung antara kebijakan nasional yang berfokus pada identitas budaya dan kebutuhan untuk menghormati keberagaman serta hak asasi manusia. Larangan hijab dan pembatasan perayaan Idulfitri bukan hanya persoalan simbol agama, tetapi juga berkaitan dengan isu politik dan sosial yang lebih luas.

Di Tajikistan, walaupun mayoritas penduduknya Muslim, pemerintah tampak berusaha menekan ekspresi keagamaan yang dianggap mengancam konsensus nasional yang sekuler dan homogen. Sementara di Spanyol, kebijakan ini dipengaruhi oleh bangkitnya sentimen sayap kanan yang menolak pluralisme budaya dan agama, sebuah fenomena yang juga terjadi di beberapa negara Eropa lainnya.

Ke depan, publik dan pengamat harus mengawasi bagaimana kedua negara ini menyeimbangkan antara pelestarian budaya lokal dan penghormatan terhadap hak beragama. Jika tidak hati-hati, kebijakan semacam ini justru dapat memperburuk polarisasi sosial dan menimbulkan ketidakadilan bagi komunitas Muslim.

Terus ikuti perkembangan berita ini untuk memahami bagaimana dinamika kebebasan beragama dan identitas budaya akan berkembang di tingkat global.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad