UU PFII Dinilai Hambat Indonesia Gabung OECD: Celios Ungkap Risiko Besar

Jul 23, 2026 - 10:50
 0  1
UU PFII Dinilai Hambat Indonesia Gabung OECD: Celios Ungkap Risiko Besar

UU PFII (Perlindungan dan Pemberdayaan Informan dan Informasi) menghadirkan rezim khusus yang dinilai dapat menghambat aksesi Indonesia ke Organisasi untuk Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Hal ini diungkapkan oleh Celios, sebuah lembaga kajian hukum dan kebijakan, yang menyoroti potensi konflik antara UU PFII dengan standar internasional yang diterapkan OECD, khususnya dalam aspek pemberantasan penyuapan, transparansi pemilik manfaat (beneficial ownership), serta rezim administrasi dan kepatuhan hukum.

Ad
Ad

Rezim Khusus dalam UU PFII dan Implikasinya

UU PFII mengatur perlindungan bagi para informan dan informasi yang disampaikan, namun Celios mengkritisi adanya rezim khusus dalam undang-undang ini yang dinilai berpotensi bertentangan dengan prinsip-prinsip transparansi dan akuntabilitas global. Rezim ini dianggap dapat melemahkan mekanisme pelaporan dan pengungkapan informasi yang menjadi persyaratan dalam proses aksesi Indonesia ke OECD.

Secara khusus, Celios menyoroti tiga aspek krusial yang menjadi fokus OECD, yaitu:

  • Pemberantasan penyuapan: OECD menuntut standar tinggi dalam pencegahan korupsi dan penyuapan lintas negara. Rezim dalam UU PFII yang membatasi pengungkapan informasi bisa menghambat investigasi dan penindakan.
  • Transparansi beneficial ownership: Keterbukaan mengenai siapa pemilik manfaat sebenarnya dari perusahaan dan aset sangat penting bagi OECD. Rezim khusus UU PFII dianggap menghambat pengungkapan ini.
  • Rezim administrasi dan kepatuhan hukum: Standar OECD menuntut sistem yang solid dan transparan dalam administrasi kepatuhan hukum, yang dinilai terkendala oleh ketentuan UU PFII.

Potensi Dampak Terhadap Proses Aksesi Indonesia ke OECD

Indonesia telah berupaya untuk bergabung dengan OECD sebagai bagian dari strategi memperkuat posisi ekonomi dan reputasi internasional. Namun, UU PFII yang kurang selaras dengan standar OECD berpotensi menjadi penghambat utama dalam proses ini. Celios menegaskan bahwa jika hal ini tidak diperbaiki, Indonesia bisa menghadapi:

  1. Penundaan atau kegagalan aksesi ke OECD yang bisa berdampak negatif pada citra investasi dan kerjasama ekonomi internasional.
  2. Risiko reputasi terkait komitmen Indonesia terhadap transparansi dan pemberantasan korupsi.
  3. Hambatan dalam akses pasar global yang kini semakin menuntut standar kepatuhan yang ketat.

Menurut laporan lengkap yang dipublikasikan Hukumonline, rekomendasi utama Celios adalah revisi UU PFII agar lebih selaras dengan standar OECD, serta penguatan mekanisme transparansi dan akuntabilitas di tingkat nasional.

Analisis Redaksi

Menurut pandangan redaksi, isu ini bukan sekadar persoalan teknis hukum, melainkan cerminan tantangan besar Indonesia dalam menyesuaikan regulasi domestik dengan standar internasional yang semakin ketat. Rezim khusus yang justru membatasi transparansi dan pengungkapan informasi dapat menjadi boomerang dalam upaya Indonesia memperkuat integrasi globalnya.

Lebih jauh, kegagalan menyelaraskan UU PFII dengan standard OECD dapat menimbulkan efek domino yang merugikan, mulai dari menurunnya kepercayaan investor asing hingga melemahnya posisi tawar Indonesia di forum ekonomi internasional. Hal ini harus menjadi perhatian serius bagi pembuat kebijakan agar revisi undang-undang ini diprioritaskan.

Ke depan, publik dan pemangku kepentingan perlu memantau perkembangan revisi UU PFII dan proses aksesi OECD secara ketat. Sinergi antara kepentingan nasional dan standar internasional merupakan kunci keberhasilan agar Indonesia dapat meningkatkan daya saing dan reputasi globalnya secara berkelanjutan.

Untuk informasi lebih lanjut dan perkembangan terkini terkait kebijakan hukum dan regulasi di Indonesia, simak berita terbaru di Hukumonline dan media terpercaya lainnya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0
admin As a passionate news reporter, I am fueled by an insatiable curiosity and an unwavering commitment to truth. With a keen eye for detail and a relentless pursuit of stories, I strive to deliver timely and accurate information that empowers and engages readers.
Ad
Ad