APPMI Imbau Masyarakat Bijak Tidak Pamer Barang Mewah di Media Sosial
Jakarta – Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Jakarta mengeluarkan imbauan penting kepada masyarakat agar tidak berlebihan dalam memamerkan atau flexing barang mewah seperti tas di media sosial. Langkah ini diambil sebagai upaya menjaga kesehatan mental sekaligus mengedukasi tentang nilai sejati dari fesyen.
Ketua APPMI Jakarta, Dana Duriyatna, menjelaskan bahwa perilaku pamer barang mewah di media sosial merupakan fenomena pedang bermata dua. Ia menyebutkan bahwa di satu sisi, flexing dapat meningkatkan brand awareness dan menjadi promosi gratis bagi industri fesyen. Namun, di sisi lain, jika dilakukan tanpa didukung kemampuan finansial yang memadai, hal ini bisa berdampak negatif pada kesehatan mental konsumen.
"Flexing adalah pedang bermata dua. Bagi industri fesyen, ini bisa menjadi ajang promosi gratis karena meningkatkan brand awareness. Namun, jika didorong oleh gengsi semata tanpa kemampuan finansial, dampaknya bisa negatif bagi kesehatan mental konsumen," ujar Dana saat dihubungi ANTARA, Kamis (19/3/2026).
Dampak Negatif Flexing bagi Konsumen dan Keluarga
Dana menegaskan bahwa kebiasaan memamerkan barang mewah melalui media sosial dapat menimbulkan tekanan sosial yang mendorong individu memaksakan diri untuk membeli atau menyewa barang di luar kemampuan ekonomi. Hal ini berpotensi mengganggu keuangan keluarga dan menimbulkan stres.
Namun demikian, dari sisi industri fesyen, fenomena ini memberikan keuntungan berupa peningkatan popularitas merek yang menjadi pilihan konsumen. Meski begitu, Dana menekankan bahwa apresiasi terhadap karya dan kualitas jauh lebih penting dibandingkan sekadar memamerkan merek.
Fesyen Sebagai Sarana Kepercayaan Diri, Bukan Validasi Sosial
Dana juga mengingatkan bahwa esensi dari perayaan seperti Lebaran adalah kesederhanaan dan kemenangan spiritual. Oleh sebab itu, masyarakat diharapkan bisa lebih bijak dalam memilih gaya berbusana saat hari besar agar tidak terjebak dalam pola konsumsi berlebihan yang hanya didasari oleh gengsi sosial.
"Fesyen seharusnya menjadi sarana untuk meningkatkan kepercayaan diri, bukan sekadar alat untuk validasi sosial yang berlebihan," tegas Dana.
Perubahan Pola Konsumen: Dari Membeli ke Menyewa
Salah satu tren positif yang diamati APPMI adalah perubahan pola konsumsi masyarakat yang kini lebih kritis dan sadar akan nilai guna atau value for money. Konsumen kini lebih memilih untuk menyewa barang mewah daripada membeli, terutama untuk momen-momen tertentu seperti silaturahmi atau acara hari raya.
Menurut Dana, kebiasaan menyewa ini merupakan tanda kedewasaan konsumen dalam mengelola anggaran tanpa mengorbankan penampilan.
- Konsumen menghindari pembelian barang mahal yang hanya dipakai sekali atau dua kali.
- Menyewa memungkinkan mereka tetap tampil prima dengan biaya yang lebih terukur.
- Tren ini menunjukkan kesadaran finansial dan pemilihan gaya hidup yang lebih bijak.
Kontribusi Positif terhadap Industri Fesyen Berkelanjutan
Konsep menyewa barang mewah juga sejalan dengan prinsip ekonomi sirkular. Dengan menyewa, masa pakai produk dapat diperpanjang karena digunakan secara bergantian oleh banyak orang. Hal ini berdampak positif untuk mengurangi produksi berlebih yang kerap menimbulkan limbah fashion dan mikroplastik sebagai akibat dari proses produksi massal.
"Ini langkah positif menuju industri fesyen yang lebih hijau," pungkas Dana.
APPMI Jakarta juga mencatat bahwa merek-merek desainer lokal papan atas dan merek internasional ternama masih tetap menjadi primadona, terutama untuk acara formal seperti open house dan foto keluarga. Produk dengan detail signature dan bahan berkualitas tinggi sangat diminati.
Analisis Redaksi
Menurut pandangan redaksi, imbauan APPMI ini sangat relevan di tengah maraknya budaya pamer di media sosial yang seringkali menjadi sumber tekanan psikologis, terutama bagi generasi muda. Fenomena flexing yang dilakukan tanpa pertimbangan finansial bisa memicu masalah keuangan dan stres yang berkepanjangan.
Di sisi lain, pergeseran pola konsumen dari membeli menjadi menyewa adalah tanda positif bahwa masyarakat mulai lebih sadar akan nilai nyata dari produk fesyen dan dampak lingkungan yang ditimbulkan. Ini membuka peluang bagi industri fesyen untuk mengadopsi model bisnis yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Ke depan, masyarakat diharapkan tidak hanya memerhatikan tampilan luar, tetapi juga memahami nilai etis dan keberlanjutan dalam berfesyen. Kita perlu mengedukasi bahwa fesyen adalah ekspresi diri yang sehat, bukan alat untuk validasi sosial yang berlebihan.
Terus ikuti perkembangan tren fesyen dan panduan konsumsi yang bijak agar kita dapat menikmati industri yang tidak hanya modis tapi juga bertanggung jawab.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0